Sang Murid Minta Abu Nawas Membagi Syair Pujian Kepada Tuhan
Senin, 04 Mei 2020 - 02:53 WIB
loading...
A
A
A
Karena belum mengerti, seorang murid Abu Nawas bertanya. "Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?"
"Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati," tutur Abu Nawas menjelaskan.
"Apakah tingkatan mata itu?" tanya sang murid.
"Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata," jawab Abu Nawas mengandaikan.
"Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abu Nawas lagi.
"Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan," jawab Abu Nawas.
"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas.
"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Ke Maha-Besaran Allah."
Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi. 'Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?"
"Mungkin," jawab Abu Nawas.
"Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas penasaran.
"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa," kata Abu Nawas.
"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru," pinta sang murid.
Abu Nawas pun menyanyikan pujian dan doa yang dimaksud.
إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
"Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati," tutur Abu Nawas menjelaskan.
"Apakah tingkatan mata itu?" tanya sang murid.
"Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata," jawab Abu Nawas mengandaikan.
"Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abu Nawas lagi.
"Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan," jawab Abu Nawas.
"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas.
"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Ke Maha-Besaran Allah."
Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi. 'Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?"
"Mungkin," jawab Abu Nawas.
"Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas penasaran.
"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa," kata Abu Nawas.
"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru," pinta sang murid.
Abu Nawas pun menyanyikan pujian dan doa yang dimaksud.
إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Lihat Juga :