Kisah Abdul Muthalib Bernazar Mengorbankan Salah Satu Anaknya
Rabu, 11 September 2024 - 16:31 WIB
loading...
Ia bernazar, jika memperoleh anak laki-laki sepuluh orang maka seorang di antaranya akan disembelih sebagai korban. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Abdul Muthalib bin Hasyim menjadi penguasa Kakbah setelah Al-Muthalib wafat pada tahun 520 M. Hanya saja, Naufal saudara al-Muthalib menentang estafeta kepemimpinan itu. Abdul Muthalib terpaksa mencari bantuan ke Yatsrib sebanyak 80 orang pemuda untuk mendukung pemerintahannya.
Dr Syamruddin Nasution, M.Ag. dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) mengatakan penolakan Naufal itu, mendorong Abdul Muthalib ingin mempunyai anak laki-laki yang banyak agar dapat memberi bantuan kepadanya, kapan diperlukan di setiap waktu dan tempat.
Oleh karena itu ia bernazar , jika memperoleh anak laki-laki sepuluh orang maka seorang di antaranya akan disembelih sebagai korban.
Menurut Syamruddin dalam kisah lain disebutkan bahwa yang mendorong Abdul Muthalib berkeinginan mempunyai banyak anak karena beliau bertugas menyediakan air untuk jemaah haji yang datang ke Makkah .
Baca juga: Begini Gambaran Cinta Abdul Muthalib kepada Nabi Muhammad SAW
Air itu diambil dari sumur-sumur yang jauh letaknya dari Makkah, lalu disimpan dalam bak-bak untuk diminum jemaah haji yang datang dari penjuru Jazirah Arab . Pekerjaan ini adalah pekerjaan berat yang memerlukan banyak pembantu.
Selain itu, ada keinginan Abdul Muthalib hendak menggali sumur Zamzam yang kala itu mengering. Ide Abdul Muthalib ini tak mendapat sambutan yang baik dari orang Quraisy.
Itulah yang mendorong ia bernazar sekiranya dianugerahi tuhan sepuluh orang anak laki-laki, yang dapat membantunya dalam pekerjaannya, seorang di antaranya akan disembelih di dekat Kakbah sebagai korban kepada dewa-dewa orang Quraisy.
Doa Abdul Muthalib terkabul. Ia memperoleh 10 orang anak laki-laki. Oleh karena itu dia bermaksud melaksanakan janjinya.
Ketika nazar itu hendak dilaksanakan, dia mempersiapkan pisau yang tajam untuk menyembelih salah satu dari anak-anaknya. Undian penyembelihan ternyata jatuh kepada anaknya yang bernama Abdullah, anak kesayangannya, yang kelak menjadi ayah Rasulullah SAW.
Dr Syamruddin Nasution, M.Ag. dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) mengatakan penolakan Naufal itu, mendorong Abdul Muthalib ingin mempunyai anak laki-laki yang banyak agar dapat memberi bantuan kepadanya, kapan diperlukan di setiap waktu dan tempat.
Oleh karena itu ia bernazar , jika memperoleh anak laki-laki sepuluh orang maka seorang di antaranya akan disembelih sebagai korban.
Menurut Syamruddin dalam kisah lain disebutkan bahwa yang mendorong Abdul Muthalib berkeinginan mempunyai banyak anak karena beliau bertugas menyediakan air untuk jemaah haji yang datang ke Makkah .
Baca juga: Begini Gambaran Cinta Abdul Muthalib kepada Nabi Muhammad SAW
Air itu diambil dari sumur-sumur yang jauh letaknya dari Makkah, lalu disimpan dalam bak-bak untuk diminum jemaah haji yang datang dari penjuru Jazirah Arab . Pekerjaan ini adalah pekerjaan berat yang memerlukan banyak pembantu.
Selain itu, ada keinginan Abdul Muthalib hendak menggali sumur Zamzam yang kala itu mengering. Ide Abdul Muthalib ini tak mendapat sambutan yang baik dari orang Quraisy.
Itulah yang mendorong ia bernazar sekiranya dianugerahi tuhan sepuluh orang anak laki-laki, yang dapat membantunya dalam pekerjaannya, seorang di antaranya akan disembelih di dekat Kakbah sebagai korban kepada dewa-dewa orang Quraisy.
Doa Abdul Muthalib terkabul. Ia memperoleh 10 orang anak laki-laki. Oleh karena itu dia bermaksud melaksanakan janjinya.
Ketika nazar itu hendak dilaksanakan, dia mempersiapkan pisau yang tajam untuk menyembelih salah satu dari anak-anaknya. Undian penyembelihan ternyata jatuh kepada anaknya yang bernama Abdullah, anak kesayangannya, yang kelak menjadi ayah Rasulullah SAW.
Lihat Juga :