Kisah Kiai Ahmad Dahlan Merombak Ruang Tamu Rumahnya Menjadi Ruang Kelas
Senin, 11 November 2024 - 12:40 WIB
loading...
A
A
A
Rintisan Kiai Dahlan ini di kemudian hari terus berkembang seiring dengan berkembangnya cabang-cabang Muhammadiyah di seantero Indonesia.
Hingga saat ini, di usianya yang telah mencapai 112 tahun, Muhammadiyah telah memiliki lebih dari 15.000 lembaga pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang tersebar di seluruh tanah air.
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Hal ini menjadi salah satu bukti nyata kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia, pada khususnya dan untuk kemanusiaan secara luas.
Hal ini jua sekaligus menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan basis organisasi masyarakat sipil (civil society) terbesar dan terkuat di dunia dengan dukungan sumber daya daya struktur organisasi yang mapan.
2 Sistem Pendidikan
Pada masa Kiai Dahlan di Indonesia berkembang 2 (dua) sistem pendidikan; pendidikan Barat dengan sekolah-sekolah formalnya yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan pendidikan nonformal berupa pesantren yang diasuh oleh para ahli agama atau kiai.
Kedua sistem pendidikan ini tidak hanya berbeda dari secara formalitas dan legalitasnya. Akan tetapi keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda dari segi kurikulum, proses, maupun tujuannya.
Pendidikan Barat adalah sistem pendidikan sekuler yang tidak memasukkan agama di dalamnya. Sebaliknya, pendidikan pesantren tidak memasukkan “materi-materi umum” di dalamnya.
Baca juga: Tutup Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Wapres Ajak Umat Teladani KH Ahmad Dahlan
Hingga saat ini, di usianya yang telah mencapai 112 tahun, Muhammadiyah telah memiliki lebih dari 15.000 lembaga pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang tersebar di seluruh tanah air.
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Hal ini menjadi salah satu bukti nyata kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia, pada khususnya dan untuk kemanusiaan secara luas.
Hal ini jua sekaligus menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan basis organisasi masyarakat sipil (civil society) terbesar dan terkuat di dunia dengan dukungan sumber daya daya struktur organisasi yang mapan.
2 Sistem Pendidikan
Pada masa Kiai Dahlan di Indonesia berkembang 2 (dua) sistem pendidikan; pendidikan Barat dengan sekolah-sekolah formalnya yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan pendidikan nonformal berupa pesantren yang diasuh oleh para ahli agama atau kiai.
Kedua sistem pendidikan ini tidak hanya berbeda dari secara formalitas dan legalitasnya. Akan tetapi keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda dari segi kurikulum, proses, maupun tujuannya.
Pendidikan Barat adalah sistem pendidikan sekuler yang tidak memasukkan agama di dalamnya. Sebaliknya, pendidikan pesantren tidak memasukkan “materi-materi umum” di dalamnya.
Baca juga: Tutup Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Wapres Ajak Umat Teladani KH Ahmad Dahlan
Lihat Juga :