Peristiwa Bulan Syawal: Rasulullah SAW Menikahi Sayyidah Aisyah
Selasa, 16 April 2024 - 15:05 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Indah Jelang Buka Puasa Sayyidah Aisyah
Dr. Mahmud Ṭahhan dalam “Taisīr Muṣṭalah al-Hadīts” (2004: 244) menempatkannya sebagai sahabat dalam urutan keempat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Jumlahnya: 2210. Pernikahan Nabi dengan Aisyah tak memiliki anak.
Sayyidah Aisyah lahir di Makkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permulaan zaman Hijrah. Sejak kecil ia telah dididik sesuai dengan tradisi Islam.
Ia menjadi istri Nabi selama 10 tahun. Masih muda sewaktu dinikahi Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya.
Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia.
Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia dianugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi.
Diingatnya secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah, dan diskusi Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain.
Baca juga: Tsarid, Menu Sehat yang Sering Dimasak Aisyah
Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam.
Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah.
Sepeninggal Nabi SAW beliau hidup sangat sederhana. Tunjangan yang diberikan para khalifah disumbangkan kepada fakir miskin. Beliau menjadi tempat bertanya bagi para sahabat Nabi Muhammad SAW .
"Ibu Utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi," tutur Jamil Ahmad dalam buku berjudul "Seratus Muslim Terkemuka" karya Jamil Ahmad (Pustaka Firdaus, 1996).
Dr. Mahmud Ṭahhan dalam “Taisīr Muṣṭalah al-Hadīts” (2004: 244) menempatkannya sebagai sahabat dalam urutan keempat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Jumlahnya: 2210. Pernikahan Nabi dengan Aisyah tak memiliki anak.
Sayyidah Aisyah lahir di Makkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permulaan zaman Hijrah. Sejak kecil ia telah dididik sesuai dengan tradisi Islam.
Ia menjadi istri Nabi selama 10 tahun. Masih muda sewaktu dinikahi Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya.
Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia.
Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia dianugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi.
Diingatnya secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah, dan diskusi Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain.
Baca juga: Tsarid, Menu Sehat yang Sering Dimasak Aisyah
Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam.
Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah.
Sepeninggal Nabi SAW beliau hidup sangat sederhana. Tunjangan yang diberikan para khalifah disumbangkan kepada fakir miskin. Beliau menjadi tempat bertanya bagi para sahabat Nabi Muhammad SAW .
"Ibu Utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi," tutur Jamil Ahmad dalam buku berjudul "Seratus Muslim Terkemuka" karya Jamil Ahmad (Pustaka Firdaus, 1996).
Lihat Juga :