Jejak Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh: Syahid Menyusul 14 Anggota Keluarga Dekatnya
Rabu, 31 Juli 2024 - 15:53 WIB
loading...
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh. Foto: Press TV
A
A
A
Ismail Haniyeh , kepala biro politik gerakan perlawanan Palestina , Hamas , tewas dalam serangan pengecut rezim Israel di Teheran pada Rabu dini hari. Sebelumnya, ia lolos dari banyak upaya pembunuhan yang dilakukan Zionis.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan Haniyeh dan salah satu pengawalnya terbunuh dalam serangan yang menargetkan kediaman mereka di Teheran, Iran .
Hamas, sebagaimana dilansir Press TV bersumpah untuk membalas pembunuhan pengecut terhadap pemimpinnya, yang dinyatakannya “dilakukan sebagai akibat dari serangan Zionis".
Haniyeh berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, yang mengambil sumpah jabatan di parlemen pada hari Selasa.
Baca juga: Mengenang Pertemuan Ismail Haniyeh dengan Mantan Wapres JK
Dia adalah pemimpin Hamas kedua yang dibunuh oleh rezim Israel sejak Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, setelah pembunuhan Salah al-Arouri di Beirut selatan pada 2 Januari.
Haniyeh lahir di kamp pengungsi al-Shati di Jalur Gaza pada tahun 1962 dan belajar di Universitas Islam Gaza, di mana ia lulus dalam bidang sastra Arab pada tahun 1987.
Setelah bertahun-tahun melakukan aktivitas politik melawan pendudukan Israel, ia diangkat sebagai salah satu pemimpin senior Hamas pada tahun 1997, setelah itu ia secara bertahap naik pangkat menjadi pemimpin tertinggi.
Dia juga mengepalai kantor Ahmed Yassin , pendiri Hamas, setelah yang terakhir dibebaskan dari penjara Israel pada tahun 1997. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat.
Haniyeh berperan aktif dalam Intifada Pertama dan Kedua dan juga menjalani beberapa hukuman penjara. Dia juga selamat dari banyak upaya pembunuhan, termasuk bom bunuh diri pada tahun 2003.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan Haniyeh dan salah satu pengawalnya terbunuh dalam serangan yang menargetkan kediaman mereka di Teheran, Iran .
Hamas, sebagaimana dilansir Press TV bersumpah untuk membalas pembunuhan pengecut terhadap pemimpinnya, yang dinyatakannya “dilakukan sebagai akibat dari serangan Zionis".
Haniyeh berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, yang mengambil sumpah jabatan di parlemen pada hari Selasa.
Baca juga: Mengenang Pertemuan Ismail Haniyeh dengan Mantan Wapres JK
Dia adalah pemimpin Hamas kedua yang dibunuh oleh rezim Israel sejak Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, setelah pembunuhan Salah al-Arouri di Beirut selatan pada 2 Januari.
Haniyeh lahir di kamp pengungsi al-Shati di Jalur Gaza pada tahun 1962 dan belajar di Universitas Islam Gaza, di mana ia lulus dalam bidang sastra Arab pada tahun 1987.
Setelah bertahun-tahun melakukan aktivitas politik melawan pendudukan Israel, ia diangkat sebagai salah satu pemimpin senior Hamas pada tahun 1997, setelah itu ia secara bertahap naik pangkat menjadi pemimpin tertinggi.
Dia juga mengepalai kantor Ahmed Yassin , pendiri Hamas, setelah yang terakhir dibebaskan dari penjara Israel pada tahun 1997. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat.
Haniyeh berperan aktif dalam Intifada Pertama dan Kedua dan juga menjalani beberapa hukuman penjara. Dia juga selamat dari banyak upaya pembunuhan, termasuk bom bunuh diri pada tahun 2003.
Lihat Juga :