Ini Mengapa Kaum Rafidah Sangat Membenci Malaikat Jibril
Rabu, 09 Oktober 2024 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Ayatullah Khomeini juga memandang martabat para imam itu lebih tinggi dari para malaikat dan para nabi. Tentang ini ia berkata: "Salah satu pengetahuan yang kita maklumi adalah bahwa imam-imam kita mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada malaikat dan Rasul."
Khomeini juga menegaskan, ajaran imam itu seperti ajaran Al-Quran, mutlak dan universal, tidak untuk suku bangsa tertentu, tetapi untuk semua orang sepanjang masa sampai akhir zaman. Ajaran itu, demikian Khomeini, harus direalisasikan dan diikuti tanpa reserve.
Sementara sang imam sedang tiada (gaib), maka wakilnya (naib al-imam), memiliki sifat 'ishmah seperti para imam.
Dalam buku "Aqa'id al-Imamiyyah", Muhammad Ridha al-Muzhaffar, tokoh aliran Rafidah, berkata: "Menurut akidah kita, mujtahid adalah pengganti imam selama ia belum hadir. la memiliki kewenangan yang dimiliki sang imam. Menolaknya sama dengan menolak imam, dan itu sama saja dengan menolak Allah.
Baca juga: Sunah Menurut Kaum Syiah Rafidah yang Gemar Memaki Sahabat Nabi
Paham Raj'ah
Selanjutnya, kaum Rafidhah juga meyakini Muhammad ibn Hasan al-Askari, sebagai imam terakhir yang sedang ditunggu kehadirannya. Ia bergelar al-Imam al-Mahdi al-Gha`ib al-Muntazhar.
Menurut mereka, dia hidup, tidak mati. Sementara ini, sang imam bersembunyi di tempat persembunyiannya. la akan muncul di akhir zaman ketika dunia sudah sarat dengan kezaliman dan ketidakadilan. Dengan kehadirannya, dunia akan damai, adil, dan sejahtera.
Mereka juga meyakini kebangkitan sekelompok pendukung imam di saat kehadirannya. Mereka bangkit dari pusara, untuk membantu dan menolong Imam Mahdi sekaligus menyaksikan kekuasaannya, supaya mendapat kebahagiaan.
Kaum Rafidah juga meyakini kebangkitan sekelompok musuh Imam Mahdi. Mereka bangkit dari kubur untuk mendapat hukuman di bawah pemerintah Imam Mahdi. Raj'ah ini hanya berlaku untuk imam-imam kaum Rafidah saja.
Khomeini juga menegaskan, ajaran imam itu seperti ajaran Al-Quran, mutlak dan universal, tidak untuk suku bangsa tertentu, tetapi untuk semua orang sepanjang masa sampai akhir zaman. Ajaran itu, demikian Khomeini, harus direalisasikan dan diikuti tanpa reserve.
Sementara sang imam sedang tiada (gaib), maka wakilnya (naib al-imam), memiliki sifat 'ishmah seperti para imam.
Dalam buku "Aqa'id al-Imamiyyah", Muhammad Ridha al-Muzhaffar, tokoh aliran Rafidah, berkata: "Menurut akidah kita, mujtahid adalah pengganti imam selama ia belum hadir. la memiliki kewenangan yang dimiliki sang imam. Menolaknya sama dengan menolak imam, dan itu sama saja dengan menolak Allah.
Baca juga: Sunah Menurut Kaum Syiah Rafidah yang Gemar Memaki Sahabat Nabi
Paham Raj'ah
Selanjutnya, kaum Rafidhah juga meyakini Muhammad ibn Hasan al-Askari, sebagai imam terakhir yang sedang ditunggu kehadirannya. Ia bergelar al-Imam al-Mahdi al-Gha`ib al-Muntazhar.
Menurut mereka, dia hidup, tidak mati. Sementara ini, sang imam bersembunyi di tempat persembunyiannya. la akan muncul di akhir zaman ketika dunia sudah sarat dengan kezaliman dan ketidakadilan. Dengan kehadirannya, dunia akan damai, adil, dan sejahtera.
Mereka juga meyakini kebangkitan sekelompok pendukung imam di saat kehadirannya. Mereka bangkit dari pusara, untuk membantu dan menolong Imam Mahdi sekaligus menyaksikan kekuasaannya, supaya mendapat kebahagiaan.
Kaum Rafidah juga meyakini kebangkitan sekelompok musuh Imam Mahdi. Mereka bangkit dari kubur untuk mendapat hukuman di bawah pemerintah Imam Mahdi. Raj'ah ini hanya berlaku untuk imam-imam kaum Rafidah saja.
Lihat Juga :