Penaklukan Yerusalem: Kisah Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja
Jum'at, 07 Juni 2024 - 16:05 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa orientalis berpendapat, bahwa Umar menolak salat di Gereja Anastasis itu karena di dalamnya ada gambar-gambar dan patung-patung, dan dia mengemukakan alasan seperti yang sudah kita sebutkan tadi dengan menyembunyikan sebab yang sebenarnya, dan untuk menjaga jangan sampai menyinggung perasaan Uskup Agung yang sudah tua itu.
Sudah tentu, kata Haekal, penafsiran ini tidak benar untuk suatu peristiwa sejarah yang begitu penting dalam hubungan antaragama yang beraneka macam di berbagai tempat di dunia ini.
Bukti ketidakbenaran ini, bahwa sesudah itu Umar pun datang mengunjungi Kanisat al-Mahd (Church of the Nativity) atau Gereja Buaian di Bethlehem, diantar oleh Severinus sesudah mengunjungi Gereja Anastasis. Tiba waktu salat ia pun salat di tempat itu.
Di situ juga ada patung-patung, gambar-gambar dan salib-salib seperti yang terdapat dalam Gereja Anastasis, bahkan lebih banyak lagi. Tetapi yang dikhawatirkannya jika salat di tempat demikian kelak dijadikan teladan oleh kaum Muslimin lalu mereka yang lebih berhak dikeluarkan dari sana.
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Setelah itu ia membuat perjanjian khusus dengan Uskup Agung itu agar gereja ini hanya untuk kaum Nasrani dan jangan ada dari pihak Muslimin yang memasukinya lebih dari satu orang untuk satu kali.
Menurut Haekal, dalam hal ini kita teringat pada Sa’d bin Abi Waqqas ketika menggunakan Ruang Sidang Kisra sebagai tempat salat untuk kaum Muslimin tanpa mengganggu patung-patung yang ada di dalamnya, padahal ia mampu membuat semua itu setelah Mada’in dibebaskan dan dia yang berkuasa di Istana itu.
Umar bin Khattab tidak akan merasa terganggu salat di gereja itu dengan segala gambar-gambar dan patung-patung yang ada di dalamnya.
Sebelum hijrah ke Madinah dulu Rasulullah salat di Kakbah yang masih penuh berhala dan patung-patung, selama itu tidak mengganggunya atau mengganggu seorang Muslim dan salatnya di tempat itu.
Tujuh tahun sesudah hijrah ia datang ke Makkah bersama 2000 kaum Muslimin melaksanakan umrah, lalu bertawaf di Kakbah sementara berhala-berhala masih banyak menghiasinya.
Bilal pun naik ke teratak Kakbah dan azan di sana untuk salat zuhur. Nabi Muhammad salat di situ bersama 2.000 Muslimin itu secara Islam.
Mengapa pula Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya tidak. akan salat di tempat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar dan patung-patung, selama ajaran Islam tekanannya pada keimanan kepada Allah, dan segala amalannya tergantung pada niat, barang siapa imannya benar dan semata-mata demi Allah, maka ke mana pun ia menghadap di sanalah kehadiran Allah.
Adapun Nabi Muhammad menghancurkan berhala-berhala di sekeliling dan di dalam Kakbah ketika pembebasan Makkah sehingga Baitullah itµ bersih dari segala macam agama kecuali agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya itu supaya berhala-berhala tersebut tidak mengingatkan orang pada masa jahiliah lalu timbul kerinduannya ke sana.
Sudah tentu, kata Haekal, penafsiran ini tidak benar untuk suatu peristiwa sejarah yang begitu penting dalam hubungan antaragama yang beraneka macam di berbagai tempat di dunia ini.
Bukti ketidakbenaran ini, bahwa sesudah itu Umar pun datang mengunjungi Kanisat al-Mahd (Church of the Nativity) atau Gereja Buaian di Bethlehem, diantar oleh Severinus sesudah mengunjungi Gereja Anastasis. Tiba waktu salat ia pun salat di tempat itu.
Di situ juga ada patung-patung, gambar-gambar dan salib-salib seperti yang terdapat dalam Gereja Anastasis, bahkan lebih banyak lagi. Tetapi yang dikhawatirkannya jika salat di tempat demikian kelak dijadikan teladan oleh kaum Muslimin lalu mereka yang lebih berhak dikeluarkan dari sana.
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Setelah itu ia membuat perjanjian khusus dengan Uskup Agung itu agar gereja ini hanya untuk kaum Nasrani dan jangan ada dari pihak Muslimin yang memasukinya lebih dari satu orang untuk satu kali.
Menurut Haekal, dalam hal ini kita teringat pada Sa’d bin Abi Waqqas ketika menggunakan Ruang Sidang Kisra sebagai tempat salat untuk kaum Muslimin tanpa mengganggu patung-patung yang ada di dalamnya, padahal ia mampu membuat semua itu setelah Mada’in dibebaskan dan dia yang berkuasa di Istana itu.
Umar bin Khattab tidak akan merasa terganggu salat di gereja itu dengan segala gambar-gambar dan patung-patung yang ada di dalamnya.
Sebelum hijrah ke Madinah dulu Rasulullah salat di Kakbah yang masih penuh berhala dan patung-patung, selama itu tidak mengganggunya atau mengganggu seorang Muslim dan salatnya di tempat itu.
Tujuh tahun sesudah hijrah ia datang ke Makkah bersama 2000 kaum Muslimin melaksanakan umrah, lalu bertawaf di Kakbah sementara berhala-berhala masih banyak menghiasinya.
Bilal pun naik ke teratak Kakbah dan azan di sana untuk salat zuhur. Nabi Muhammad salat di situ bersama 2.000 Muslimin itu secara Islam.
Mengapa pula Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya tidak. akan salat di tempat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar dan patung-patung, selama ajaran Islam tekanannya pada keimanan kepada Allah, dan segala amalannya tergantung pada niat, barang siapa imannya benar dan semata-mata demi Allah, maka ke mana pun ia menghadap di sanalah kehadiran Allah.
Adapun Nabi Muhammad menghancurkan berhala-berhala di sekeliling dan di dalam Kakbah ketika pembebasan Makkah sehingga Baitullah itµ bersih dari segala macam agama kecuali agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya itu supaya berhala-berhala tersebut tidak mengingatkan orang pada masa jahiliah lalu timbul kerinduannya ke sana.
Lihat Juga :