Makna Radikalisme dalam Pandangan Al-Qur'an, Menteri Agama Harus Tahu Ini
Rabu, 09 September 2020 - 15:56 WIB
loading...
A
A
A
Radikal Ala Menteri Agama RI
Hari-hari ini di Tanah Air kembali terjadi perbincangan hangat tentang kata radikal di kalangan masyarakat, khususnya tokoh agama dan aktifis. Konon kabarnya dipicu oleh pernyataan Menteri Agama RI tentang radikal beberapa hari lalu.
Menurutnya orang-orang radikal itu benihnya ada di masjid-masjid. Dan yang lucu lagi disebutkan bahwa radikal itu boleh jadi justru Ustaz, para hafidz Al-Qur'an dan juga "good looking" alias tampan. (Baca Juga: Polemik Penceramah Good Looking, Menag Akui Kesalahannya )
Serentak pernyataan ini mendapat respons keras dari banyak kalangan, termasuk dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo. Bahkan sebagian di berbagai media sosial membuat ragam lelucon tentang hubungan paras tampan dan radikalisme.
Sejak dilantik menjadi Menteri Agama RI memang terasa jika Pak Menteri ini telah menjadikan isu radikalisme sebagai program prioritasnya. Sehingga seolah Kementerian Agama telah disulap menjadi Kementerian penanganan krisis radikalisme di tanah air.
Saya pribadi melihat jika negara ini memang perlu dan harus serius menangani kemungkinan tumbuhnya radikalisme . Sebab semua setuju Jika radikalisme memang bisa menjadi kanker bagi pembangunan sebuah bangsa. Bahkan radikalisme boleh jadi penyebab hancurnya bangsa tersebut.
Masalahnya adalah seolah radikalisme yang digaungkan selama ini hanya di bidang agama saja. Dan lebih runyam lagi seolah tuduhan radikalisme agama ini tertuju kepada kelompok agama tertentu (baca Islam). Padahal sejujurnya pada semua kelompok agama ada elemen-elemen yang memang radikal.
Selain itu, radikalisme juga mencakup seluruh aspek ideologi dan gaya hidup manusia. Bahkan ada tendensi terjadi radikalisme Pancasila. Yaitu membangun pemahaman tentang Pancasila di luar batas-batas ketentuan dan kewajaran.
Salah satu konsekuensi nyata dari radikalisme adalah perasaan paling hebat. Tidak jarang justeru terbangun keangkuhan. Radikalisme dalam beragama misalnya membangun sikap paling beragama dan angkuh dalam keagamaan.
Demikian juga radikalisme ideologi Pancasila justru mengantar kepada perasaan paling Pancasilais. Bahkan tumbuh sikap arogansi dengan aksi-aksi intimiidasi kepada mereka yang dianggap kurang atau tidak Pancasilais.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa tuduhan atau minimal kecurigaan radikal kepada para ustaz dan hafiz Al-Qur'an adalah kecurigaan yang boleh jadi justru juga salah satu bentuk pandangan radikal tanpa disadari.
Hari-hari ini di Tanah Air kembali terjadi perbincangan hangat tentang kata radikal di kalangan masyarakat, khususnya tokoh agama dan aktifis. Konon kabarnya dipicu oleh pernyataan Menteri Agama RI tentang radikal beberapa hari lalu.
Menurutnya orang-orang radikal itu benihnya ada di masjid-masjid. Dan yang lucu lagi disebutkan bahwa radikal itu boleh jadi justru Ustaz, para hafidz Al-Qur'an dan juga "good looking" alias tampan. (Baca Juga: Polemik Penceramah Good Looking, Menag Akui Kesalahannya )
Serentak pernyataan ini mendapat respons keras dari banyak kalangan, termasuk dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo. Bahkan sebagian di berbagai media sosial membuat ragam lelucon tentang hubungan paras tampan dan radikalisme.
Sejak dilantik menjadi Menteri Agama RI memang terasa jika Pak Menteri ini telah menjadikan isu radikalisme sebagai program prioritasnya. Sehingga seolah Kementerian Agama telah disulap menjadi Kementerian penanganan krisis radikalisme di tanah air.
Saya pribadi melihat jika negara ini memang perlu dan harus serius menangani kemungkinan tumbuhnya radikalisme . Sebab semua setuju Jika radikalisme memang bisa menjadi kanker bagi pembangunan sebuah bangsa. Bahkan radikalisme boleh jadi penyebab hancurnya bangsa tersebut.
Masalahnya adalah seolah radikalisme yang digaungkan selama ini hanya di bidang agama saja. Dan lebih runyam lagi seolah tuduhan radikalisme agama ini tertuju kepada kelompok agama tertentu (baca Islam). Padahal sejujurnya pada semua kelompok agama ada elemen-elemen yang memang radikal.
Selain itu, radikalisme juga mencakup seluruh aspek ideologi dan gaya hidup manusia. Bahkan ada tendensi terjadi radikalisme Pancasila. Yaitu membangun pemahaman tentang Pancasila di luar batas-batas ketentuan dan kewajaran.
Salah satu konsekuensi nyata dari radikalisme adalah perasaan paling hebat. Tidak jarang justeru terbangun keangkuhan. Radikalisme dalam beragama misalnya membangun sikap paling beragama dan angkuh dalam keagamaan.
Demikian juga radikalisme ideologi Pancasila justru mengantar kepada perasaan paling Pancasilais. Bahkan tumbuh sikap arogansi dengan aksi-aksi intimiidasi kepada mereka yang dianggap kurang atau tidak Pancasilais.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa tuduhan atau minimal kecurigaan radikal kepada para ustaz dan hafiz Al-Qur'an adalah kecurigaan yang boleh jadi justru juga salah satu bentuk pandangan radikal tanpa disadari.
Lihat Juga :