Pandangan Kaum Sunni Mengenai Masalah Takwil dalam Penafsiran Al-Qur'an
Rabu, 20 November 2024 - 05:15 WIB
loading...
Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis, tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai.Ilustrasi: Ist
A
A
A
DARIsatu segi, pertumbuhan historis paham Sunni merupakan gabungan dua komponen, yang pertama komponen ideologis, dan yang kedua komponen politik pragmatis. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu, khususnya antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing.
Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar , Muhammad ibn Maslamah, Said ibn Abi Waqqash, Usamah ibn Zayd, Abu Bakrah, dan 'Imran ibn Hasyim. Bahkan, menurut Ibn Taymiyyah, madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun).
"Yang politik pragmatis, ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus, Syria. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah),"tulis Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A . (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur dalam tulisannya berjudul "Masalah Tak'wil sebagai Metodologi Penafsiran Al-Quran" dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Editor: Budhy Munawar-Rachman).
Baca juga: Pandangan Para Filsuf tentang Takwil
Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu.
"Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis, tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai," kata Cak Nur.
Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-- sangat mengkhawatirkan, pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak.
Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati, maka bagaikan membuka Kotak Pandora, semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan, sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. Interpretasi metaforis atau takwil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik--yang tak terjangkau masyarakat banyak-- tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah.
Tapi, sebaliknya, menutup samasekali kemungkinan mengadakan takwil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni, menyerupai manusia; misalnya, keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan, wajah dan mata, bahwa Dia bertahta di Singgasana, merasa senang dan tidak senang, dan seterusnya).
Baca juga: Masalah Takwil Menurut Kaum Kebatinan dan Sufi
Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding, dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Paling jauh, jika mereka tidak melakukan interpretasi, mereka tetap menolak antropomorfisme, dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan, wajah, mata dan lain-lain, namun tangan, wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti
manusia, dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa).
"Inilah metode al-Asy'ari, rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah," jelas Cak Nur.
Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini, Ibnu Taimiyyah dalam "al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil" (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah, 1973) mengemukakan pandangan yang cukup menarik. Berdasarkan firman Allah, "Kitab Suci penuh berkah, yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad), agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya, dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [QS. Shad/38:29]
Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar , Muhammad ibn Maslamah, Said ibn Abi Waqqash, Usamah ibn Zayd, Abu Bakrah, dan 'Imran ibn Hasyim. Bahkan, menurut Ibn Taymiyyah, madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun).
"Yang politik pragmatis, ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus, Syria. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah),"tulis Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A . (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur dalam tulisannya berjudul "Masalah Tak'wil sebagai Metodologi Penafsiran Al-Quran" dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Editor: Budhy Munawar-Rachman).
Baca juga: Pandangan Para Filsuf tentang Takwil
Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu.
"Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis, tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai," kata Cak Nur.
Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-- sangat mengkhawatirkan, pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak.
Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati, maka bagaikan membuka Kotak Pandora, semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan, sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. Interpretasi metaforis atau takwil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik--yang tak terjangkau masyarakat banyak-- tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah.
Tapi, sebaliknya, menutup samasekali kemungkinan mengadakan takwil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni, menyerupai manusia; misalnya, keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan, wajah dan mata, bahwa Dia bertahta di Singgasana, merasa senang dan tidak senang, dan seterusnya).
Baca juga: Masalah Takwil Menurut Kaum Kebatinan dan Sufi
Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding, dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Paling jauh, jika mereka tidak melakukan interpretasi, mereka tetap menolak antropomorfisme, dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan, wajah, mata dan lain-lain, namun tangan, wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti
manusia, dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa).
"Inilah metode al-Asy'ari, rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah," jelas Cak Nur.
Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini, Ibnu Taimiyyah dalam "al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil" (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah, 1973) mengemukakan pandangan yang cukup menarik. Berdasarkan firman Allah, "Kitab Suci penuh berkah, yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad), agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya, dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [QS. Shad/38:29]
Lihat Juga :