Quraish: Syukur Selalu Dilakukan di Mana Saja, di Dunia dan Akhirat
Rabu, 07 Agustus 2024 - 14:43 WIB
loading...
Prof Quraish Shihab. Foto: Ist
A
A
A
Dalam al-Quran Surat Saba' ayat 1 Allah Taala berfirman: "Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menjelaskan ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT harus disyukuri, baik dalam kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak.
Salah satu ucapan syukur di akhirat adalah dari mereka yang masuk surga yang berkata: "Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberikan kami petunjuk." ( QS Al-A'raf [7] : 43).
Baca juga: Cara Syukur dengan Hati, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan kapan dan di mana saja di dunia dan di akhirat.
Menurutnya, dalam konteks syukur dalam kehidupan dunia ini, Al-Quran menegaskan bahwa Allah SWT menjadikan malam silih berganti dengan siang, agar manusia dapat menggunakan waktu tersebut untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur" ( QS Al-Furqan [25] : 62).
Dalam surat Ar-Rum (30) : 17-18 Allah memerintahkan: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu berada di waktu zuhur."
Segala aktivitas manusia --siang dan malam-- hendaknya merupakan manifestasi dari syukurnya. Syukur dengan lidah dituntut saat seseorang merasakan adanya nikmat Ilahi. Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW tidak jemu-jemunya mengucapkan, "Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi.
Saat bangun tidur beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan (membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan."
Atau membaca: "Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku mengingat-Nya."
Baca juga: Syukur dengan Lidah: Begini Makna Alhamdulillah
Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca: "Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan bumi dan segala isinya ..."
Ketika berpakaian beliau membaca:"Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa kemampuan dan kekuatan (dari diriku)."
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menjelaskan ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT harus disyukuri, baik dalam kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak.
Salah satu ucapan syukur di akhirat adalah dari mereka yang masuk surga yang berkata: "Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberikan kami petunjuk." ( QS Al-A'raf [7] : 43).
Baca juga: Cara Syukur dengan Hati, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan kapan dan di mana saja di dunia dan di akhirat.
Menurutnya, dalam konteks syukur dalam kehidupan dunia ini, Al-Quran menegaskan bahwa Allah SWT menjadikan malam silih berganti dengan siang, agar manusia dapat menggunakan waktu tersebut untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur" ( QS Al-Furqan [25] : 62).
Dalam surat Ar-Rum (30) : 17-18 Allah memerintahkan: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu berada di waktu zuhur."
Segala aktivitas manusia --siang dan malam-- hendaknya merupakan manifestasi dari syukurnya. Syukur dengan lidah dituntut saat seseorang merasakan adanya nikmat Ilahi. Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW tidak jemu-jemunya mengucapkan, "Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi.
Saat bangun tidur beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan (membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan."
Atau membaca: "Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku mengingat-Nya."
Baca juga: Syukur dengan Lidah: Begini Makna Alhamdulillah
Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca: "Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan bumi dan segala isinya ..."
Ketika berpakaian beliau membaca:"Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa kemampuan dan kekuatan (dari diriku)."
Lihat Juga :