Hikmah di Pengujung Ramadan: Ibadah Puasa dan Zakat untuk Kemanusiaan
Senin, 08 April 2024 - 08:14 WIB
loading...
A
A
A
Ia menyebutkan, walaupun bukan beragama Islam, tetangganya ini sangat rajin sekali membersihkan masjid, apalagi di bulan Ramadan yang banyak kegiatan keagamaan. Selain itu, tetangganya ini juga aktif menawarkan diri untuk membantu membersihkan masjid jika ingin digunakan untuk ibadah salat Jumat.
“Berkaca dari berbagai kejadian yang membuat saya yakin tentang luar biasanya persatuan bangsa Indonesia ini, kita bisa simpulkan bahwa sebenarnya pada tataran masyarakat umum tidak ada masalah yang berarti. Tidak ada gesekan ataupun saling curiga, karena masyarakat kita terbiasa untuk hidup saling berdampingan,” tegas KH Zubaidi.
Demi menjaga keberlangsungan lingkungan masyarakat yang damai dan toleran, ia juga menghimbau untuk tetap waspada pada gerakan yang menyerukan ideologi atau pemahaman transnasional, yang biasanya menyelipkan aspek intoleransi dalam dakwah agamanya.
Selain itu, KH Zubaidi menerangkan tentang esensi ibadah zakat fitrah dan zakat mal, yang biasanya dilakukan umat Islam ketika bulan Ramadan. Pada pemanfaatannya, zakat dalam Islam ternyata memiliki aspek kepedulian yang sangat luas dan tidak dibatasi oleh dinding-dinding keagamaan.
Menurutnya, Islam adalah ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan ini ditunjukkan dengan penyaluran zakat yang tidak hanya khusus bagi sesama umat Islam saja. Walaupun beberapa ulama berbeda pandangan tentang ini, ada beberapa ahli tafsir dan ulama yang membolehkan zakat untuk disalurkan pada selain umat Islam, selama mereka memang dianggap sangat membutuhkan bantuan.
Zakat fitrah juga dianggap sebagai penyempurna amalan puasa di bulan Ramadan. KH Zubaidi berpendapat, jika dengan berzakat seseorang bisa mendapatkan kembali fitrahnya, maka yang selanjutnya perlu dilakukan adalah mempererat tali persaudaraan diantara sesama manusia.
Dengan begitu, umat Islam di Indonesia tidak hanya siap untuk mengokohkan persaudaraan pada sesama muslim atau ukhuwah islamiah, tapi mereka juga siap menguatkan persaudaraan sebangsa dan setanah air atau ukhuwah wathaniyah.
“Lebih jauh lagi, kita juga menjadi lebih siap dalam merajut persaudaraan dengan sesama anak manusia, atau yang biasa disebut dengan ukhuwah basyariyah. Mudah-mudahan dengan semangat kemanusiaan yang menggelora, perayaan Idul Fitri ini akan menjadikan kehidupan kita semakin bahagia, sejahtera, tentram dan semakin damai,” tandas KH Zubaidi.
“Berkaca dari berbagai kejadian yang membuat saya yakin tentang luar biasanya persatuan bangsa Indonesia ini, kita bisa simpulkan bahwa sebenarnya pada tataran masyarakat umum tidak ada masalah yang berarti. Tidak ada gesekan ataupun saling curiga, karena masyarakat kita terbiasa untuk hidup saling berdampingan,” tegas KH Zubaidi.
Demi menjaga keberlangsungan lingkungan masyarakat yang damai dan toleran, ia juga menghimbau untuk tetap waspada pada gerakan yang menyerukan ideologi atau pemahaman transnasional, yang biasanya menyelipkan aspek intoleransi dalam dakwah agamanya.
Selain itu, KH Zubaidi menerangkan tentang esensi ibadah zakat fitrah dan zakat mal, yang biasanya dilakukan umat Islam ketika bulan Ramadan. Pada pemanfaatannya, zakat dalam Islam ternyata memiliki aspek kepedulian yang sangat luas dan tidak dibatasi oleh dinding-dinding keagamaan.
Menurutnya, Islam adalah ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan ini ditunjukkan dengan penyaluran zakat yang tidak hanya khusus bagi sesama umat Islam saja. Walaupun beberapa ulama berbeda pandangan tentang ini, ada beberapa ahli tafsir dan ulama yang membolehkan zakat untuk disalurkan pada selain umat Islam, selama mereka memang dianggap sangat membutuhkan bantuan.
Zakat fitrah juga dianggap sebagai penyempurna amalan puasa di bulan Ramadan. KH Zubaidi berpendapat, jika dengan berzakat seseorang bisa mendapatkan kembali fitrahnya, maka yang selanjutnya perlu dilakukan adalah mempererat tali persaudaraan diantara sesama manusia.
Dengan begitu, umat Islam di Indonesia tidak hanya siap untuk mengokohkan persaudaraan pada sesama muslim atau ukhuwah islamiah, tapi mereka juga siap menguatkan persaudaraan sebangsa dan setanah air atau ukhuwah wathaniyah.
“Lebih jauh lagi, kita juga menjadi lebih siap dalam merajut persaudaraan dengan sesama anak manusia, atau yang biasa disebut dengan ukhuwah basyariyah. Mudah-mudahan dengan semangat kemanusiaan yang menggelora, perayaan Idul Fitri ini akan menjadikan kehidupan kita semakin bahagia, sejahtera, tentram dan semakin damai,” tandas KH Zubaidi.
(shf)
Lihat Juga :