Israel Mempersenjatai Pemukim Yahudi: Mengusir Warga Palestina dan Mencaplok Tanahnya
Minggu, 21 Juli 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Anggota Parlemen Israel Sebut Pemukim Yahudi Manusia Rendahan
Pada akhir Juni, Smotrich menyetujui lima pos terdepan Israel setelah keputusan Norwegia, Irlandia dan Spanyol yang secara simbolis mengakui negara Palestina berdampingan dengan Israel.
“Tanggapan terhadap pengakuan kenegaraan… merupakan sebuah unjuk perlawanan dan sebuah pesan [bahwa komunitas global] dapat mengambil keputusan yang mereka inginkan, namun Israellah yang memegang kendali,” kata Rahman kepada Al Jazeera.
Smotrich juga mengancam akan mencaplok Tepi Barat sebagai pembalasan atas “upaya sepihak” Otoritas Palestina untuk mendapatkan pengakuan bagi negara Palestina serta meminta surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional terhadap para pemimpin Israel yang terlibat dalam kejahatan perang di Gaza.
Rahman menambahkan bahwa Israel tidak akan berhenti mengusir warga Palestina di Tepi Barat atau melakukan “genosida” di Gaza kecuali komunitas global melakukan mobilisasi melawan Israel.
“Perlu ada mobilisasi besar-besaran untuk mengambil tindakan hukuman terhadap Israel. Itulah satu-satunya cara agar ada gerakan menuju resolusi politik,” katanya.
Baca juga: Pemukim Yahudi Ludahi Umat Kristen, Paus Fransiskus Murka
Pengungsi Palestina
Menurut Al Jazeera, tentara dan pemukim Israel telah membuat 1.285 warga Palestina pemilik tanah itu menjadi mengungsi. Mereka juga menghancurkan 641 bangunan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Setidaknya 15 wilayah pertanian Palestina dihancurkan, sementara warga sipil dari beberapa wilayah lainnya mengungsi akibat serangan pemukim Yahudi. Banyak dari para petani ini terpaksa mengungsi sementara di kota-kota terdekat di Tepi Barat.
Sejak Perjanjian Oslo tahun 1993, yang ditandatangani oleh pemimpin Palestina saat itu Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin di halaman Gedung Putih, Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga zona.
Pada akhir Juni, Smotrich menyetujui lima pos terdepan Israel setelah keputusan Norwegia, Irlandia dan Spanyol yang secara simbolis mengakui negara Palestina berdampingan dengan Israel.
“Tanggapan terhadap pengakuan kenegaraan… merupakan sebuah unjuk perlawanan dan sebuah pesan [bahwa komunitas global] dapat mengambil keputusan yang mereka inginkan, namun Israellah yang memegang kendali,” kata Rahman kepada Al Jazeera.
Smotrich juga mengancam akan mencaplok Tepi Barat sebagai pembalasan atas “upaya sepihak” Otoritas Palestina untuk mendapatkan pengakuan bagi negara Palestina serta meminta surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional terhadap para pemimpin Israel yang terlibat dalam kejahatan perang di Gaza.
Rahman menambahkan bahwa Israel tidak akan berhenti mengusir warga Palestina di Tepi Barat atau melakukan “genosida” di Gaza kecuali komunitas global melakukan mobilisasi melawan Israel.
“Perlu ada mobilisasi besar-besaran untuk mengambil tindakan hukuman terhadap Israel. Itulah satu-satunya cara agar ada gerakan menuju resolusi politik,” katanya.
Baca juga: Pemukim Yahudi Ludahi Umat Kristen, Paus Fransiskus Murka
Pengungsi Palestina
Menurut Al Jazeera, tentara dan pemukim Israel telah membuat 1.285 warga Palestina pemilik tanah itu menjadi mengungsi. Mereka juga menghancurkan 641 bangunan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Setidaknya 15 wilayah pertanian Palestina dihancurkan, sementara warga sipil dari beberapa wilayah lainnya mengungsi akibat serangan pemukim Yahudi. Banyak dari para petani ini terpaksa mengungsi sementara di kota-kota terdekat di Tepi Barat.
Sejak Perjanjian Oslo tahun 1993, yang ditandatangani oleh pemimpin Palestina saat itu Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin di halaman Gedung Putih, Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga zona.
Lihat Juga :