Model Istri Pejabat yang Menjadi Teladan Umat
Selasa, 25 Agustus 2020 - 17:31 WIB
loading...
A
A
A
Atas kebijakannya tersebut, Zubidah menemui suaminya, ar-Rasyid untuk menegur dan menyalahkannya. Lantas ar-Rasyid berkata kepadanya, “Celakalah kamu! Ini adalah urusan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga orang yang meminta pengayomanku di mana ia diikatkan ke leherku. Sedangkan kamu sudah mengetahui hubungan antara anakku (dari isteri yang lain) dan anakmu (dari hasil perkawinan dengannya), wahai Zubaidah. Anakmu tidak berkompeten untuk menjadi khalifah. Ia demikian berharga di kedua matamu sebagaimana berharga bagi kedua orang tuanya. Takutlah engkau kepada Allah! Demi Allah, sesungguhnya anakmu itu amat aku cintai. Akan tetapi ini adalah masalah khilafah, yang tidak layak kecuali bagi orang yang benar-benar kompeten. Kita bertanggung jawab terhadap manusia. Tentu kita sangat tidak berharap bertemu dengan Allah sementara kita memikul dosa-dosa mereka, dan kembali kepada-Nya dengan membawa dosa mereka pula. Beri aku kesempatan untuk mempelajari masalah ini.”
Sekalipun demikian, ar-Rasyid akhirnya menyerahkan jabatan putra mahkota (wakil khalifah) kepada putranya, Muhammad al-Amin, kemudian, al-Ma`mun.
Ketika al-Ma`mun memasuki kota Baghdad setelah kematian al-Amin di mana pada waktu itu terjadi perseteruan antara mereka berdua seputar kekhalifahan, Zubaidah menemuinya dan berkata kepadanya, “Aku ucapkan selamat atas jabatan khalifah ini di mana hati saya telah lebih dulu memberikan selamat atasnya sebelum aku melihatmu. Sekalipun aku telah kehilangan khalifah untuk selamanya (atas kematian putranya, red.), namun aku telah diberi ganti dengan anak yang bukan aku lahirkan sebagai khalifah. Tidak akan merugi orang yang memiliki orang sepertimu, dan tidak akan berat bagi seorang ibu yang mengulurkan tangannya kepadamu. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya, dan pelipur lara dengan apa yang digantikannya untukku.”
Maka berkatalah al-Ma`mun, “Sungguh, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan wanita seperti ini. Dengan perkataannya ini, apa lagi yang masih tersisa bagi para ahli balaghah dari kalangan laki-laki?”
Istri Pejabat yang Dermawan
Hidup bergelimang harta tak membuat Zubaidah sombong, atau bahkan lupa daratan. Sebaliknya, ia dikenal sebagai ahli fikih, ahli ibadah, dan memiliki 100 pelayan perempuan yang hafal Al-Qur'an. Setiap hari, ia menggilir mereka dengan menyelesaikan sepersepuluh Al-Qur'an. Kegiatan para pelayan Zubaidah melantunkan Al-Qur'an membuat istananya seolah seperti sarang lebah. Selalu terdengar alunan ayat-ayat Allah yang dilafazkan oleh ratusan pelayan.
Zubaidah juga pribadi yang amat dermawan. Kekayaan dan kedudukannya di bani Abbasiyah digunakan untuk beramal, yang konon tak tertandingi oleh kaum laki-laki. Zubaidah memanggil bendahara dan memerintahkan untuk menyediakan insinyur serta tukang bangunan dari seantero negeri. Mereka diperintahkan membuat saluran air sepanjang sepuluh kilometer dari Makkah hingga Hunain. Konon, Zubaidah menghabiskan sekitar 1.700.000 dinar pada masa itu untuk membangun saluran air tersebut. Sumber lain menyebutkan nilainya 1.500.000 dinar.
Tak hanya itu, Zubaidah juga menghabiskan dana sekitar 54 juta dirham untuk membuat perkampungan Darbu Zubaidah. Di sana, ia membuat jalan yang menghubungkan Irak dengan Makkah dan menggali sumur-sumur. (Baca juga : Hati-hati, Inilah Faktor-faktor yang Bisa Merusak Keistiqamahan )
Peran Zubaidah tak berhenti sampai di situ. Ia juga membangun banyak masjid, waduk untuk irigasi, dan jembatan di Wilayah Hijaz, Syam, dan Baghdad. Ia dan ar-Rasyid dinilai telah berjasa merekonstruksi dan merehabilitas kota Makkah. Atas jasa-jasanya sumur yang dibuat dinamakan sumur Zubaidah. Zubaidah meninggal di tahun 831 H.
Wallahu A'lam
Sekalipun demikian, ar-Rasyid akhirnya menyerahkan jabatan putra mahkota (wakil khalifah) kepada putranya, Muhammad al-Amin, kemudian, al-Ma`mun.
Ketika al-Ma`mun memasuki kota Baghdad setelah kematian al-Amin di mana pada waktu itu terjadi perseteruan antara mereka berdua seputar kekhalifahan, Zubaidah menemuinya dan berkata kepadanya, “Aku ucapkan selamat atas jabatan khalifah ini di mana hati saya telah lebih dulu memberikan selamat atasnya sebelum aku melihatmu. Sekalipun aku telah kehilangan khalifah untuk selamanya (atas kematian putranya, red.), namun aku telah diberi ganti dengan anak yang bukan aku lahirkan sebagai khalifah. Tidak akan merugi orang yang memiliki orang sepertimu, dan tidak akan berat bagi seorang ibu yang mengulurkan tangannya kepadamu. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya, dan pelipur lara dengan apa yang digantikannya untukku.”
Maka berkatalah al-Ma`mun, “Sungguh, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan wanita seperti ini. Dengan perkataannya ini, apa lagi yang masih tersisa bagi para ahli balaghah dari kalangan laki-laki?”
Istri Pejabat yang Dermawan
Hidup bergelimang harta tak membuat Zubaidah sombong, atau bahkan lupa daratan. Sebaliknya, ia dikenal sebagai ahli fikih, ahli ibadah, dan memiliki 100 pelayan perempuan yang hafal Al-Qur'an. Setiap hari, ia menggilir mereka dengan menyelesaikan sepersepuluh Al-Qur'an. Kegiatan para pelayan Zubaidah melantunkan Al-Qur'an membuat istananya seolah seperti sarang lebah. Selalu terdengar alunan ayat-ayat Allah yang dilafazkan oleh ratusan pelayan.
Zubaidah juga pribadi yang amat dermawan. Kekayaan dan kedudukannya di bani Abbasiyah digunakan untuk beramal, yang konon tak tertandingi oleh kaum laki-laki. Zubaidah memanggil bendahara dan memerintahkan untuk menyediakan insinyur serta tukang bangunan dari seantero negeri. Mereka diperintahkan membuat saluran air sepanjang sepuluh kilometer dari Makkah hingga Hunain. Konon, Zubaidah menghabiskan sekitar 1.700.000 dinar pada masa itu untuk membangun saluran air tersebut. Sumber lain menyebutkan nilainya 1.500.000 dinar.
Tak hanya itu, Zubaidah juga menghabiskan dana sekitar 54 juta dirham untuk membuat perkampungan Darbu Zubaidah. Di sana, ia membuat jalan yang menghubungkan Irak dengan Makkah dan menggali sumur-sumur. (Baca juga : Hati-hati, Inilah Faktor-faktor yang Bisa Merusak Keistiqamahan )
Peran Zubaidah tak berhenti sampai di situ. Ia juga membangun banyak masjid, waduk untuk irigasi, dan jembatan di Wilayah Hijaz, Syam, dan Baghdad. Ia dan ar-Rasyid dinilai telah berjasa merekonstruksi dan merehabilitas kota Makkah. Atas jasa-jasanya sumur yang dibuat dinamakan sumur Zubaidah. Zubaidah meninggal di tahun 831 H.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :