Kisah Haji Rasulullah yang Ternyata Menjadi Pertama dan Terakhir
Jum'at, 10 Mei 2024 - 12:57 WIB
loading...
Kakbah tempo dulu. Foto/Ilustrasi: MEE
A
A
A
Kisah haji Rasulullah SAW yang ternyata menjadi pertama dan terakhir. Pada 25 Zulqaidah 10 Hijrah, Nabi Muhammad SAW berangkat haji dengan membawa semua isterinya. Beliau berangkat bersama ribuan umat Islam . Penulis-penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan rombongan besar umat Islam ini berangkat dibawa oleh iman. Jantung mereka penuh kegembiraan, penuh keikhlasan, menuju ke Baitullah yang suci.
Tatkala rombongan ini sampai di Dhu'l-Hulaifa, mereka berhenti dan tinggal selama satu malam di sana. Keesokan harinya, Rasulullah SAW sudah mengenakan pakaian ihram . Begitu juga anggota rombongan lainnya.
"Mereka semua masing-masing mengenakan kain selubung bagian bawah dan atas. Mereka berjalan semua dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian yang sangat sederhana. Dengan demikian mereka telah melaksanakan suatu persamaan dalam arti yang sangat jelas," tutur Haekal
Baca juga: Islamisasi Yaman dan Hadramaut Menjelang Haji Wada
Dengan seluruh kalbu Nabi Muhammad telah menghadapkan diri kepada Tuhan dengan mengucapkan talbiah yang diikuti pula oleh kaum Muslimin dari belakang:
"Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdu lillah wan-ni'matu wa'sy-syukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika."
("Kupenuhi panggilanMu, ya Allah, kupenuhi panggilanMu. Kupenuhi panggilanMu. Tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu. Puji, nikmat dan syukur kepunyaanMu. Kupenuhi panggilanMu, kupenuhi panggilanMu, tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu.")
Lembah-lembah dan padang sahara bersahut-sahutan menyambut seruan ini, semua turut berseru dengan penuh iman. Ribuan, ya puluhan ribu kafilah itu menyusuri jalan antara Madinat'r-Rasul dengan Kota Mesjid Suci.
Haekal menggambarkan, mereka berhenti pada setiap mesjid, menunaikan kewajiban sambil menyerukan talbiah, sebagai tanda taat dan syukur atas nikmat Allah. Dengan penuh kesabaran ia menantikan saat ibadah haji akbar itu tiba.
Dengan hati rindu, dengan jantung berdetak penuh cinta akan Baitullah. Padang-padang pasir seluruh jazirah, gunung-gunung, lembah-lembah dan padang tanaman yang segar menghijau, terkejut mendengarnya, dengan kumandangnya yang bersahut-sahutan; suatu hal yang belum pernah dikenal, sebelum Nabi yang ummi ini, Rasul dan Hamba Allah ini datang memberkahinya.
Baca juga: Haji Wada Momen Mengharukan Perpisahan Rasulullah SAW
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan rombongan besar umat Islam ini berangkat dibawa oleh iman. Jantung mereka penuh kegembiraan, penuh keikhlasan, menuju ke Baitullah yang suci.
Tatkala rombongan ini sampai di Dhu'l-Hulaifa, mereka berhenti dan tinggal selama satu malam di sana. Keesokan harinya, Rasulullah SAW sudah mengenakan pakaian ihram . Begitu juga anggota rombongan lainnya.
"Mereka semua masing-masing mengenakan kain selubung bagian bawah dan atas. Mereka berjalan semua dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian yang sangat sederhana. Dengan demikian mereka telah melaksanakan suatu persamaan dalam arti yang sangat jelas," tutur Haekal
Baca juga: Islamisasi Yaman dan Hadramaut Menjelang Haji Wada
Dengan seluruh kalbu Nabi Muhammad telah menghadapkan diri kepada Tuhan dengan mengucapkan talbiah yang diikuti pula oleh kaum Muslimin dari belakang:
"Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdu lillah wan-ni'matu wa'sy-syukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika."
("Kupenuhi panggilanMu, ya Allah, kupenuhi panggilanMu. Kupenuhi panggilanMu. Tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu. Puji, nikmat dan syukur kepunyaanMu. Kupenuhi panggilanMu, kupenuhi panggilanMu, tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu.")
Lembah-lembah dan padang sahara bersahut-sahutan menyambut seruan ini, semua turut berseru dengan penuh iman. Ribuan, ya puluhan ribu kafilah itu menyusuri jalan antara Madinat'r-Rasul dengan Kota Mesjid Suci.
Haekal menggambarkan, mereka berhenti pada setiap mesjid, menunaikan kewajiban sambil menyerukan talbiah, sebagai tanda taat dan syukur atas nikmat Allah. Dengan penuh kesabaran ia menantikan saat ibadah haji akbar itu tiba.
Dengan hati rindu, dengan jantung berdetak penuh cinta akan Baitullah. Padang-padang pasir seluruh jazirah, gunung-gunung, lembah-lembah dan padang tanaman yang segar menghijau, terkejut mendengarnya, dengan kumandangnya yang bersahut-sahutan; suatu hal yang belum pernah dikenal, sebelum Nabi yang ummi ini, Rasul dan Hamba Allah ini datang memberkahinya.
Baca juga: Haji Wada Momen Mengharukan Perpisahan Rasulullah SAW
Lihat Juga :