Adab dan Hak Suami Istri dalam Rumah Tangga Islam
Selasa, 07 Mei 2024 - 11:30 WIB
loading...
A
A
A
Dalam menafsirkan hadis: "Sesungguhnya Allah membenci alja'zhari al-jawwazh," dikatakan bahwa yang dimaksud ialah orang yang bersikap keras terhadap istri (keluarganya) dan sombong pada dirinya. Dan ini merupakan salah satu makna firman Allah: 'utul. Ada yang mengatakan bahwa lafal 'utul berarti orang yang kasar mulutnya dan keras hatinya terhadap keluarganya.
Keteladanan tertinggi bagi semua itu ialah Rasulullah SAW. Meski bagaimanapun besarnya perhatian dan banyaknya kesibukan beliau dalam mengembangkan dakwah dan menegakkan agama, memelihara jama'ah, menegakkan tiang daulah dari dalam dan memeliharanya dari serangan musuh yang senantiasa mengintainya dari luar, beliau tetap sangat memperhatikan para istrinya.
Beliau adalah manusia yang senantiasa sibuk berhubungan dengan Tuhannya seperti berpuasa, salat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, sehingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri ketika melakukan salat lail, dan menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya.
"Namun, sesibuk apa pun beliau tidak pernah melupakan hak-hak istri-istri beliau yang harus beliau penuhi," kata al-Qardhawi.
Jadi, aspek-aspek Rabbani tidaklah melupakan beliau terhadap aspek insani dalam melayani mereka dengan memberikan makanan ruhani dan perasaan mereka yang tidak dapat terpenuhi dengan makanan yang mengenyangkan perut dan pakaian penutup tubuh.
Pernyataan al-Qardhawi ini terkait dengan pertanyaan seorang perempuan yang mengeluhkan perlakuan suaminya. Sang suami tidak pelit memberi nafkah materi akan tetapi tidak menunjukkan sikap yang menyenangkan di depan istrinya.
"Saya tidak pernah mendapatkan wajah yang cerah, perkataan manis, dan perasaan hidup yang menenteramkan. Dia tidak begitu peduli dengan keberadaan saya dan kedudukan saya sebagai istri," ujarnya.
Baca juga: 7 Tanda Rumah Tangga Islami, Nomor 3 Jadi Orang Tua Teladan
Wallahu A'lam
Keteladanan tertinggi bagi semua itu ialah Rasulullah SAW. Meski bagaimanapun besarnya perhatian dan banyaknya kesibukan beliau dalam mengembangkan dakwah dan menegakkan agama, memelihara jama'ah, menegakkan tiang daulah dari dalam dan memeliharanya dari serangan musuh yang senantiasa mengintainya dari luar, beliau tetap sangat memperhatikan para istrinya.
Beliau adalah manusia yang senantiasa sibuk berhubungan dengan Tuhannya seperti berpuasa, salat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, sehingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri ketika melakukan salat lail, dan menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya.
"Namun, sesibuk apa pun beliau tidak pernah melupakan hak-hak istri-istri beliau yang harus beliau penuhi," kata al-Qardhawi.
Jadi, aspek-aspek Rabbani tidaklah melupakan beliau terhadap aspek insani dalam melayani mereka dengan memberikan makanan ruhani dan perasaan mereka yang tidak dapat terpenuhi dengan makanan yang mengenyangkan perut dan pakaian penutup tubuh.
Pernyataan al-Qardhawi ini terkait dengan pertanyaan seorang perempuan yang mengeluhkan perlakuan suaminya. Sang suami tidak pelit memberi nafkah materi akan tetapi tidak menunjukkan sikap yang menyenangkan di depan istrinya.
"Saya tidak pernah mendapatkan wajah yang cerah, perkataan manis, dan perasaan hidup yang menenteramkan. Dia tidak begitu peduli dengan keberadaan saya dan kedudukan saya sebagai istri," ujarnya.
Baca juga: 7 Tanda Rumah Tangga Islami, Nomor 3 Jadi Orang Tua Teladan
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :