Memaknai Muharram, KH Ali Masykur Musa: Hijrah sebagai Transformasi Hidup
Jum'at, 27 Juni 2025 - 18:57 WIB
loading...
KH Ali Masykur Musa mengatakan, semangat hijrah semestinya relevan sepanjang masa. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bagi umat islam, selain Ramadan dan Rajab, Muharram juga menjadi bulan yang dirayakan dengan suka cita. Umat Islam di seluruh dunia, dan Indonesia khususnya dengan penuh syukur menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah.
Berbagai makna dapat diambil dari momen istimewa ini. Salah satunya, memaknai hijrah sebagai proses transformasi menyeluruh. Bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perubahan yang mendalam secara spiritual, sosial, dan profesional.
Hal ini disampaikan oleh KH Ali Masykur Musa dalam acara dialog peringatan tahun baru Hijriah. Menurutnya, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah adalah tonggak sejarah yang menunjukkan perluasan strategi dakwah Islam, dari misi keimanan menuju pembentukan tatanan sosial. Oleh karena itu, semangat hijrah semestinya relevan sepanjang masa. Baca juga: Dalil Hadis tentang Keutamaan Amalan Bulan Muharram
"Hikmahnya, seluruh aspek hidup kita harus mengalami perbaikan. Kita harus berhijrah. Dalam hal profesi, harus lebih produktif. Dalam relasi sosial, harus lebih rendah hati dan lebih baik kepada sesama manusia. Dari sisi hati, harus lebih bening, lebih bersih. Itulah makna hijrah," katanya.
Ia menekankan dalam era digital saat ini hijrah tidak cukup dimaknai dengan perubahan penampilan atau gaya hidup Islami semata. Transformasi harus mencakup aspek output (kinerja), outcome (dampak sosial), dan spiritualitas (hubungan dengan Tuhan).
Keutamaan Muharram sebagai Syahrullah
Lebih lanjut, KH Ali Masykur Musa menjelaskan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain sebagai awal penanggalan Hijriah, Muharram adalah bulan suci yang penuh makna sejarah.
"Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir bandang pada 10 Muharram (Asyura). Atau peristiwa heroik Sayyidina Husain di perang Karbala, juga pada 10 Asyura, sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan," tutur tokoh NU ini.
Muharram juga dikenal di kalangan masyarakat Jawa sebagai bulan Suro, yang diperingati dengan berbagai tradisi lokal seperti selamatan dan pensucian diri. Namun yang paling utama, kata Kyai Ali, adalah anjuran untuk berpuasa Asyura sebagai bentuk refleksi spiritual atas peristiwa-peristiwa besar tersebut.
Dalam konteks kebangsaan di Indonesia saat ini, semangat hijrah juga dapat dimaknai sebagai dorongan menuju kedaulatan nasional. Kyai Ali menyoroti pentingnya kemandirian di sektor energi dan pangan sebagai syarat dasar untuk menjadi negara yang kuat dan berdaya saing.
Berbagai makna dapat diambil dari momen istimewa ini. Salah satunya, memaknai hijrah sebagai proses transformasi menyeluruh. Bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perubahan yang mendalam secara spiritual, sosial, dan profesional.
Hal ini disampaikan oleh KH Ali Masykur Musa dalam acara dialog peringatan tahun baru Hijriah. Menurutnya, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah adalah tonggak sejarah yang menunjukkan perluasan strategi dakwah Islam, dari misi keimanan menuju pembentukan tatanan sosial. Oleh karena itu, semangat hijrah semestinya relevan sepanjang masa. Baca juga: Dalil Hadis tentang Keutamaan Amalan Bulan Muharram
"Hikmahnya, seluruh aspek hidup kita harus mengalami perbaikan. Kita harus berhijrah. Dalam hal profesi, harus lebih produktif. Dalam relasi sosial, harus lebih rendah hati dan lebih baik kepada sesama manusia. Dari sisi hati, harus lebih bening, lebih bersih. Itulah makna hijrah," katanya.
Ia menekankan dalam era digital saat ini hijrah tidak cukup dimaknai dengan perubahan penampilan atau gaya hidup Islami semata. Transformasi harus mencakup aspek output (kinerja), outcome (dampak sosial), dan spiritualitas (hubungan dengan Tuhan).
Keutamaan Muharram sebagai Syahrullah
Lebih lanjut, KH Ali Masykur Musa menjelaskan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain sebagai awal penanggalan Hijriah, Muharram adalah bulan suci yang penuh makna sejarah.
"Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir bandang pada 10 Muharram (Asyura). Atau peristiwa heroik Sayyidina Husain di perang Karbala, juga pada 10 Asyura, sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan," tutur tokoh NU ini.
Muharram juga dikenal di kalangan masyarakat Jawa sebagai bulan Suro, yang diperingati dengan berbagai tradisi lokal seperti selamatan dan pensucian diri. Namun yang paling utama, kata Kyai Ali, adalah anjuran untuk berpuasa Asyura sebagai bentuk refleksi spiritual atas peristiwa-peristiwa besar tersebut.
Dalam konteks kebangsaan di Indonesia saat ini, semangat hijrah juga dapat dimaknai sebagai dorongan menuju kedaulatan nasional. Kyai Ali menyoroti pentingnya kemandirian di sektor energi dan pangan sebagai syarat dasar untuk menjadi negara yang kuat dan berdaya saing.
Lihat Juga :