6 Capres Iran, Siapa Paling Kuat? Semua Loyalis Ayatollah Ali Khamenei
Selasa, 11 Juni 2024 - 16:12 WIB
loading...
A
A
A
Pezeshkian adalah satu-satunya kandidat yang mewakili politik reformis Iran, dan kandidat serupa lainnya tidak disetujui untuk mencalonkan diri.
Satu-satunya peluang keberhasilannya adalah jika suara konservatif terbagi antara Ghalibaf dan Jalili dan cukup banyak suara dari kaum reformis Iran.
Namun, gerakan reformis di Iran sudah lemah secara politik, dengan banyak warga Iran yang anti-pemerintah menolak berpartisipasi dalam sistem politik agar tidak melegitimasinya.
Bisakah perubahan politik diharapkan terjadi di Iran setelah pemilu?
Sedikitnya kandidat yang disetujui, dan aliran politik yang sebagian besar dianutnya, merupakan tanda-tanda bahwa Iran kemungkinan akan melanjutkan jalur politiknya setelah pemilu.
Baca juga: Bukan Presiden, Ini Sosok Pemimpin Tertinggi Iran
Pemilu ini diadakan pada saat yang sensitif bagi Iran, dengan krisis regional akibat perang Israel di Gaza yang mengancam akan menyeret Iran ke dalam konflik langsung.
Negara ini juga masih memiliki gerakan anti-pemerintah yang kuat, meskipun protes telah mereda setelah ditindak oleh negara. Protes dimulai pada tahun 2022 setelah kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang dituduh tidak mematuhi aturan berpakaian negara untuk perempuan.
Gerakan ini menjauhkan semakin banyak warga Iran dari sistem politik, yang kemungkinan akan semakin memperkuat sayap konservatif negara tersebut, setidaknya dalam jangka pendek.
Satu-satunya peluang keberhasilannya adalah jika suara konservatif terbagi antara Ghalibaf dan Jalili dan cukup banyak suara dari kaum reformis Iran.
Namun, gerakan reformis di Iran sudah lemah secara politik, dengan banyak warga Iran yang anti-pemerintah menolak berpartisipasi dalam sistem politik agar tidak melegitimasinya.
Bisakah perubahan politik diharapkan terjadi di Iran setelah pemilu?
Sedikitnya kandidat yang disetujui, dan aliran politik yang sebagian besar dianutnya, merupakan tanda-tanda bahwa Iran kemungkinan akan melanjutkan jalur politiknya setelah pemilu.
Baca juga: Bukan Presiden, Ini Sosok Pemimpin Tertinggi Iran
Pemilu ini diadakan pada saat yang sensitif bagi Iran, dengan krisis regional akibat perang Israel di Gaza yang mengancam akan menyeret Iran ke dalam konflik langsung.
Negara ini juga masih memiliki gerakan anti-pemerintah yang kuat, meskipun protes telah mereda setelah ditindak oleh negara. Protes dimulai pada tahun 2022 setelah kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang dituduh tidak mematuhi aturan berpakaian negara untuk perempuan.
Gerakan ini menjauhkan semakin banyak warga Iran dari sistem politik, yang kemungkinan akan semakin memperkuat sayap konservatif negara tersebut, setidaknya dalam jangka pendek.
(mhy)
Lihat Juga :