Pertempuran Nahawand Iran: Raja Kisra Mati di Pelarian, Persia Tak Pernah Melawan Lagi
Selasa, 23 April 2024 - 14:48 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi kegembiraan Umar dengan terbebasnya Nahawand itu sudah melebihi warga Kufah. Ia sangat menghargai dan mengagumi ekspedisi ini, sehingga pemberian hagi para pejuang itu ditambah, setiap orang mendapat bonus seribu dirham di luar rampasan perang, sebagai penghormatan kepada mereka.
Betapa ia tak akan begitu gembira mengingat angkatan bersenjata Persia di Nahawand sudah mengumpulkan semua pahlawannya dari pelbagai penjuru negeri itu, pembesar-pembesar dan para pangeran Persia semua sudah mengikat janji akan mengusir semua pasukan Arab dari bumi mereka, biar mereka dalam keadaan terkulai kembali pulang ke Semenanjung! Tetapi sekarang pahlawan-pahlawan militer itu malah melarikan diri, para pembesar dan pangeran-pangeran bertualang mencari perlindungan akibat kekalahan mereka yang sangat memalukan itu. Tetapi sia-sia. Bahkan yang kini mereka saksikan di sana sini hanya pasukan Arab yang berkuasa, yang lebih berpengaruh.
Nama mereka dapat menggetarkan telinga dan jantung di seluruh wilayah Kisra, dari ujung utara ke ujung selatan, dari ujung barat sampai ke ujung timur.
Kita sudah melihat Hamazan dan penguasanya yang begitu cepat meminta damai karena ingin menyelamatkan diri tatkala melihat nasib Nahawand dan Firozan.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kesedihan Khalifah Umar Atas Syahidnya Nu'man
Ketika itu Abu Musa Asy'ari sebagai pemimpin pasukan Basrah yang terlibat pertempuran dengan Nahawand. Sesudah pergi meninggalkan kota itu ia singgah di Dinawar, tinggal lima hari di sana, dan baru terjadi pertempuran pada hari terakhir.
Pertempuran itu belum selesai mereka sudah cepat-cepat meminta damai, dan berakhir dengan persetujuan membayar kharaj dan jizyah.
Mereka meminta perlindungan untuk diri mereka, harta benda dan anak-anak mereka. Permintaan itu pun dikabulkan. Juga dengan pihak Sirawan Abu Musa mengadakan persetujuan seperti persetujuan dengan pihak Dinawar.
Juga persetujuan dengan wakil dari Saimarah untuk tidak mengadakan pertumpahan darah, melepaskan tawanan perang, memaafkan semua orang tanpa pilih bulu, membayar jizyah dan pajak tanah serta membuka semua distrik di Mihrajan Qazaf.
Huzaifah bin Yaman mengadakan persetujuan dengan Danbar orang Persia mengenai kota Mah, serta memberikan jaminan kepada penduduknya:
Betapa ia tak akan begitu gembira mengingat angkatan bersenjata Persia di Nahawand sudah mengumpulkan semua pahlawannya dari pelbagai penjuru negeri itu, pembesar-pembesar dan para pangeran Persia semua sudah mengikat janji akan mengusir semua pasukan Arab dari bumi mereka, biar mereka dalam keadaan terkulai kembali pulang ke Semenanjung! Tetapi sekarang pahlawan-pahlawan militer itu malah melarikan diri, para pembesar dan pangeran-pangeran bertualang mencari perlindungan akibat kekalahan mereka yang sangat memalukan itu. Tetapi sia-sia. Bahkan yang kini mereka saksikan di sana sini hanya pasukan Arab yang berkuasa, yang lebih berpengaruh.
Nama mereka dapat menggetarkan telinga dan jantung di seluruh wilayah Kisra, dari ujung utara ke ujung selatan, dari ujung barat sampai ke ujung timur.
Kita sudah melihat Hamazan dan penguasanya yang begitu cepat meminta damai karena ingin menyelamatkan diri tatkala melihat nasib Nahawand dan Firozan.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kesedihan Khalifah Umar Atas Syahidnya Nu'man
Ketika itu Abu Musa Asy'ari sebagai pemimpin pasukan Basrah yang terlibat pertempuran dengan Nahawand. Sesudah pergi meninggalkan kota itu ia singgah di Dinawar, tinggal lima hari di sana, dan baru terjadi pertempuran pada hari terakhir.
Pertempuran itu belum selesai mereka sudah cepat-cepat meminta damai, dan berakhir dengan persetujuan membayar kharaj dan jizyah.
Mereka meminta perlindungan untuk diri mereka, harta benda dan anak-anak mereka. Permintaan itu pun dikabulkan. Juga dengan pihak Sirawan Abu Musa mengadakan persetujuan seperti persetujuan dengan pihak Dinawar.
Juga persetujuan dengan wakil dari Saimarah untuk tidak mengadakan pertumpahan darah, melepaskan tawanan perang, memaafkan semua orang tanpa pilih bulu, membayar jizyah dan pajak tanah serta membuka semua distrik di Mihrajan Qazaf.
Huzaifah bin Yaman mengadakan persetujuan dengan Danbar orang Persia mengenai kota Mah, serta memberikan jaminan kepada penduduknya:
Lihat Juga :