Mengingat Kematian : Ajal Datang Sesuai Kebiasaan Hidupnya
Minggu, 06 Oktober 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul khatimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah. Hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya, tanpa menjaga lisannya, pandangannya ia umbar, hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati, malas dan meninggalkan ibadah, lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah.
Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan.
‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia.
Begitulah, ahli ibadah ini, yakni Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali, lalu Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali, dan Aamir bin Abdillah Az-Zubair saat sakaratul maut masih memenuhi panggilan adzan ke masjid. Semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini (kematian), yakni waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi.
Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba. Tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat, semuanya terjadi tiba-tiba. Sebagaimana manusia menjalani hidupnya, demikianlah kondisinya tatkala ajal menjemputnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Munafiqun : 11)
NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda :
“Ingatlah kematian dalam salatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam salatnya, maka ia akan memperbagus salatnya. Salatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan salat yang lainnya.” (hadis Hasan, Riwayat Ad Dailami)
Baca juga: Mengingat Kematian, Bekal sebelum Ajal Menjemput
Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan.
Kisah-kisah Datangnya Ajal
Dirangkum dalam Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi dan Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi dan dalam kitab lainnya. ada kisah-kisah yang menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idris (190 H).
Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur : Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali”.Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)
Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali”.Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair.
Ketika Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia.
Begitulah, ahli ibadah ini, yakni Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali, lalu Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali, dan Aamir bin Abdillah Az-Zubair saat sakaratul maut masih memenuhi panggilan adzan ke masjid. Semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini (kematian), yakni waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi.
Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba. Tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat, semuanya terjadi tiba-tiba. Sebagaimana manusia menjalani hidupnya, demikianlah kondisinya tatkala ajal menjemputnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَآءَ اَجَلُهَا ۗ وَا للّٰهُ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Munafiqun : 11)
NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda :
“Ingatlah kematian dalam salatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam salatnya, maka ia akan memperbagus salatnya. Salatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan salat yang lainnya.” (hadis Hasan, Riwayat Ad Dailami)
Baca juga: Mengingat Kematian, Bekal sebelum Ajal Menjemput
(wid)
Lihat Juga :