Guyonan Gus Miftah, Harmonis: Dai Harus Menjunjung Tinggi Etika Universal
Rabu, 04 Desember 2024 - 17:37 WIB
loading...
A
A
A
Mendapat kabar itu, nenek tadi pun riangnya luar biasa. "Pointnya adalah menghibur yang cerdas," jelas Harmonis.
Dia mengingatkan bahwa seorang kiai, dai, ulama, selain memiliki sifat-sifat kenabian ataupun yang terdapat dalam al-Quran, juga mempunyai kemampuan: Memilih diksi yang baik, merangkai kalimat dengan baik, menyampaikan dengan cara yang baik, dan memahami dengan siapa kita berkomunikasi.
Baca juga: 5 Kontroversi Gus Miftah, Terbaru Hina Penjual Es Teh
Di sisi lain, menyorot Gus Miftah sebagai pejabat publik, Harmonis mengatakan, dai dan pejabat publik merupakan bagian dari makhluk Allah yang mendapat amanah di lingkungannya. Mendapat jabatan dan pendapatan serta fasilitas lebih dibanding masyarakat lain pada umumnya.
"Untuk itu, pejabat publik seharusnya menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan bahwa mereka layak menjadi pejabat publik," ujar dosen Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ ini.
Di antara yang perlu ditampilkan pejabat publik adalah perilaku komunikasi yang santun, menjadi uswah (contoh dan ikutan) terbaik bagi masyarakat.
Menurutnya, komunikasi politik yang santun, baik pesan dan cara penyampaian ataupun pertukaran pesan, sangat perlu dilakukan oleh pejabat publik.
Hal ini mengingat apa yang dikomunikasikan dalam bentuk ungkapan ataupun bahasa lisan dan body language – bahasa tubuh - dapat menimbulkan efek terhadap dirinya dan pihak lain yang dijadikan sebagai objek dari isi pembicaraan, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Baca juga: Hina Penjual Es Teh, Gus Miftah Ternyata Belum Lapor LHKPN
Dia mengingatkan bahwa seorang kiai, dai, ulama, selain memiliki sifat-sifat kenabian ataupun yang terdapat dalam al-Quran, juga mempunyai kemampuan: Memilih diksi yang baik, merangkai kalimat dengan baik, menyampaikan dengan cara yang baik, dan memahami dengan siapa kita berkomunikasi.
Baca juga: 5 Kontroversi Gus Miftah, Terbaru Hina Penjual Es Teh
Di sisi lain, menyorot Gus Miftah sebagai pejabat publik, Harmonis mengatakan, dai dan pejabat publik merupakan bagian dari makhluk Allah yang mendapat amanah di lingkungannya. Mendapat jabatan dan pendapatan serta fasilitas lebih dibanding masyarakat lain pada umumnya.
"Untuk itu, pejabat publik seharusnya menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan bahwa mereka layak menjadi pejabat publik," ujar dosen Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ ini.
Di antara yang perlu ditampilkan pejabat publik adalah perilaku komunikasi yang santun, menjadi uswah (contoh dan ikutan) terbaik bagi masyarakat.
Menurutnya, komunikasi politik yang santun, baik pesan dan cara penyampaian ataupun pertukaran pesan, sangat perlu dilakukan oleh pejabat publik.
Hal ini mengingat apa yang dikomunikasikan dalam bentuk ungkapan ataupun bahasa lisan dan body language – bahasa tubuh - dapat menimbulkan efek terhadap dirinya dan pihak lain yang dijadikan sebagai objek dari isi pembicaraan, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Baca juga: Hina Penjual Es Teh, Gus Miftah Ternyata Belum Lapor LHKPN
(mhy)
Lihat Juga :