Grand Syaikh Al Azhar Ahmed Al Tayyed Silaturami ke Kantor PP Muhammadiyah
Jum'at, 12 Juli 2024 - 17:49 WIB
loading...
A
A
A
Kerja sama
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula tentang peningkatan kerja sama antara Muhammadiyah dan Al-Azhar. Kerja sama ini tidak hanya mencakup moderasi, tetapi juga membawa kemajuan umat. Perbedaan paham dan mazhab tidak menjadi kendala untuk bersatu dan maju bersama.
Haedar Nashir juga menekankan bahwa moderasi saja tidak cukup; perlu ada nilai-nilai agama yang membawa kemajuan peradaban. “Itulah yang kami maknai dari Al-Baqarah 143, umat tengahan yang menjadi saksi. Maksudnya adalah menjadi saksi dalam kontribusi kemajuan peradaban. Di mana umat Islam ada, di situ ia menjadi problem solver,” ujar Haedar.
Haedar mengatakan bahwa Grand Syekh juga menggarisbawahi hubungan erat antara Indonesia dan Mesir, yang dieratkan oleh Islam dan Al-Azhar. Organisasi-organisasi Islam berperan penting sebagai perekat persatuan.
“Selain perbedaan, kedepankan persatuan, karena dengan bersatu dan bersama kita bisa lebih maju,” tegasnya.
Baca juga: Grand Syekh Al Azhar Kunjungi PP Muhammadiyah Bahas Sejumlah Isu Penting
Dalam upaya mendukung pendidikan, Grand Syekh menambahkan tawaran beasiswa untuk Muhammadiyah. Al-Azhar setiap tahun terus menambah beasiswa untuk Indonesia, termasuk bagi kader Muhammadiyah. Ini menunjukkan komitmen tinggi terhadap pendidikan dan pengembangan ulama-ulama yang kuat dalam ilmu dirasah islamiyah, menguasai kehidupan, dan menjadi penerang bagi kemajuan zaman.
Selain kemajuan yang telah diperoleh, Haedar juga menyoroti bahwa umat Islam masih tertinggal di bidang ekonomi, yang berdampak pada konstelasi politik internasional dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.
“Penguasaan sains dan teknologi itu menjadi sebuah keniscayaan,” ujar Haedar Nashir.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula tentang peningkatan kerja sama antara Muhammadiyah dan Al-Azhar. Kerja sama ini tidak hanya mencakup moderasi, tetapi juga membawa kemajuan umat. Perbedaan paham dan mazhab tidak menjadi kendala untuk bersatu dan maju bersama.
Haedar Nashir juga menekankan bahwa moderasi saja tidak cukup; perlu ada nilai-nilai agama yang membawa kemajuan peradaban. “Itulah yang kami maknai dari Al-Baqarah 143, umat tengahan yang menjadi saksi. Maksudnya adalah menjadi saksi dalam kontribusi kemajuan peradaban. Di mana umat Islam ada, di situ ia menjadi problem solver,” ujar Haedar.
Haedar mengatakan bahwa Grand Syekh juga menggarisbawahi hubungan erat antara Indonesia dan Mesir, yang dieratkan oleh Islam dan Al-Azhar. Organisasi-organisasi Islam berperan penting sebagai perekat persatuan.
“Selain perbedaan, kedepankan persatuan, karena dengan bersatu dan bersama kita bisa lebih maju,” tegasnya.
Baca juga: Grand Syekh Al Azhar Kunjungi PP Muhammadiyah Bahas Sejumlah Isu Penting
Dalam upaya mendukung pendidikan, Grand Syekh menambahkan tawaran beasiswa untuk Muhammadiyah. Al-Azhar setiap tahun terus menambah beasiswa untuk Indonesia, termasuk bagi kader Muhammadiyah. Ini menunjukkan komitmen tinggi terhadap pendidikan dan pengembangan ulama-ulama yang kuat dalam ilmu dirasah islamiyah, menguasai kehidupan, dan menjadi penerang bagi kemajuan zaman.
Selain kemajuan yang telah diperoleh, Haedar juga menyoroti bahwa umat Islam masih tertinggal di bidang ekonomi, yang berdampak pada konstelasi politik internasional dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.
“Penguasaan sains dan teknologi itu menjadi sebuah keniscayaan,” ujar Haedar Nashir.
(mhy)
Lihat Juga :