Makna Radikalisme dalam Pandangan Al-Qur'an, Menteri Agama Harus Tahu Ini
Rabu, 09 September 2020 - 15:56 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Istimewa
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Sesungguhnya kata radikalisme atau ektremisme bukan hal baru dan asing. Bahkan dalam ajaran agama hal ini sejak awal telah diingatkan. Dalam Al-Qur'an misalnya disebutkan: "Wahai Ahli Kitab, jangan kamu berlebihan dalam agamamu".
Arti "Al-Ghuluw" atau berlebihan pada Surah 4 atau 171 itu adalah melebih-lebihkan dari makna sebenarnya. Isa (alaihis salaam) misalnya dilebihkan posisinya dari posisi manusia ke posisi 'Tuhan'”. Intinya radikalisme itu adalah keluar dari batas-batas (Al-Huduud) yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Menjalankan ajaran agama pada baras-batas yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan penuh sungguh hati dan komitmen justru itu memang tuntutan dan tuntunan agama.
Di sinilah kita seringkali melihat ada klaim-klaim radikalisme yang membingungkan (confusing) dan menyesatkan (misleading). Karena pertama, tidak jelas arah dan defenisinya. Dan kedua, seringkali pelemparan itu secara konotasi penuh dengan nuansa politik dan kepentingan. (Baca Juga: Respons Pernyataan Menag, PKS: Jangan Terus Mendiskreditkan Umat Islam )
Kata radikal-isme atau ekstreme-isme kembali dipopulerkan oleh Bush Jr pascaperistiwa 9/11 di tahun 2001 lalu di Amerika Serikat. Walaupun Islam memang sejak lama dikonotasikan sebagai agama radikal dan teror, peristiwa 9/11 itu seolah menemukan justifikasinya.
(Baca Juga: Update Corona: Bertambah 3.307 Kasus, Jumlah Pasien Positif 203.342 Orang )
Kebijakan-kebijakan yang kemudian diambil oleh Presiden Bush ketika itu, termasuk peperangan yang disebut "war on terror" (peperangan kepada terror) menjadi justifikasi atau pembuktian tentang kebijakannya yang memang memerangi Islam atau dunia Islam.
Peperangan kepada Afghanistan mendapat justifikasi karena memang bertujuan memberantas kekuatan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden. Tapi yang terjadi kemudian adalah pengambil alihan pemerintahan Afghanistan dengan menempatkan boneka Amerika, Khalmai KhaliZad, yang mengendalikan pemerintahan di Afghanistan.
Peperangan kepada Islam dan Umat itu semakin terbuka ketika Amerika kemudian memaksakan perang kepada Irak atas tuduhan mengembangkan senjata kimia. Bahkan dituduh melindungi Al-Qaida. Kesemuanya di kemudian hari terbukti hanya kebohongan yang dipaksakan untuk membenarkan serangan militer Amerika ke Irak.
Kata radikal juga diadopsi oleh beberapa pemimpin dunia untuk menekan mereka yang dianggap bersebelahan. Termasuk para pemimpin yang justru bermusuhan dengan Bush Jr sendiri seperti Saddam, Qaddafi, maupun Bashar Al-Asad. Kata radikal atau terroris itu bahkan menjadi senjata ampuh untuk membungkam mulut para oposisi di banyak negara. Hal yang paling menonjol saat ini di Timur Tengah, termasuk Saudi dan Mesir.
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Sesungguhnya kata radikalisme atau ektremisme bukan hal baru dan asing. Bahkan dalam ajaran agama hal ini sejak awal telah diingatkan. Dalam Al-Qur'an misalnya disebutkan: "Wahai Ahli Kitab, jangan kamu berlebihan dalam agamamu".
Arti "Al-Ghuluw" atau berlebihan pada Surah 4 atau 171 itu adalah melebih-lebihkan dari makna sebenarnya. Isa (alaihis salaam) misalnya dilebihkan posisinya dari posisi manusia ke posisi 'Tuhan'”. Intinya radikalisme itu adalah keluar dari batas-batas (Al-Huduud) yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Menjalankan ajaran agama pada baras-batas yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan penuh sungguh hati dan komitmen justru itu memang tuntutan dan tuntunan agama.
Di sinilah kita seringkali melihat ada klaim-klaim radikalisme yang membingungkan (confusing) dan menyesatkan (misleading). Karena pertama, tidak jelas arah dan defenisinya. Dan kedua, seringkali pelemparan itu secara konotasi penuh dengan nuansa politik dan kepentingan. (Baca Juga: Respons Pernyataan Menag, PKS: Jangan Terus Mendiskreditkan Umat Islam )
Kata radikal-isme atau ekstreme-isme kembali dipopulerkan oleh Bush Jr pascaperistiwa 9/11 di tahun 2001 lalu di Amerika Serikat. Walaupun Islam memang sejak lama dikonotasikan sebagai agama radikal dan teror, peristiwa 9/11 itu seolah menemukan justifikasinya.
(Baca Juga: Update Corona: Bertambah 3.307 Kasus, Jumlah Pasien Positif 203.342 Orang )
Kebijakan-kebijakan yang kemudian diambil oleh Presiden Bush ketika itu, termasuk peperangan yang disebut "war on terror" (peperangan kepada terror) menjadi justifikasi atau pembuktian tentang kebijakannya yang memang memerangi Islam atau dunia Islam.
Peperangan kepada Afghanistan mendapat justifikasi karena memang bertujuan memberantas kekuatan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden. Tapi yang terjadi kemudian adalah pengambil alihan pemerintahan Afghanistan dengan menempatkan boneka Amerika, Khalmai KhaliZad, yang mengendalikan pemerintahan di Afghanistan.
Peperangan kepada Islam dan Umat itu semakin terbuka ketika Amerika kemudian memaksakan perang kepada Irak atas tuduhan mengembangkan senjata kimia. Bahkan dituduh melindungi Al-Qaida. Kesemuanya di kemudian hari terbukti hanya kebohongan yang dipaksakan untuk membenarkan serangan militer Amerika ke Irak.
Kata radikal juga diadopsi oleh beberapa pemimpin dunia untuk menekan mereka yang dianggap bersebelahan. Termasuk para pemimpin yang justru bermusuhan dengan Bush Jr sendiri seperti Saddam, Qaddafi, maupun Bashar Al-Asad. Kata radikal atau terroris itu bahkan menjadi senjata ampuh untuk membungkam mulut para oposisi di banyak negara. Hal yang paling menonjol saat ini di Timur Tengah, termasuk Saudi dan Mesir.
Lihat Juga :