Quraish: Syukur Selalu Dilakukan di Mana Saja, di Dunia dan Akhirat
Rabu, 07 Agustus 2024 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Sesudah makan beliau mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim".
Ketika akan tidur, beliau berdoa: Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah, bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi."
Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam berbagai situasi dan kondisi.
Quraish menjelaskan apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia mendapat cobaan atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,
Baca juga: Syukur dengan Perbuatan: Begini Perintah Allah kepada Nabi Daud
"Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata."
Menurut Quraish, kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah sedemikian banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.
Di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya, bahwa pasti ada hikmah di belakang cobaan itu, karena Semua perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.
Ketika akan tidur, beliau berdoa: Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah, bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi."
Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam berbagai situasi dan kondisi.
Quraish menjelaskan apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia mendapat cobaan atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,
Baca juga: Syukur dengan Perbuatan: Begini Perintah Allah kepada Nabi Daud
"Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata."
Menurut Quraish, kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah sedemikian banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.
Di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya, bahwa pasti ada hikmah di belakang cobaan itu, karena Semua perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.
(mhy)
Lihat Juga :