Kisah Khalifah Umar Menuju Pelestina: Mengendarai Unta dengan Pakaian Bertambal
Kamis, 06 Juni 2024 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
Dengan mengacu kepada Abu al-Galiyah ad-Dimasyiqi Ibn Kasir melukiskan perjalanan itu sebagai berikut: “Umar bin Khattab datang ke Jabiah melalui jalan Aelia dengan naik seekor unta kelabu, dan membiarkan kepalanya yang botak di bawah terik matahari, tidak mengenakan topi ataupun serban.
Kedua kakinya bergetar di kedua sisi unta itu tanpa sanggurdi. Alas duduknya pakaian bulu tebal yang kasar ketika berkendaraan dan kain bulu tebal itu juga sebagai lapik jika turun. Tempat barang-barangnya kain baju bergaris-garis hitam dan putih diisi dengan sabut.
Itulah tempat barangnya jika di alas kendaraan dan itu pula yang dijadikan bantal jika turun. Ia mengenakan baju kamis (gamis, kemeja) tebal terbuat dari kapas bergaris-garis yang sisinya sudah sobek.
Lalu katanya: "Panggilkan kepala rombongan itu."
Lalu al-Jalumas dipanggil. “Cucikan kamisku ini dan jahitkanlah yang sobek. Pinjami aku sehelai baju atau kamis.”
Lalu dibawakan kamis dari linen. “Apa ini?” tanyanya. Ini linen,” kata mereka. “Linen itu apa?” Dibukanya bajunya lalu dicuci dan ditambal kemudian diberikan kepadanya.
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Baju yang dari mereka dilepaskan dan ia mengenakan bajunya sendiri. Kata Jaluma kepadanya: "Anda Raja Arab; tidak pantas ada unta di kota ini. Kalau Anda memakai selain ini dan naik kuda akan tampak besar di mata orang Romawi."
Tetapi ia menjawab: "Allah telah memberi kemuliaan kepada kita dengan Islam. Kita tidak meminta ganti yang lain tanpa karunia Allah."
Ketika dibawakan seekor kuda beban dan di atasnya dihamparkan karpet tanpa pelana dan sanggurdi lalu ia menaikinya ia berkata: "Tahan, tahan. Saya kira sebelum ini ada orang yang menunggang setan! Kemudian didatangkan untanya dan dinaikinya.”
Pakaian Sutera
Kepada para komandan pasukan ia menulis surat agar mereka menemuinya pada hari yang disebutkan kepada mereka dan supaya ada yang menggantikan tugas mereka.
Kedua kakinya bergetar di kedua sisi unta itu tanpa sanggurdi. Alas duduknya pakaian bulu tebal yang kasar ketika berkendaraan dan kain bulu tebal itu juga sebagai lapik jika turun. Tempat barang-barangnya kain baju bergaris-garis hitam dan putih diisi dengan sabut.
Itulah tempat barangnya jika di alas kendaraan dan itu pula yang dijadikan bantal jika turun. Ia mengenakan baju kamis (gamis, kemeja) tebal terbuat dari kapas bergaris-garis yang sisinya sudah sobek.
Lalu katanya: "Panggilkan kepala rombongan itu."
Lalu al-Jalumas dipanggil. “Cucikan kamisku ini dan jahitkanlah yang sobek. Pinjami aku sehelai baju atau kamis.”
Lalu dibawakan kamis dari linen. “Apa ini?” tanyanya. Ini linen,” kata mereka. “Linen itu apa?” Dibukanya bajunya lalu dicuci dan ditambal kemudian diberikan kepadanya.
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Baju yang dari mereka dilepaskan dan ia mengenakan bajunya sendiri. Kata Jaluma kepadanya: "Anda Raja Arab; tidak pantas ada unta di kota ini. Kalau Anda memakai selain ini dan naik kuda akan tampak besar di mata orang Romawi."
Tetapi ia menjawab: "Allah telah memberi kemuliaan kepada kita dengan Islam. Kita tidak meminta ganti yang lain tanpa karunia Allah."
Ketika dibawakan seekor kuda beban dan di atasnya dihamparkan karpet tanpa pelana dan sanggurdi lalu ia menaikinya ia berkata: "Tahan, tahan. Saya kira sebelum ini ada orang yang menunggang setan! Kemudian didatangkan untanya dan dinaikinya.”
Pakaian Sutera
Kepada para komandan pasukan ia menulis surat agar mereka menemuinya pada hari yang disebutkan kepada mereka dan supaya ada yang menggantikan tugas mereka.
Lihat Juga :