Isi Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 11-20 : Pentingnya Menghindari Sifat Munafik
Rabu, 27 November 2024 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Artinya :
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." "
Artinya :
“Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. "
Tafsiran Ibnu Katsir pun memperjelaskan ayat 14-15, pada saat Allah SWT berfirman, “apabila mereka (Munafik) berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." ” mereka akan berkata “Kami telah beriman.” seakan akan mereka adalah sahabat untuk orang orang beriman.
Pada kenyataanya perkataan tersebut bertujuan untuk memperdaya orang beriman sehingga mereka dapat berdiplomasi untuk melindungi diri sebagai golongan mukmin saat umat mukmin berperang. Adapun mereka ingin mengambil sebagian harta perang yang didapatkan untuk kepentingan diri sendiri.
Pada bagian “apabila mereka kembali kepada setan-setan” menjelaskan bahwa pada saat orang-orang munafik tersebut kembali kepada pemimpin sesat mereka seperti kepala pemimpin musyrik dan munafik, mereka sebenarnya hanya mengejek teman teman Nabi Muhammad SAW.
Maka Allah SWT membantah mereka dengan memberikan ancaman terhadap perbuatan orang munafik tersebut, “Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (Al-Baqarah: 15).
Allah SWT akan membiarkan orang munafik tersesat dalam kemunafikan mereka dan mengolok-olok mereka. Ibnu Jarir juga menjelaskan pendapat Ulama lain bahwa ayat ini sendiri adalah sebuah ungkapan pembalikan. Maksud dari ungkapan balikan yaitu bagaimana orang yang telah menipunya ternyata dapat dibalikan tipuan tersebut.
Maka yang dapat dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana Allah SWT tidak butuh menyesatkan dan mengolok-olok mereka. Melainkan mereka sendiri telah terjerumus dalam lubang yang mereka galikan.
Artinya :
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk."
Dijelaskan pada tafsiran Ibnu Katsir, pengertian dari bagaimana mereka yaitu orang munafik membeli sebuah kesesatan menggunakan petunjuk adalah bagaimana mereka lebih ingin mengambil kesesatan dibandingkan hidayah dari Allah SWT.
Mereka rela melepaskan hidayah demi mendapatkan kesesatan sebagaimana kalangan mereka menyukai hal kesesatan daripada hidayah. Orang munafik sendiri memang terdiri dari berbagai macam golongan dimana terdapat golongan yang memilih kesesatan daripada hidayah.
Hal ini mengakibatkan firman Allah SWT selanjutnya yang berbunyi, “Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” yaitu mereka sama sekali tidak beruntung dari tidak mendapatkan hidayah hingga mendapatkan bimbingan dalam perbuatannya.
Al-Baqarah (2:17)
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." "
Al-Baqarah (2:15)
ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَـٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Artinya :
“Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. "
Tafsiran Ibnu Katsir pun memperjelaskan ayat 14-15, pada saat Allah SWT berfirman, “apabila mereka (Munafik) berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." ” mereka akan berkata “Kami telah beriman.” seakan akan mereka adalah sahabat untuk orang orang beriman.
Pada kenyataanya perkataan tersebut bertujuan untuk memperdaya orang beriman sehingga mereka dapat berdiplomasi untuk melindungi diri sebagai golongan mukmin saat umat mukmin berperang. Adapun mereka ingin mengambil sebagian harta perang yang didapatkan untuk kepentingan diri sendiri.
Pada bagian “apabila mereka kembali kepada setan-setan” menjelaskan bahwa pada saat orang-orang munafik tersebut kembali kepada pemimpin sesat mereka seperti kepala pemimpin musyrik dan munafik, mereka sebenarnya hanya mengejek teman teman Nabi Muhammad SAW.
Maka Allah SWT membantah mereka dengan memberikan ancaman terhadap perbuatan orang munafik tersebut, “Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (Al-Baqarah: 15).
Allah SWT akan membiarkan orang munafik tersesat dalam kemunafikan mereka dan mengolok-olok mereka. Ibnu Jarir juga menjelaskan pendapat Ulama lain bahwa ayat ini sendiri adalah sebuah ungkapan pembalikan. Maksud dari ungkapan balikan yaitu bagaimana orang yang telah menipunya ternyata dapat dibalikan tipuan tersebut.
Maka yang dapat dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana Allah SWT tidak butuh menyesatkan dan mengolok-olok mereka. Melainkan mereka sendiri telah terjerumus dalam lubang yang mereka galikan.
4. Orang Munafik yang Membeli Kesesatan Dengan Petunjuk
Ayat 16 dalam surat Al-Baqarah ayat 16 mengandung penjelasan bagaimana orang munafik tersebut adalah orang yang membeli kesesatan dengan menggunakan petunjuk.Al-Baqarah (2:16)
أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلضَّلَـٰلَةَ بِٱلْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَـٰرَتُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ
Artinya :
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk."
Dijelaskan pada tafsiran Ibnu Katsir, pengertian dari bagaimana mereka yaitu orang munafik membeli sebuah kesesatan menggunakan petunjuk adalah bagaimana mereka lebih ingin mengambil kesesatan dibandingkan hidayah dari Allah SWT.
Mereka rela melepaskan hidayah demi mendapatkan kesesatan sebagaimana kalangan mereka menyukai hal kesesatan daripada hidayah. Orang munafik sendiri memang terdiri dari berbagai macam golongan dimana terdapat golongan yang memilih kesesatan daripada hidayah.
Hal ini mengakibatkan firman Allah SWT selanjutnya yang berbunyi, “Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” yaitu mereka sama sekali tidak beruntung dari tidak mendapatkan hidayah hingga mendapatkan bimbingan dalam perbuatannya.
5. Perumpamaan Orang Munafik
Terakhir, kandungan surat Al-Baqarah ayat 17-18 menjelaskan sebuah perumpamaan bagi orang munafik sebagai orang yang menyalakan api.Al-Baqarah (2:17)
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًۭا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَـٰتٍۢ لَّا يُبْصِرُونَ
Lihat Juga :