Jadikan Akhirat Sebagai Cita-Cita Utama
Selasa, 18 Agustus 2020 - 21:13 WIB
loading...
A
A
A
Hubungan antara raghbah dengan rajaˈ, laksana hubungan antara lari dan takut. Orang yang mengharapkan sesuatu niscaya akan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Demikian pula orang yang takut, maka ia akan lari dari apa yang ditakutinya.
Artinya, suatu harapan tidak akan disebut harapan yang sebenarnya kalau tidak ditindak lanjuti dengan tindakan nyata. Dan optimisme yang baik InsyaAllah akan terbentuk melalui pembinaan yang benar tentang rajaˈ dan raghbah. Dan hal ini akan menjadi sempurna dengan tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.
Pembinaan anak-anak ke arah itu adalah dengan memberikan penjelasan akan janji-janji Allah Azza wa Jalla bagi orang-orang yang bertakwa. Anak juga perlu diberi penjelasan akan ancaman-ancaman-Nya bagi orang-orang yang durhaka, melalui proses pengajaran dan pendidikan berbasis Al-Qur’an.
Dalam pendidikan berbasis iman itulah, akan terbentuk anak yang saleh. Anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Seperti diketahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak yang sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta’ala , dan menjauhi larangan-laranganNya.
Anak yang saleh adalah anak yang tumbuh dalam naungan Dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta’ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa ta’ala , jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. (Baca juga : Pentingnya Menjaga Iffah di Zaman Penuh Fitnah )
Bagi orang tua , keuntungan memiliki anak yang saleh memiliki implikasi di akhirat. Amalan-amalan anak senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa ta’ala .
Wallahu’Alam
Artinya, suatu harapan tidak akan disebut harapan yang sebenarnya kalau tidak ditindak lanjuti dengan tindakan nyata. Dan optimisme yang baik InsyaAllah akan terbentuk melalui pembinaan yang benar tentang rajaˈ dan raghbah. Dan hal ini akan menjadi sempurna dengan tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.
Pembinaan anak-anak ke arah itu adalah dengan memberikan penjelasan akan janji-janji Allah Azza wa Jalla bagi orang-orang yang bertakwa. Anak juga perlu diberi penjelasan akan ancaman-ancaman-Nya bagi orang-orang yang durhaka, melalui proses pengajaran dan pendidikan berbasis Al-Qur’an.
Dalam pendidikan berbasis iman itulah, akan terbentuk anak yang saleh. Anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Seperti diketahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak yang sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta’ala , dan menjauhi larangan-laranganNya.
Anak yang saleh adalah anak yang tumbuh dalam naungan Dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta’ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa ta’ala , jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. (Baca juga : Pentingnya Menjaga Iffah di Zaman Penuh Fitnah )
Bagi orang tua , keuntungan memiliki anak yang saleh memiliki implikasi di akhirat. Amalan-amalan anak senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa ta’ala .
Wallahu’Alam
(wid)
Lihat Juga :