Hijrah Wujudkan Masyarakat Madani dan Berbudi Pekerti Luhur

Senin, 07 Juli 2025 - 01:04 WIB
loading...
Hijrah Wujudkan Masyarakat...
Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia, Moch. Syarif Hidayatullah menjelaskan makna hijrah di tengah kompleksitas zaman modern. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, apalagi soal penampilan luar. Di balik peristiwa besar itu, terkandung makna mendalam tentang transformasi sosial dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia, Moch. Syarif Hidayatullah saat menjelaskan makna hijrah di tengah kompleksitas zaman modern.

Baca juga: Tahun Baru 1447 Hijriah, Menag: Semoga Hijrah Kita Bukan Hanya Berpindah Waktu, tapi Berpindah Kualitas Hidup

Menurutnya, konsep hijrah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah fondasi untuk mewujudkan persatuan dan perdamaian, yakni sebuah gerakan kolektif menuju tatanan masyarakat madani yang berkeadaban dan berbudi pekerti luhur.



Syarif mengatakan, salah satu keberhasilan Nabi adalah proses al-mua’akhah atau mempersaudarakan kaum pendatang (muhajirin) dan pribumi (ansor) di Madinah.

“Rasulullah SAW itu berhasil merukunkan, mendamaikan, dan mempersaudarakan antara kedua belah pihak itu,” ujar Syarif dikutip, Senin (7/7/2025 .

Keberhasilan ini, lanjut Syarif, dilembagakan melalui Piagam Madinah yang menjalin kesepakatan tidak hanya internal umat Islam, tetapi juga dengan umat beragama lain.

Baca juga: 10 Artis Tanah Air yang Jadi Ustaz dan Ustazah, Nomor 1 Mantan Gitaris Sheila on 7

Bahkan disebutkan bahwa Piagam Madinah dianggap sebagai konstitusi pertama dalam Islam dan menjadi dasar bagi pembentukan masyarakat Madinah yang majemuk dan harmonis.

"Artinya memang hijrah ini berhasil. Tidak hanya mencegah konflik dan kekerasan, tapi justru lebih dari itu, memajukan Madinah dan membuat sesama warga mempunyai rasa saling memiliki,” ungkap Syarif.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menekankan untuk membangun model hijrah yang damai dan konstruktif. Jangan sampai, Syarif menambahkan, narasi hijrah dimaknai hanya sebatas tampilan fisik, pendukung kekerasan, tanpa menyentuh aspek perilaku, akhlak, dan hal-hal substantif.

“Hijrah itu perpindahan dari satu titik ke titik yang lain, yang upayanya adalah upaya-upaya perbaikan. Justru, kalau melakukan kekerasan itu mundur,” tegas Syarif.

Untuk meluruskan narasi hijrah yang benar, Syarif menyoroti peran penting para dai, akademisi dan pemimpin bangsa.

Para dai, sebagai influencer yang mengajak masyarakat untuk kebaikan, memiliki tugas penting menciptakan harmoni melalui materi dakwahnya. Dai harus mampu meredam energi negatif di masyarakat dan mengarahkannya pada hal-hal positif sesuai ajaran yang arif dan bijak.

Sementara itu, para akademisi di kampus tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai (values) positif, produktif, dan bertanggung jawab kepada siswa maupun mahasiswa, agar memiliki benteng terhadap narasi dan ideologi ekstrem.

“Kalau materinya itu menghasut, mengagitasi, mendukung kekerasan, tindakan radikal dan ekstrem, nah ini bisa berbahaya,” ujarnya.

Untuk membangun wawasan kebangsaan yang konkrit, Syarif menegaskan pentingnya masyarakat, pemangku kebijakan dan pemimpin publik menginternalisasi nilai-nilai Pancasila.

Menurutnya, kegagalan para pemimpin dalam mempraktikkan nilai-nilai luhur Pancasila inilah yang menjadi celah dan pembenar bagi kelompok ekstremis, mempersoalkan penerapan Pancasila yang belum ideal dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Padahal jika dicermati mendalam, Pancasila sejalan dengan syariat Islam.

“Pancasila itu tidak bertentangan dengan teks syariah, baik dalam Al-Quran maupun hadis. Tinggal bagaimana Pancasila diterapkan, agar tidak menjadi ideologi yang hanya di tataran ide,” pungkas Syarif.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Mengenal Jejak Diplomasi...
Mengenal Jejak Diplomasi dan Perundingan dalam Sejarah Perang Islam
Di Hadapan Pemimpin...
Di Hadapan Pemimpin Agama Dunia, KH Cholil Nafis Sebut Peran Tokoh Agama Wujudkan Perdamaian
Ala Khutah: Pengalaman...
Ala Khutah: Pengalaman Spiritual Warga Indonesia Menyusuri Jejak Hijrah Nabi di Saudi Arabia
Memaknai Muharram, KH...
Memaknai Muharram, KH Ali Masykur Musa: Hijrah sebagai Transformasi Hidup
Makna Hijrah, Momentum...
Makna Hijrah, Momentum Transformasi Spiritual, Intelektual, dan Sosial
Tahun Baru 1447 Hijriah,...
Tahun Baru 1447 Hijriah, Menag: Semoga Hijrah Kita Bukan Hanya Berpindah Waktu, tapi Berpindah Kualitas Hidup
Rekomendasi
Super Blue Blood Moon...
Super Blue Blood Moon 2018, Gerhana Bulan Terindah Sepanjang Sejarah yang Sangat Jarang Terjadi
Inilah Danau Terkutuk...
Inilah Danau Terkutuk di Dunia, Bisa Ubah Hewan Menjadi Batu
3 Fakta Orbit Planet...
3 Fakta Orbit Planet di Tata Surya yang Sesuai dengan Penjelasan di Al Quran
Artikel Terkini
7 Ayat Al-Quran tentang...
7 Ayat Al-Qur'an tentang Akhlak yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Lengkap dengan Penjelasannya
Mengapa Akhlak Begitu...
Mengapa Akhlak Begitu Penting dalam Islam? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Hadis
Cinta Quran Foundation...
Cinta Quran Foundation Bangun RS Berbasis Wakaf Produktif
5 Akhlak Dasar Muslim...
5 Akhlak Dasar Muslim yang Kini Mulai Langka, Nomor 5 Jadi Kunci Menjaga Ukhuwah
Wajah Islam di Piala...
Wajah Islam di Piala Dunia: Ketika Timnas Maroko Berdakwah Lewat Akhlak
Maroko Jadi Sorotan...
Maroko Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, Ternyata Negeri Ini Melahirkan 6 Tarekat Besar Dunia
Infografis
7 Ilmuwan Islam Paling...
7 Ilmuwan Islam Paling Berpengaruh Sepanjang Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved