Israel dalam Bahaya: Pembunuhan Ismail Haniyeh Justru Memperkuat Kelompok Perlawanan
Selasa, 06 Agustus 2024 - 05:15 WIB
loading...
Pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh akan memperkuat kelompok-kelompok perlawanan di Palestina. Foto: Al Jazeera
A
A
A
Pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh akan memperkuat kelompok-kelompok perlawanan di Palestina sehingga membahayakan keamanan Israel dan stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Ibrahim Al-Marashi, Associate Professor Sejarah Timur Tengah di California State University San Marcos mengatakan belakangan ini Israel telah melakukan pembunuhan besar-besaran yang menewaskan beberapa pemimpin penting Hamas dan Hizbullah secara berurutan.
"Ada alasan untuk percaya bahwa pembunuhan-pembunuhan ini, yang saat ini dirayakan secara luas sebagai unjuk kekuatan, justru akan memperkuat kelompok perlawanan," tulis Ibrahim Al-Marashi dalam artikelnya berjudul "Israel’s assassinations of Hamas and Hezbollah leaders will backfire" yang dilansir Al Jazeera pada 1 Agustus 2024.
Anggota dewan penasihat program Keamanan Internasional dan Resolusi Konflik (ISCOR) di San Diego State University ini juga mencontohkan pembunuhan Ismail Haniyeh di ibu kota Iran , Teheran, membungkam suara moderat dalam kepemimpinan Hamas dan kemungkinan besar mendorong kelompok tersebut untuk mengambil sikap yang lebih keras dan tidak terlalu kompromistis terhadap Israel.
Baca juga: Mengenang Pertemuan Ismail Haniyeh dengan Mantan Wapres JK
Pemimpin sayap politik kelompok tersebut, Ismail Haniyeh, secara luas dipandang sebagai operator politik yang pragmatis. Dia telah merundingkan gencatan senjata di masa lalu dan berusaha mencapai gencatan senjata lain sebelum dia terbunuh.
"Kita telah melihat di masa lalu bagaimana pembunuhan tingkat tinggi dapat berdampak buruk pada kelompok tersebut," lanjutnya.
Dua puluh tahun yang lalu, pada bulan Maret 2004, Israel membunuh pendiri dan pemimpin spiritual Hamas yang sudah lanjut usia dan berkursi roda, Sheikh Ahmed Yassin , ketika ia meninggalkan sebuah masjid di Kota Gaza setelah salat subuh. Di bawah bimbingan Yassin, Hamas bersekutu dengan Arab Saudi dan memiliki akses terbatas terhadap persenjataan bermutu tinggi.
Setelah pembunuhan Yassin, Khalid Meshal, seorang tokoh yang lebih hawkish, mengambil kendali Hamas dan mendekatkan kelompok tersebut ke Iran. Berbeda dengan Saudi, Iran bersedia memberi Hamas desain roket dan teknologi militer lainnya.
Baca juga: Rentetan Peristiwa Sebelum pada Waktu Terbunuhnya Ismail Haniyeh
Ibrahim Al-Marashi, Associate Professor Sejarah Timur Tengah di California State University San Marcos mengatakan belakangan ini Israel telah melakukan pembunuhan besar-besaran yang menewaskan beberapa pemimpin penting Hamas dan Hizbullah secara berurutan.
"Ada alasan untuk percaya bahwa pembunuhan-pembunuhan ini, yang saat ini dirayakan secara luas sebagai unjuk kekuatan, justru akan memperkuat kelompok perlawanan," tulis Ibrahim Al-Marashi dalam artikelnya berjudul "Israel’s assassinations of Hamas and Hezbollah leaders will backfire" yang dilansir Al Jazeera pada 1 Agustus 2024.
Anggota dewan penasihat program Keamanan Internasional dan Resolusi Konflik (ISCOR) di San Diego State University ini juga mencontohkan pembunuhan Ismail Haniyeh di ibu kota Iran , Teheran, membungkam suara moderat dalam kepemimpinan Hamas dan kemungkinan besar mendorong kelompok tersebut untuk mengambil sikap yang lebih keras dan tidak terlalu kompromistis terhadap Israel.
Baca juga: Mengenang Pertemuan Ismail Haniyeh dengan Mantan Wapres JK
Pemimpin sayap politik kelompok tersebut, Ismail Haniyeh, secara luas dipandang sebagai operator politik yang pragmatis. Dia telah merundingkan gencatan senjata di masa lalu dan berusaha mencapai gencatan senjata lain sebelum dia terbunuh.
"Kita telah melihat di masa lalu bagaimana pembunuhan tingkat tinggi dapat berdampak buruk pada kelompok tersebut," lanjutnya.
Dua puluh tahun yang lalu, pada bulan Maret 2004, Israel membunuh pendiri dan pemimpin spiritual Hamas yang sudah lanjut usia dan berkursi roda, Sheikh Ahmed Yassin , ketika ia meninggalkan sebuah masjid di Kota Gaza setelah salat subuh. Di bawah bimbingan Yassin, Hamas bersekutu dengan Arab Saudi dan memiliki akses terbatas terhadap persenjataan bermutu tinggi.
Setelah pembunuhan Yassin, Khalid Meshal, seorang tokoh yang lebih hawkish, mengambil kendali Hamas dan mendekatkan kelompok tersebut ke Iran. Berbeda dengan Saudi, Iran bersedia memberi Hamas desain roket dan teknologi militer lainnya.
Baca juga: Rentetan Peristiwa Sebelum pada Waktu Terbunuhnya Ismail Haniyeh
Lihat Juga :