Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:04 WIB
loading...
Kisah dua tokoh ulama KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan perlu diketahui umat muslim di Indonesia. Foto/Ist
A
A
A
Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan layak untuk diketahui umat muslim di Tanah Air. Kisah dua tokoh ulama ini sangat menginspirasi dan patut diambil iktibar (pelajaran).
Meski tidak sama dalam strategi dakwah, kedua tokoh ini tetap akur dan saling mendukung demi kemajuan umat Islam. Keduanya lahir dari orang-orang besar dan juga berguru pada guru yang sama.
Baca Juga: Said Aqil: NU dan Muhammadiyah Dua Pilar Civil Society yang Sangat Kuat
Santri Ponpes Mihajul Muslim Yogyakarta, Najmuddin, dalam catatannya di portal NU Online menceritakan kisah peran kedua tokoh itu di masa penjajahan Belanda. Penyerangan tentara kolonial di awal abad ke-20 kian bergejolak. Indonesia mulai muak dengan tipu daya Belanda selama ratusan tahun.
Perlawanan terhadap penjajah tidak hanya dilakukan oleh tentara dan rakyat biasa, tetapi juga datang dari kalangan kaum santri dan para kiyai. Di antaranya sosok ulama KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari. Lahirnya sosok baru (para Kiyai) dalam upaya merebut kemerdekaan menjadi sorotan para penjajah dalam meningkatkan penyerangan.
Pemerintah Hindia-Belanda sempat menaruh kecurigaan terhadap para haji, mereka diangap sebagai biang keladi terjadinya pemberontakan-pemberontakan sebelumnya. Sehingga, pada akhirnya kebijakan inilah yang membatasi pergerakan Islam kala itu.
KH Ahmad Dahlan, tokoh legendaris yang kita kenal sebagai founding father organisasi Muhammadiyah ini merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahir pada tahun 1868 M dengan nama Muhammad Darwis, putra dari seorang Khatib Keraton Yogyakarta.
Darwis lahir dari kalangan orang alim, bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan dari Ki Ageng Gribig (salah satu ulama di zaman Mataram) dan Maulana Ibrahim (Sunan Gresik) di sebuah kampung yang bernama Kauman, dengan lingkungan yang tentram di bawah naungan Sri Sultan Hamengku Buwono VII kala itu. Kauman sendiri saat ini popular sebagai perkampungan yang berdekatan dengan pusat keagamaan di sebuah perkotaan.
Hidup di antara rakyat yang taat pada rajanya, atmosfer keagamaan yang kuat memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri KH Ahmad Dahlan. Hingga pada suatu ketika, dimana Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengutus Raden Ngabei Ngabdul Darwis yang merupakan panggilan keraton terhadap KH Ahmad Dahlan untuk menuntut ilmu di Arab Saudi.
Kedatangannya ke Arab Saudi inilah yang mempertemukannya dengan sahabat remajanya saat belajar di Madura dan Semarang; KH Hasyim Asy'ari, tokoh besar pembaharu Islam dari kalangan pesantren.
KH Hasyim Asy'ari lahir di Jombang pada tahun 1871 M. Sama halnya dengan KH Ahmad Dahlan, Kiyai Hasyim juga dibesarkan di lingkungan agama. Ayah KH Asy'ari memiliki pondok pesantren di Jombang. Sejak usia 13 tahun, ia dipercaya ayahnya untuk menggantikan jadwal mengajar sang ayah, karena sudah menguasai kitab-kitab islam klasik (kitab kuning).
Awal Mula Kiyai Asy'ari Bertemu Kiyai Dahlan
Di usianya yang ke-15 tahun, ia mulai mengembara ke berbagai pesantren di Jawa untuk memperdalam ilmu agama seperti di Pesantren Wonocolo Jombang, Probolinggo, Pondok Langitan, Trenggilis, dan di Pesantren Kiyai Kholil Bangkalan, Madura. Di sinilah ia awal mula bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, keduanya belajar bersama di bawah asuhan Kiyai Kholil Bangkalan.
Sampai pada akhirnya, empat dari murid Kiyai Kholil tamat dari pendidikan keagamaan di Bangkalan, mereka diperintahkan untuk berguru ke Jombang dan Semarang.KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari mendapat perintah untuk berguru kepada Kiyai Sholeh Darat di Semarang. Kiyai Sholeh Darat merupakan ulama tersohor di pesisir utara Jawa kala itu. Bahkan keluarga RA Kartini juga belajar agama kepada Kiyai Sholeh Darat.
Meski tidak sama dalam strategi dakwah, kedua tokoh ini tetap akur dan saling mendukung demi kemajuan umat Islam. Keduanya lahir dari orang-orang besar dan juga berguru pada guru yang sama.
Baca Juga: Said Aqil: NU dan Muhammadiyah Dua Pilar Civil Society yang Sangat Kuat
Santri Ponpes Mihajul Muslim Yogyakarta, Najmuddin, dalam catatannya di portal NU Online menceritakan kisah peran kedua tokoh itu di masa penjajahan Belanda. Penyerangan tentara kolonial di awal abad ke-20 kian bergejolak. Indonesia mulai muak dengan tipu daya Belanda selama ratusan tahun.
Perlawanan terhadap penjajah tidak hanya dilakukan oleh tentara dan rakyat biasa, tetapi juga datang dari kalangan kaum santri dan para kiyai. Di antaranya sosok ulama KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari. Lahirnya sosok baru (para Kiyai) dalam upaya merebut kemerdekaan menjadi sorotan para penjajah dalam meningkatkan penyerangan.
Pemerintah Hindia-Belanda sempat menaruh kecurigaan terhadap para haji, mereka diangap sebagai biang keladi terjadinya pemberontakan-pemberontakan sebelumnya. Sehingga, pada akhirnya kebijakan inilah yang membatasi pergerakan Islam kala itu.
KH Ahmad Dahlan, tokoh legendaris yang kita kenal sebagai founding father organisasi Muhammadiyah ini merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahir pada tahun 1868 M dengan nama Muhammad Darwis, putra dari seorang Khatib Keraton Yogyakarta.
Darwis lahir dari kalangan orang alim, bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan dari Ki Ageng Gribig (salah satu ulama di zaman Mataram) dan Maulana Ibrahim (Sunan Gresik) di sebuah kampung yang bernama Kauman, dengan lingkungan yang tentram di bawah naungan Sri Sultan Hamengku Buwono VII kala itu. Kauman sendiri saat ini popular sebagai perkampungan yang berdekatan dengan pusat keagamaan di sebuah perkotaan.
Hidup di antara rakyat yang taat pada rajanya, atmosfer keagamaan yang kuat memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri KH Ahmad Dahlan. Hingga pada suatu ketika, dimana Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengutus Raden Ngabei Ngabdul Darwis yang merupakan panggilan keraton terhadap KH Ahmad Dahlan untuk menuntut ilmu di Arab Saudi.
Kedatangannya ke Arab Saudi inilah yang mempertemukannya dengan sahabat remajanya saat belajar di Madura dan Semarang; KH Hasyim Asy'ari, tokoh besar pembaharu Islam dari kalangan pesantren.
KH Hasyim Asy'ari lahir di Jombang pada tahun 1871 M. Sama halnya dengan KH Ahmad Dahlan, Kiyai Hasyim juga dibesarkan di lingkungan agama. Ayah KH Asy'ari memiliki pondok pesantren di Jombang. Sejak usia 13 tahun, ia dipercaya ayahnya untuk menggantikan jadwal mengajar sang ayah, karena sudah menguasai kitab-kitab islam klasik (kitab kuning).
Awal Mula Kiyai Asy'ari Bertemu Kiyai Dahlan
Di usianya yang ke-15 tahun, ia mulai mengembara ke berbagai pesantren di Jawa untuk memperdalam ilmu agama seperti di Pesantren Wonocolo Jombang, Probolinggo, Pondok Langitan, Trenggilis, dan di Pesantren Kiyai Kholil Bangkalan, Madura. Di sinilah ia awal mula bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, keduanya belajar bersama di bawah asuhan Kiyai Kholil Bangkalan.
Sampai pada akhirnya, empat dari murid Kiyai Kholil tamat dari pendidikan keagamaan di Bangkalan, mereka diperintahkan untuk berguru ke Jombang dan Semarang.KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari mendapat perintah untuk berguru kepada Kiyai Sholeh Darat di Semarang. Kiyai Sholeh Darat merupakan ulama tersohor di pesisir utara Jawa kala itu. Bahkan keluarga RA Kartini juga belajar agama kepada Kiyai Sholeh Darat.
Lihat Juga :