Inilah Orang yang Semua Usahanya Disyukuri Allah Taala
Rabu, 07 Agustus 2024 - 15:46 WIB
loading...
Al-Quran berbicara menyangkut siapa dan bagaimana upaya yang harus dilakukan sehingga wajar disyukuri. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Al-Quran berbicara menyangkut siapa dan bagaimana upaya yang harus dilakukan sehingga wajar disyukuri. Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menjelaskan dua kali kata masykur dalam arti yang disyukuri terulang dalam Al-Quran.
Pertama adalah: "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri (dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yang itu (yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi" ( QS Al-Isra' [17] : 18-20).
Kedua adalah: "Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri". ( QS Al-Insan [76] : 22).
Baca juga: Cara Syukur dengan Hati, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Quraish menjelaskan isyarat "ini" dalam ayat di atas adalah berbagai kenikmatan surgawi yang dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat 12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).
Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang dua macam usaha yang lahir dari dua macam visi manusia. Ada yang visinya terbatas pada "kehidupan sekarang", yakni selama hidup di dunia ini, tidak memandang jauh ke depan.
"Kehidupan sekarang" diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya, boleh jadi juga "sekarang" berarti masa hidupnya di dunia yang mengantarkannya bervisi hanya puluhan tahun. Ayat di atas menjanjikan bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah.
Akan tetapi setelah itu mereka akan merasa jenuh dan mandek, karena keterbatasan visi tidak lagi mendorongnya untuk berkreasi.
Nah, ketika itulah lahir rutinitas yang pada akhirnya melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi pada tingkat
perorangan atau masyarakat. Kejenuhan dengan segala dampak negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan bukti nyata dari kebenaran hakikat yang diungkapkan Al-Quran di atas.
Baca juga: Syukur dengan Lidah: Begini Makna Alhamdulillah
Pertama adalah: "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri (dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yang itu (yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi" ( QS Al-Isra' [17] : 18-20).
Kedua adalah: "Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri". ( QS Al-Insan [76] : 22).
Baca juga: Cara Syukur dengan Hati, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Quraish menjelaskan isyarat "ini" dalam ayat di atas adalah berbagai kenikmatan surgawi yang dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat 12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).
Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang dua macam usaha yang lahir dari dua macam visi manusia. Ada yang visinya terbatas pada "kehidupan sekarang", yakni selama hidup di dunia ini, tidak memandang jauh ke depan.
"Kehidupan sekarang" diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya, boleh jadi juga "sekarang" berarti masa hidupnya di dunia yang mengantarkannya bervisi hanya puluhan tahun. Ayat di atas menjanjikan bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah.
Akan tetapi setelah itu mereka akan merasa jenuh dan mandek, karena keterbatasan visi tidak lagi mendorongnya untuk berkreasi.
Nah, ketika itulah lahir rutinitas yang pada akhirnya melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi pada tingkat
perorangan atau masyarakat. Kejenuhan dengan segala dampak negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan bukti nyata dari kebenaran hakikat yang diungkapkan Al-Quran di atas.
Baca juga: Syukur dengan Lidah: Begini Makna Alhamdulillah
Lihat Juga :