Jelang Runtuhnya Daulah Abbasiyah: Peran Turki Saljuk yang Gemilang
Minggu, 03 November 2024 - 14:58 WIB
loading...
Pemerintahan Turki Saljuk mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari peranan yang dimainkan orang Persia yang dimotori oleh wazirnya Nizamul Muluk. Ilustrasi; AI
A
A
A
NASIB Daulah Abbasiyah bak keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Bagaimana tidak, pada awalnya, kekhalifahan ini cemas akan dominasi orang-orang Turki yang mengancam kedudukan sultan. Khalifah pun mengundang Bani Buwaihi untuk menyingkirkan orang-orang Turki itu.
Begitu sukses mengusir mereka dari jabatan penting kekhakifahan, giliran Bani Buwaihi yang mendominasi. Akibatnya, Syiah merajalela di bumi Abbasiyah.
Syamruddin Nasution dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" menulis, Tughrul Bek yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat berambisi menantang kegiatan Bani Buwaihi, sehingga dia berusaha untuk melenyapkannya.
Atas undangan Khalifah al-Qaim (khalifah ke-26) Thugrul Bek datang ke Baghdad untuk mengatasi dominasi Bani Buwaihi yang secara paksa mengancam rakyat untuk menganut paham Syiah.
Baca juga: Jelang Runtuhnya Daulah Abbasiyah: Dominasi Orang-Orang Turki Jadi Masalah
Tindakan Bani Buwaihi tidak sesuai dengan pemikiran dan opini rakyat banyak. Pemaksaan ini membawa risiko besar terhadap kelanjutan Daulah Abbasiyah.
Begitu Tughrul Bek berhasil merebut dan menguasai ibu kota Baghad, ia menahan penguasa Bani Buwaihi yang terakhir Malik al-Rahim (1058 M) sampai meninggal dalam tahanan.
"Latar belakang masuknya Turki Saljuk dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah untuk membantu Daulah tersebut mengatasi persoalan yang dihadapinya dengan Bani Buwaihi," ujar Syamruddin Nasution.
Kesempatan berkuasa bagi Thugrul Bek yang berbangsa Turki itu pun terbuka. Khalifah al-Qaim memberikan jabatan Amir Umara dan memberi nama penghormatan kepadanya dengan gelar “Sultan wa al-Malik al-Syarqi wa al-Garbi” atau dapat diartikan penguasa timur dan barat.
Untuk lebih mendekatkan hubungan, khalifah mengawinkan putrinya dengan Sultan baru itu, akan tetapi tidak lama kemudian Sultan meninggal tanpa meninggalkan seorang putra pun. Sehingga kekuasaan pemerintahan diserahkan kepada saudara sepupunya Alp Arselan sebagai penguasa kedua Bani Saljuk pada tahun 455 H/1063 M.
Baca juga: Jelang Runtuhnya Daulah Abbasiyah: Ketika Bani Buwaihi Bebas Menyebarkan Syiah
Pada masa pemerintahan Alp Arselan, dia mengangkat Nizamyul Muluk sebagai perdana menteri atau wazir. Melalui wazir ini Bani Saljuk mengalami kemajuan pesat dan dapat mencapai beberapa kejayaannya.
Begitu sukses mengusir mereka dari jabatan penting kekhakifahan, giliran Bani Buwaihi yang mendominasi. Akibatnya, Syiah merajalela di bumi Abbasiyah.
Syamruddin Nasution dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" menulis, Tughrul Bek yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat berambisi menantang kegiatan Bani Buwaihi, sehingga dia berusaha untuk melenyapkannya.
Atas undangan Khalifah al-Qaim (khalifah ke-26) Thugrul Bek datang ke Baghdad untuk mengatasi dominasi Bani Buwaihi yang secara paksa mengancam rakyat untuk menganut paham Syiah.
Baca juga: Jelang Runtuhnya Daulah Abbasiyah: Dominasi Orang-Orang Turki Jadi Masalah
Tindakan Bani Buwaihi tidak sesuai dengan pemikiran dan opini rakyat banyak. Pemaksaan ini membawa risiko besar terhadap kelanjutan Daulah Abbasiyah.
Begitu Tughrul Bek berhasil merebut dan menguasai ibu kota Baghad, ia menahan penguasa Bani Buwaihi yang terakhir Malik al-Rahim (1058 M) sampai meninggal dalam tahanan.
"Latar belakang masuknya Turki Saljuk dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah untuk membantu Daulah tersebut mengatasi persoalan yang dihadapinya dengan Bani Buwaihi," ujar Syamruddin Nasution.
Kesempatan berkuasa bagi Thugrul Bek yang berbangsa Turki itu pun terbuka. Khalifah al-Qaim memberikan jabatan Amir Umara dan memberi nama penghormatan kepadanya dengan gelar “Sultan wa al-Malik al-Syarqi wa al-Garbi” atau dapat diartikan penguasa timur dan barat.
Untuk lebih mendekatkan hubungan, khalifah mengawinkan putrinya dengan Sultan baru itu, akan tetapi tidak lama kemudian Sultan meninggal tanpa meninggalkan seorang putra pun. Sehingga kekuasaan pemerintahan diserahkan kepada saudara sepupunya Alp Arselan sebagai penguasa kedua Bani Saljuk pada tahun 455 H/1063 M.
Baca juga: Jelang Runtuhnya Daulah Abbasiyah: Ketika Bani Buwaihi Bebas Menyebarkan Syiah
Pada masa pemerintahan Alp Arselan, dia mengangkat Nizamyul Muluk sebagai perdana menteri atau wazir. Melalui wazir ini Bani Saljuk mengalami kemajuan pesat dan dapat mencapai beberapa kejayaannya.
Lihat Juga :