Kisah Sufi: Raksasa Perampok dan Guru Sufi
Selasa, 17 Desember 2024 - 05:46 WIB
loading...
A
A
A
Pagi harinya, raksasa itu melemparkan sebuah kantong air dari kulit lernbu pada Sang Sufi lalu berkata, "Pergilah mengambil air untuk sarapan, supaya kita bisa minum teh." Alih-alih menggunakan kantong air itu (yang tentu sangat berat untuk diangkat), guru itu berjalan ke sungai yang terdekat dan mulai menggali saluran kecil menuju gua. Raksasa sudah kehausan, dan bertanya "Mengapa kau tidak bawa airnya?" "Bersabarlah, temanku. Aku sedang membuatkanmu saluran air. Dengan begitu, air segar akan langsung menuju mulut gua, dan kau tidak usah lagi minum air dari kulit lembu."
Tetapi, raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. "Jikalau kau memang demikian perkasa --dan sudah kusaksikan itu-- tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?"
"Sebab," kilah guru itu, "sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing; dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu."
***
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah ini sering terdengar dalam percakapan di kedai-kedai teh di Asia Tengah, dan menyerupai dongeng rakyat di Eropa pada abad pertengahan. Versi ini diambil dariMajmua (koleksi darwis) yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad ke sebelas, menurut halaman penerbit, tetapi versi yang ditampilkan di sini tertera dari abad ke enambelas.
Tetapi, raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. "Jikalau kau memang demikian perkasa --dan sudah kusaksikan itu-- tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?"
"Sebab," kilah guru itu, "sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing; dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu."
***
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah ini sering terdengar dalam percakapan di kedai-kedai teh di Asia Tengah, dan menyerupai dongeng rakyat di Eropa pada abad pertengahan. Versi ini diambil dariMajmua (koleksi darwis) yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad ke sebelas, menurut halaman penerbit, tetapi versi yang ditampilkan di sini tertera dari abad ke enambelas.
(mhy)
Lihat Juga :