Mengapa Takut Mati? Hidup di Akhirat Jauh Lebih Baik Daripada Kehidupan Dunia
Sabtu, 07 September 2024 - 10:56 WIB
loading...
Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. Ilustrasi: Ist
A
A
A
BANYAK faktor yang membuat seseorang enggan mati . Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian . Mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti.
Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menyebut betapa sebagian dari faktor-faktor tersebut pada hakikatnya bukan pada tempatnya.
Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman
Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia" ( QS Al-Dhuha [93] : 4).
Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan.
Mereka yang mati mendadak maupun yang normal, semuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya roh dan jasad," ujarnya.
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi SAW- seperti "duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras."
Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) ( QS An-Nazi'at [79] : 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut roh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan.
Baca juga: Manfaat Memperbanyak Mengingat Kematian
Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur.
Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menyebut betapa sebagian dari faktor-faktor tersebut pada hakikatnya bukan pada tempatnya.
Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman
Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia" ( QS Al-Dhuha [93] : 4).
Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan.
Mereka yang mati mendadak maupun yang normal, semuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya roh dan jasad," ujarnya.
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi SAW- seperti "duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras."
Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) ( QS An-Nazi'at [79] : 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut roh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan.
Baca juga: Manfaat Memperbanyak Mengingat Kematian
Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur.
Lihat Juga :