Iduladha Ajang Memperkuat Nilai Kemanusiaan Universal
Rabu, 19 Juni 2024 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
“Konteks lain dari berkurban adalah untuk membagikan kebahagiaan kepada sesama manusia, dalam bentuk daging kurban. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk bisa makan daging kapanpun mereka inginkan. Melalui hari Iduladha, setidaknya ada waktu satu kali dalam setahun, umat Islam bisa makan daging kambing ataupun sapi, khususnya bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi,” tambahnya.
Dalam suatu ayat Alquran, Allah berfirman bahwa Ia tidak membutuhkan daging dari hewan yang dikurbankan, melainkan yang sampai pada Allah adalah ketakwaan dari mereka yang melaksanakan kurban.
Nilai dari ketakwaan ini juga, menurut Syarif, menjadi penggerak umat Islam yang berkurban untuk mau berbagi pada sesamanya. Kemauan melaksanakan kurban juga menjadi penanda diakui atau tidaknya seseorang menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad.
“Ada suatu hadis dari Abu Hurairah, riwayatnya Abu Hurairah, nanti bisa kita temukan di Musnad Ahmad dan Sunan Ibn Majah, Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘orang yang mempunyai kecukupan rezeki untuk bisa berkurban, tapi dia tidak mau berkurban dan tidak peduli lagi keadaan orang di kanan-kirinya, dia mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, maka jangan dekat-dekat ke tempat salat kami, ke masjid kami," sebut Syarif.
Dia berharap agar perayaan kurban tidak dimaknai sempit hanya sebagai ritual tahunan semata. Kurban bukanlah pemenuhan keinginan ritual individu tertentu saja, namun menitikberatkan pula pada aspek kemanfaatan bagi manusia lainnya. Hari raya berkurban juga bukanlah ajang untuk saling pamer ukuran dan jumlah hewan yang dikurbankan.
“Seharusnya ada peningkatan pemahaman terhadap berkurban itu sendiri dari tahun ke tahun, sehingga tidak ada istilah ingin memamerkan kemampuan dalam membeli hewan kurban. Jangan lupa pula bahwa berkurban adalah ibadah yang sarat dengan aspek kepedulian sosial, dan selayaknya ada di atas kepentingan atau egoisme pribadi. Karenanya, berkurban seolah menjadi suatu pengikat atau tali sosial dalam hidup bermasyarakat,” imbuhnya.
Pembina Yayasan Raudhatul Mustariyah ini juga menjelaskan, perayaan kurban bisa mempererat ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah. Bentuk persaudaraan ini tidak lagi memandang agamanya, ataupun asal negaranya, tapi memaknainya dengan melihat bahwa siapapun dia, juga sesama manusia dan makhluknya Allah.
“Melalui perayaan Idul Adha atau berkurban, kita harus bahu membahu dalam menegakkan atau melakukan hal-hal yang baik, dan menghalau semua yang tidak baik, termasuk dalam hal ini adalah ideologi-ideologi yang merusak, yang mengajarkan kekerasan, tindakan radikal, intoleran dan lain sebagainya,” pungkasnya.
Dalam suatu ayat Alquran, Allah berfirman bahwa Ia tidak membutuhkan daging dari hewan yang dikurbankan, melainkan yang sampai pada Allah adalah ketakwaan dari mereka yang melaksanakan kurban.
Nilai dari ketakwaan ini juga, menurut Syarif, menjadi penggerak umat Islam yang berkurban untuk mau berbagi pada sesamanya. Kemauan melaksanakan kurban juga menjadi penanda diakui atau tidaknya seseorang menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad.
“Ada suatu hadis dari Abu Hurairah, riwayatnya Abu Hurairah, nanti bisa kita temukan di Musnad Ahmad dan Sunan Ibn Majah, Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘orang yang mempunyai kecukupan rezeki untuk bisa berkurban, tapi dia tidak mau berkurban dan tidak peduli lagi keadaan orang di kanan-kirinya, dia mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, maka jangan dekat-dekat ke tempat salat kami, ke masjid kami," sebut Syarif.
Dia berharap agar perayaan kurban tidak dimaknai sempit hanya sebagai ritual tahunan semata. Kurban bukanlah pemenuhan keinginan ritual individu tertentu saja, namun menitikberatkan pula pada aspek kemanfaatan bagi manusia lainnya. Hari raya berkurban juga bukanlah ajang untuk saling pamer ukuran dan jumlah hewan yang dikurbankan.
“Seharusnya ada peningkatan pemahaman terhadap berkurban itu sendiri dari tahun ke tahun, sehingga tidak ada istilah ingin memamerkan kemampuan dalam membeli hewan kurban. Jangan lupa pula bahwa berkurban adalah ibadah yang sarat dengan aspek kepedulian sosial, dan selayaknya ada di atas kepentingan atau egoisme pribadi. Karenanya, berkurban seolah menjadi suatu pengikat atau tali sosial dalam hidup bermasyarakat,” imbuhnya.
Pembina Yayasan Raudhatul Mustariyah ini juga menjelaskan, perayaan kurban bisa mempererat ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah. Bentuk persaudaraan ini tidak lagi memandang agamanya, ataupun asal negaranya, tapi memaknainya dengan melihat bahwa siapapun dia, juga sesama manusia dan makhluknya Allah.
“Melalui perayaan Idul Adha atau berkurban, kita harus bahu membahu dalam menegakkan atau melakukan hal-hal yang baik, dan menghalau semua yang tidak baik, termasuk dalam hal ini adalah ideologi-ideologi yang merusak, yang mengajarkan kekerasan, tindakan radikal, intoleran dan lain sebagainya,” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :