Pra Islam: Bangsa Arab Terkenal dengan Kefasihan Lidahnya
Senin, 09 September 2024 - 20:02 WIB
loading...
Ciri khas manusia ideal bangsa Arab adalah kefasihan lidah, pengetahuan tentang senjata dan kemahiran menunggang kuda. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada zaman pra-Islam, posisi perempuan Bangsa Arab paling jelek dibanding perempuan lain di dunia. Mereka dianggap sebagai benda mati yang tidak mempunyai hak apapun, termasuk hak untuk dihormati.
"Seseorang bisa mengawiniperempuan berapa pun dia suka, dan dapat menceraikannya kapan saja dia mau," tulis Dr H Syamruddin Nasution M.Ag dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013).
Bila seorang ayah diberi tahu bahwa anaknya yang lahir seorang perempuan , dia sedih bercampur marah. Kadang-kadang bayi itu dikubur hidup-hidup.
Kehidupan yang keras dan menantang mendorong mereka untuk memiliki anak laki-laki saja. Walaupun begitu, tidak semua perempuan mereka bunuh.
Baca juga: Bangsa Arab Pra-Islam: Orang Badwi Menyembah Pohon
Lembaga perkawinan tidak teratur. Perempuan boleh menikah lebih dari seorang suami (poliandri). Istri memperbolehkan suaminya berhubungan dengan wanita lain untuk memperoleh keturunan.
Ibu tiri kadang-kadang dikawini anak tirinya. Saudara laki-laki terkadang mengawini saudari perempuannya. Gadis-gadis nakal terbiasa pergi ke daerah-daerah pinggiran untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain.
Perempuan tidak memiliki hak waris baik dari suaminya, ayah maupun keluarganya. Memiliki hamba sahaya menjadi salah satu ciri masyarakat Arab. Mereka memperlakukan hamba sahaya secara tidak manusiawi. Karena mereka memiliki hak penuh atas hidup matinya, fisik maupun mentalnya.
"Kehidupan jahiliyah sesungguhnya manifestasi dari kehidupan barbarisme, karena ketimpangan sosial, penganiayaan, meminum-minuman keras, perjudian, pelacuran dan pembunuhan merupakan pemandangan yang biasa dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari," ujar Syamruddin Nasution.
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
"Seseorang bisa mengawiniperempuan berapa pun dia suka, dan dapat menceraikannya kapan saja dia mau," tulis Dr H Syamruddin Nasution M.Ag dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013).
Bila seorang ayah diberi tahu bahwa anaknya yang lahir seorang perempuan , dia sedih bercampur marah. Kadang-kadang bayi itu dikubur hidup-hidup.
Kehidupan yang keras dan menantang mendorong mereka untuk memiliki anak laki-laki saja. Walaupun begitu, tidak semua perempuan mereka bunuh.
Baca juga: Bangsa Arab Pra-Islam: Orang Badwi Menyembah Pohon
Lembaga perkawinan tidak teratur. Perempuan boleh menikah lebih dari seorang suami (poliandri). Istri memperbolehkan suaminya berhubungan dengan wanita lain untuk memperoleh keturunan.
Ibu tiri kadang-kadang dikawini anak tirinya. Saudara laki-laki terkadang mengawini saudari perempuannya. Gadis-gadis nakal terbiasa pergi ke daerah-daerah pinggiran untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain.
Perempuan tidak memiliki hak waris baik dari suaminya, ayah maupun keluarganya. Memiliki hamba sahaya menjadi salah satu ciri masyarakat Arab. Mereka memperlakukan hamba sahaya secara tidak manusiawi. Karena mereka memiliki hak penuh atas hidup matinya, fisik maupun mentalnya.
"Kehidupan jahiliyah sesungguhnya manifestasi dari kehidupan barbarisme, karena ketimpangan sosial, penganiayaan, meminum-minuman keras, perjudian, pelacuran dan pembunuhan merupakan pemandangan yang biasa dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari," ujar Syamruddin Nasution.
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Lihat Juga :