Kisah Sufi: Namus Si Agas dan Gajah, Ilustrasi Tajam tentang Kesia-siaan Hidup
Kamis, 12 Desember 2024 - 12:41 WIB
loading...
Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Ilustrasi: AI
A
A
A
Pada suatu saat hiduplah seekor agas, serangga kecil mirip nyamuk. Namanya Namus, dan ia dikenal, oleh sebab perasaannya yang halus, sebagai Namus Si Cerdik. Setelah menimbang-nimbang keadaannya, dan untuk sejumlah alasan yang baik serta masuk akal, Namus memutuskan pindah rumah. Tempat yang dirasa cocok dijadikan sarang baru adalah telinga seekor gajah.
Namus hanya perlu terbang dan tak lama kemudian sudah mendiami tempat tinggal yang luas dan cukup menarik. Waktu pun berlalu. Agas itu membesarkan beberapa keluarga agas, dan dikirimnya mereka ke dunia luar. Seiring bergantinya tahun, Namus mengalami saat-saat tegang dan santai, perasaan senang dan sedih, tantangan dan juga raihan yang lazim dijalani oleh seekor agas di berbagai tempat.
Telinga gajah itu adalah rumahnya; dan bukanlah hal yang mengejutkan bila ia merasa (perasaan itu terus menguat) bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara kehidupannya, masa lalunya, hakikat dirinya, dan tempat itu. Telinga itu sungguh hangat, nyaman, benar-benar luas, latar dari sekian banyak pengalamannya.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Tentu saja, Namus tidak pindah ke rumah itu tanpa permisi dan sebelumnya ia meneliti dahulu situasi di sekitarnya. Pada hari pertama, tepat ketika ia hendak memasuki telinga gadjah itu, ia sudah berseru sekeras mungkin, dengan suaranya yang kecil, tentang keputusannya.
"Wahai Gajah!" teriaknya, "ketahuilah bahwa aku, Namus Si Agas, yang dikenal sebagai Namus Si Cerdik, memohon untuk menjadikan tempat ini sebagai kediamanku. Karena ini telingamu, aku bersopan santun menyampaikan niatku ini kepadamu."
Gajah itu tidak keberatan.
Tetapi, Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Sedikit pun tuan rumah itu tidak sadar akan kehadiran, atau bahkan keluar masuknya, Namus beserta segenap keluarganya. Dengan kata lain, tidak terpikirkan sama sekali oleh gajah itu bahwa ada agas di telinganya.
Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu.
Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam.
Namus hanya perlu terbang dan tak lama kemudian sudah mendiami tempat tinggal yang luas dan cukup menarik. Waktu pun berlalu. Agas itu membesarkan beberapa keluarga agas, dan dikirimnya mereka ke dunia luar. Seiring bergantinya tahun, Namus mengalami saat-saat tegang dan santai, perasaan senang dan sedih, tantangan dan juga raihan yang lazim dijalani oleh seekor agas di berbagai tempat.
Telinga gajah itu adalah rumahnya; dan bukanlah hal yang mengejutkan bila ia merasa (perasaan itu terus menguat) bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara kehidupannya, masa lalunya, hakikat dirinya, dan tempat itu. Telinga itu sungguh hangat, nyaman, benar-benar luas, latar dari sekian banyak pengalamannya.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Tentu saja, Namus tidak pindah ke rumah itu tanpa permisi dan sebelumnya ia meneliti dahulu situasi di sekitarnya. Pada hari pertama, tepat ketika ia hendak memasuki telinga gadjah itu, ia sudah berseru sekeras mungkin, dengan suaranya yang kecil, tentang keputusannya.
"Wahai Gajah!" teriaknya, "ketahuilah bahwa aku, Namus Si Agas, yang dikenal sebagai Namus Si Cerdik, memohon untuk menjadikan tempat ini sebagai kediamanku. Karena ini telingamu, aku bersopan santun menyampaikan niatku ini kepadamu."
Gajah itu tidak keberatan.
Tetapi, Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Sedikit pun tuan rumah itu tidak sadar akan kehadiran, atau bahkan keluar masuknya, Namus beserta segenap keluarganya. Dengan kata lain, tidak terpikirkan sama sekali oleh gajah itu bahwa ada agas di telinganya.
Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu.
Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam.
Lihat Juga :