Tradisi Bubur Asyura: Orang Madura Bilang Tajin Sora
Rabu, 17 Juli 2024 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Sejak Sultan Agung
Menurut Japarudin, titik tolak aktivitas Asyura di dalam masyarakat Jawa, dimulai sejak upaya revolusioner yang dilakukan oleh Sultan Agung dalam memadukan sistem kalender Saka (penanggalan yang merupakan perpaduan dari Jawa asli dan Hindu) dengan sistem kalender Islam Hijriyah.
Sultan Agung raja kerajaan Mataram (1613-1645), melakukan perubahan sistem kalender ini terjadi dan dimulai pada tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, tepat pada tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah, atau tepat pada tanggal 8 Juli 1633 Masehi.
Baca juga: Kalender Jawa Islam: Perbedaan 1 Muharram dan 1 Suro
Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Dahulu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu.
Sedangkan, umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Kemudian sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut malam tahun baru Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharam, namun jika dibandingkan dengan penyambutan tahun baru Masehi (malam 1 Januari) maupun tahun baru Cina (Imlek), yang umumnya disambut dengan euforia dan berbagai kemeriahan, akan tetapi tahun baru Suro disambut dengan renungan instrospeksi diri dan berbagai ritual,satu aktivitas euforia yang berbeda.
Baca juga: Kisah Sultan Agung Selaraskan Penanggalan Kalender Jawa dan Islam di Mataram
Menurut Japarudin, titik tolak aktivitas Asyura di dalam masyarakat Jawa, dimulai sejak upaya revolusioner yang dilakukan oleh Sultan Agung dalam memadukan sistem kalender Saka (penanggalan yang merupakan perpaduan dari Jawa asli dan Hindu) dengan sistem kalender Islam Hijriyah.
Sultan Agung raja kerajaan Mataram (1613-1645), melakukan perubahan sistem kalender ini terjadi dan dimulai pada tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, tepat pada tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah, atau tepat pada tanggal 8 Juli 1633 Masehi.
Baca juga: Kalender Jawa Islam: Perbedaan 1 Muharram dan 1 Suro
Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Dahulu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu.
Sedangkan, umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Kemudian sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut malam tahun baru Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharam, namun jika dibandingkan dengan penyambutan tahun baru Masehi (malam 1 Januari) maupun tahun baru Cina (Imlek), yang umumnya disambut dengan euforia dan berbagai kemeriahan, akan tetapi tahun baru Suro disambut dengan renungan instrospeksi diri dan berbagai ritual,satu aktivitas euforia yang berbeda.
Baca juga: Kisah Sultan Agung Selaraskan Penanggalan Kalender Jawa dan Islam di Mataram
(mhy)
Lihat Juga :