Kisah Khalifah Umar Memasuki Yerusalem: Marah dengan Kuda yang Dianggap Sombong
Jum'at, 07 Juni 2024 - 15:58 WIB
loading...
Waktu berjalan kuda itu bertingkah dan gentanya bergemerincing. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada saat Khalifah Umar bin Khattab menyelesaikan perjanjian Palestina dengan pihak gereja di Jabiah, beliau pergi ke Baitul Maqdis ditemani oleh Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan kala itu ternyata kaki kuda Khalifah yang pincang belum sembuh.
Sebagai gantinya dibawakan seekor kuda beban. Tetapi waktu berjalan kuda itu bertingkah dan gentanya bergemerincing. Yang demikian ini tidak disukai oleh Khalifah Umar. Ia turun dan menampar muka kuda itu dengan mantelnya sambil berkata:
“Jelek sekali tingkah lakumu yang begitu angkuh!”
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Khalifah Umar memang tak pernah menunggang kuda beban, baik sebelum atau sesudah itu. Sementara kudanya diistirahatkan, ia masih tinggal selama beberapa hari lagi. Sesudah itu dinaikinya lagi dalam perjalanannya memasuki kota Baitulmukadas.
Ia disambut oleh Uskup Agung Severinus dan pembesar-pembesar kota. Ia sangat ramah terhadap mereka dan akrab. Kata- katanya dalam pembicaraan itu sangat memikat hati mereka. Segala yang diberikan kepada mereka berupa jaminan keamanan untuk diri mereka, keyakinan dan rumah-rumah ibadah mereka, memang mencerminkan kejujuran di wajahnya.
Kecintaan orang ini pada kebenaran dan keadilan yang mereka lihat jauh sekali jika dibandingkan dengan masa Kaisar dulu, yang bertangan besi dan serba menindas.
Selesai pertemuan sore itu mereka pulang untuk kemudian bertemu lagi keesokan harinya. Sesudah tinggal seorang diri, Khalifah Umar melakukan salat tanda bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang telah diberikan kepadanya.
Karunia mana yang lebih besar daripada menjadi seorang pembebas kota Masjid al aqsa dan sebagai pengganti Rasulullah dalam melakukan salat di tempat itu!
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan kala itu ternyata kaki kuda Khalifah yang pincang belum sembuh.
Sebagai gantinya dibawakan seekor kuda beban. Tetapi waktu berjalan kuda itu bertingkah dan gentanya bergemerincing. Yang demikian ini tidak disukai oleh Khalifah Umar. Ia turun dan menampar muka kuda itu dengan mantelnya sambil berkata:
“Jelek sekali tingkah lakumu yang begitu angkuh!”
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Khalifah Umar memang tak pernah menunggang kuda beban, baik sebelum atau sesudah itu. Sementara kudanya diistirahatkan, ia masih tinggal selama beberapa hari lagi. Sesudah itu dinaikinya lagi dalam perjalanannya memasuki kota Baitulmukadas.
Ia disambut oleh Uskup Agung Severinus dan pembesar-pembesar kota. Ia sangat ramah terhadap mereka dan akrab. Kata- katanya dalam pembicaraan itu sangat memikat hati mereka. Segala yang diberikan kepada mereka berupa jaminan keamanan untuk diri mereka, keyakinan dan rumah-rumah ibadah mereka, memang mencerminkan kejujuran di wajahnya.
Kecintaan orang ini pada kebenaran dan keadilan yang mereka lihat jauh sekali jika dibandingkan dengan masa Kaisar dulu, yang bertangan besi dan serba menindas.
Selesai pertemuan sore itu mereka pulang untuk kemudian bertemu lagi keesokan harinya. Sesudah tinggal seorang diri, Khalifah Umar melakukan salat tanda bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang telah diberikan kepadanya.
Karunia mana yang lebih besar daripada menjadi seorang pembebas kota Masjid al aqsa dan sebagai pengganti Rasulullah dalam melakukan salat di tempat itu!
Lihat Juga :