Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid
Kamis, 10 September 2020 - 15:36 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ini Pandangan Muhammadiyah soal Wacana Penceramah Bersertifikat
Dalam kecenderungan kita, tambah Haekal, adakalanya pengaruh perasaan itu lebih besar daripada pengaruh pikiran kita. Suatu hal yang mustahil kita dapat membuat tabir pemisa antara kekuatan perasaan dengan kekuatan akal pikiran.
Memang benar, ada orang yang lebih banyak terpengaruh oleh perasaan, ada pula yang lebih banyak terpengaruh oleh pikirannya. Tetapi perbedaan jumlah tidak akan mengubah perpaduan perasaan dengan akal pikiran itu dalam menjalankan keputusan-keputusan kita.
“Sudah tentu, Umar juga terpengaruh oleh perasaannya sendiri terhadap Khalid. Barangkali juga ia menduga bahwa Khalid mendengkinya dalam soal kekhalifahan, seperti halnya dengan Khalid dulu yang mengira Umar mendengkinya dalam soal pembebasan Irak,” ujar Haekal lagi.
Kedua orang ini luar biasa kuatnya dalam bidangnya masing-masing. Jika dua perasaan ini saling bertemu dalam keadaan demikian, dikhawatirkan akan terjadi perbenturan, dan perbenturan ini akan membawa akibat yang buruk sekali terhadap negara dan masa depannya. Oleh karena itu Umar segera mengambil langkah tegas yang tak kenal ampun. Yang dilihatnya bukan segi keadilan, tetapi segi ketertiban umum dan keselamatan negara.
Tetapi dari pihaknya tindakan Umar memecat Khalid tidak aneh, sekalipun ini yang pertama dalam bentuknya. Bahkan inilah politiknya yang dijalankan terhadap para wakil dan gubernurnya selama pemerintahannya itu.
Baca juga: Jokowi Mestinya Batalkan Omnibus Law Kalau Konsisten Prioritaskan Covid-19
Kelak akan kita lihat bahwa tindakannya terhadap para pejabatnya dengan disiplin yang keras sudah biasa dalam garis kebijaksanaannya, dan memang ini pula yang diajarkan kepada mereka dan jika ada pengaduan dalam soal ini mereka akan diadili, dan siapa saja yang tidak memuaskan dalam memegang amanat dan menjalankan tugasnya akan dipecat. Itulah, karena ia cenderung memusatkan semua kekuasaan di tangannya.
Pada pertama kali memegang jabatannya itu ia berkata: "Demi Allah, jika terjadi sesuatu mengenai persoalan kalian ini, lalu yang lain datang berkuasa jauh sesudahku, maka mereka kembali akan meninggalkan pesan dan amanat itu. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka."
Baca juga: PAN Khawatirkan Dampak Penolakan 59 Negara terhadap WNI
Kalau pandangan demikian bertemu dalam suatu politik negara seperti yang dikenal tentang Umar dan pandangannya terhadap Khalid serta hilangnya kepercayaan dan persahabatan antara kedua orang ini, rahasia pemecatan Khalid ini akan terungkap, dan akan terungkap pula letak rahasia ini dari hati Umar.
Haekal mengatakan Umar sudah memecat Khalid dari pimpinan militer di Syam dan pimpinan itu diserahkannya kepada Abu Ubaidah. Tetapi ini tidak mengubah posisi pasukan Muslimin terhadap Romawi dan tidak pula akan memperkuat mereka dalam perang. Bahkan sebaliknya, akan menimbulkan malapetaka besar.
Dalam kecenderungan kita, tambah Haekal, adakalanya pengaruh perasaan itu lebih besar daripada pengaruh pikiran kita. Suatu hal yang mustahil kita dapat membuat tabir pemisa antara kekuatan perasaan dengan kekuatan akal pikiran.
Memang benar, ada orang yang lebih banyak terpengaruh oleh perasaan, ada pula yang lebih banyak terpengaruh oleh pikirannya. Tetapi perbedaan jumlah tidak akan mengubah perpaduan perasaan dengan akal pikiran itu dalam menjalankan keputusan-keputusan kita.
“Sudah tentu, Umar juga terpengaruh oleh perasaannya sendiri terhadap Khalid. Barangkali juga ia menduga bahwa Khalid mendengkinya dalam soal kekhalifahan, seperti halnya dengan Khalid dulu yang mengira Umar mendengkinya dalam soal pembebasan Irak,” ujar Haekal lagi.
Kedua orang ini luar biasa kuatnya dalam bidangnya masing-masing. Jika dua perasaan ini saling bertemu dalam keadaan demikian, dikhawatirkan akan terjadi perbenturan, dan perbenturan ini akan membawa akibat yang buruk sekali terhadap negara dan masa depannya. Oleh karena itu Umar segera mengambil langkah tegas yang tak kenal ampun. Yang dilihatnya bukan segi keadilan, tetapi segi ketertiban umum dan keselamatan negara.
Tetapi dari pihaknya tindakan Umar memecat Khalid tidak aneh, sekalipun ini yang pertama dalam bentuknya. Bahkan inilah politiknya yang dijalankan terhadap para wakil dan gubernurnya selama pemerintahannya itu.
Baca juga: Jokowi Mestinya Batalkan Omnibus Law Kalau Konsisten Prioritaskan Covid-19
Kelak akan kita lihat bahwa tindakannya terhadap para pejabatnya dengan disiplin yang keras sudah biasa dalam garis kebijaksanaannya, dan memang ini pula yang diajarkan kepada mereka dan jika ada pengaduan dalam soal ini mereka akan diadili, dan siapa saja yang tidak memuaskan dalam memegang amanat dan menjalankan tugasnya akan dipecat. Itulah, karena ia cenderung memusatkan semua kekuasaan di tangannya.
Pada pertama kali memegang jabatannya itu ia berkata: "Demi Allah, jika terjadi sesuatu mengenai persoalan kalian ini, lalu yang lain datang berkuasa jauh sesudahku, maka mereka kembali akan meninggalkan pesan dan amanat itu. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka."
Baca juga: PAN Khawatirkan Dampak Penolakan 59 Negara terhadap WNI
Kalau pandangan demikian bertemu dalam suatu politik negara seperti yang dikenal tentang Umar dan pandangannya terhadap Khalid serta hilangnya kepercayaan dan persahabatan antara kedua orang ini, rahasia pemecatan Khalid ini akan terungkap, dan akan terungkap pula letak rahasia ini dari hati Umar.
Haekal mengatakan Umar sudah memecat Khalid dari pimpinan militer di Syam dan pimpinan itu diserahkannya kepada Abu Ubaidah. Tetapi ini tidak mengubah posisi pasukan Muslimin terhadap Romawi dan tidak pula akan memperkuat mereka dalam perang. Bahkan sebaliknya, akan menimbulkan malapetaka besar.
(mhy)
Lihat Juga :