Apakah 1 Muharram Sama dengan 1 Suro?
Minggu, 22 Juni 2025 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kapan Tahun Baru Islam 2025? Cek di Sini!
Saat tiba malam 1 Suro, umumnya masyarakat Jawa juga menggelar ritual atau tradisi tirakatan, tuguran (perenungan diri sambari berdoa), dan lek-lekan (tak tidur semalam suntuk).
Bahkan ada juga sebagian orang yang memilih menyepi atau bersemedi di suatu tempat sakral (puncak gunung, pohon besar, tepi laut, makam keramat). Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro ini sebagai awal bulan tahun Jawa yang dianggap bulan sakral atau suci.
Bulan Suro pun dianggap sebagai bulan yang tepat untuk menggelar tafakur, renungan, dan introspeksi guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun cara yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam berinstrospeksi yaitu dengan lelaku atau mengendalikan hawa nafsu.
Selain itu, sepanjang bulan Suro ini masyarakat Jawa juga meyakini agar selalu bersikap eling serta waspada. Eling ini berarti manusia tetap harus ingat siapa dirinya serta kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Sedangkan waspada berarti manusia harus tetap terjaga serta waspada dari berbagai godaan yang menyesatkan. Itulah mengapa masyarakat Jawa pantang untuk melakukan hajatan nikahan di bulan Suro.
Pada perayaan malam 1 Suro, masyarakat Jawa juga dilarang melakukan dosa jika tak ingin kena malapetaka dan dianjurkan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.
Hal tersebut sama dengan makna Muharram bagi umat Islam dan bulan tersebut merupakan salah satu dari 4 bulan yang diistimewakan Allah SWT. 1 Muharram jadi momen yang dinantikan oleh umat Islam untuk menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Artinya, yang dirayakan bukan malam pergantian tahunnya, namun tanggal 1 Muharram itu sendiri.
Dalam 1 Muharram ini, umat Islam dianjurkan untuk puasa sunnah, memperbanyak doa dan ampunan, bersedekah dan melakukan amal saleh lainnya.
Baca juga: Apakah Boleh Menikah di Bulan Suro? Simak Penjelasan Sesuai Hukum Islam
Saat tiba malam 1 Suro, umumnya masyarakat Jawa juga menggelar ritual atau tradisi tirakatan, tuguran (perenungan diri sambari berdoa), dan lek-lekan (tak tidur semalam suntuk).
Bahkan ada juga sebagian orang yang memilih menyepi atau bersemedi di suatu tempat sakral (puncak gunung, pohon besar, tepi laut, makam keramat). Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro ini sebagai awal bulan tahun Jawa yang dianggap bulan sakral atau suci.
Bulan Suro pun dianggap sebagai bulan yang tepat untuk menggelar tafakur, renungan, dan introspeksi guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun cara yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam berinstrospeksi yaitu dengan lelaku atau mengendalikan hawa nafsu.
Selain itu, sepanjang bulan Suro ini masyarakat Jawa juga meyakini agar selalu bersikap eling serta waspada. Eling ini berarti manusia tetap harus ingat siapa dirinya serta kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Sedangkan waspada berarti manusia harus tetap terjaga serta waspada dari berbagai godaan yang menyesatkan. Itulah mengapa masyarakat Jawa pantang untuk melakukan hajatan nikahan di bulan Suro.
Pada perayaan malam 1 Suro, masyarakat Jawa juga dilarang melakukan dosa jika tak ingin kena malapetaka dan dianjurkan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.
Makna 1 Suro dan 1 Muharram
Karena malam 1 Suro begitu istimewa dalam kehidupan masyarakat Jawa, maka peringatannya juga memiliki yang mendalam. Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro dan pergantian tahun menjadi momen yang sangat keramat dan disucikan sehingga sangat cocok untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sepanjang bulan Suro, orang Jawa harus selalu bersikap eling (ingat) kepada Allah SWT, waspada terhadap dosa, dan selalu berbuat baik.Hal tersebut sama dengan makna Muharram bagi umat Islam dan bulan tersebut merupakan salah satu dari 4 bulan yang diistimewakan Allah SWT. 1 Muharram jadi momen yang dinantikan oleh umat Islam untuk menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Artinya, yang dirayakan bukan malam pergantian tahunnya, namun tanggal 1 Muharram itu sendiri.
Dalam 1 Muharram ini, umat Islam dianjurkan untuk puasa sunnah, memperbanyak doa dan ampunan, bersedekah dan melakukan amal saleh lainnya.
Baca juga: Apakah Boleh Menikah di Bulan Suro? Simak Penjelasan Sesuai Hukum Islam
(wid)
Lihat Juga :