Kepercayaan yang Berkembang Seputar Asyura: Tidak Memiliki Dalil yang Kuat
Rabu, 17 Juli 2024 - 10:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Rahasia Hari Asyura dan 15 Peristiwa Agung Dialami Para Nabi
Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Akan tetapi, bagi Muslim Suni kesucian hari ’Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini. Sebab, secara sederhana sudah diketahui keutamaan hari ’Asyura sudah dijelaskan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum kelahiran Husain ra.
Sebaliknya, merupakan suatu kemuliaan bagi Husain yang memperoleh syahid dalam pertempuran itu bertepatan dengan hari ’Asyura.
Anggapan-anggapan yang keliru lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain ra terbunuh pada bulan itu.
Akibat adanya anggapan yang salah ini, sebagian umat Islam ada yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala. Berduka atas peristiwa tersebut merupakan tradisi yang berkembang di kalangan Syi’ah. Mereka biasa menjadikannya sebagai hari berkabung dengan menangisi, memukul-mukul bahkan melukai wajah dan punggung mereka.
Bagi bertentangan muslim Suni, hal ini dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.
Baca juga: Kapal Nabi Nuh Terdampar di Bukit Judi di Bulan Asyura
Islam tidak mengajarkan sikap ekstrim dalam berkabung apalagi sampai melakukan hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW bersabda: "Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan berteriak-teriak (menangis) seperti teriakan orang-orang pada zaman jahiliyah." (HR. Al-Bukhari)
Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Akan tetapi, bagi Muslim Suni kesucian hari ’Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini. Sebab, secara sederhana sudah diketahui keutamaan hari ’Asyura sudah dijelaskan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum kelahiran Husain ra.
Sebaliknya, merupakan suatu kemuliaan bagi Husain yang memperoleh syahid dalam pertempuran itu bertepatan dengan hari ’Asyura.
Anggapan-anggapan yang keliru lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain ra terbunuh pada bulan itu.
Akibat adanya anggapan yang salah ini, sebagian umat Islam ada yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala. Berduka atas peristiwa tersebut merupakan tradisi yang berkembang di kalangan Syi’ah. Mereka biasa menjadikannya sebagai hari berkabung dengan menangisi, memukul-mukul bahkan melukai wajah dan punggung mereka.
Bagi bertentangan muslim Suni, hal ini dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.
Baca juga: Kapal Nabi Nuh Terdampar di Bukit Judi di Bulan Asyura
Islam tidak mengajarkan sikap ekstrim dalam berkabung apalagi sampai melakukan hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW bersabda: "Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan berteriak-teriak (menangis) seperti teriakan orang-orang pada zaman jahiliyah." (HR. Al-Bukhari)
(mhy)
Lihat Juga :