Kisah Umar Bin Khattab

Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid

loading...
Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid
Ilustrasi/Ist
KHALIFAH Umar bin Khattab punya pandangan yang minus terhadap Khalid bin Walid sehubungan dengan peristiwa Malik bin Nuwairah, yakni ketika Khalid membunuh tokoh ini dan mengawini Laila, istri Malik. (Baca juga: Soal Si Cantik Laila, Begini Kemarahan Umar Bin Khattab kepada Khalid Bin Walid)

Pada kasus itu, Umar telah meminta Khalifah Abu Bakar menjatuhi sanksi namun permintaan itu tidak dikabulkan. Sejak peristiwa itu, pandangan Umar terhadap Khalid tidak berubah. Posisi Khalid, saat Umar bin Khattab menjabat khalifah ada di Syam. Jenderal itu telah dipindahkan dari Irak ke Syam atas perintah Khalifah Abu Bakar. Di sana Khalid memimpin pasukan muslim untuk menghadapi pasukan Romawi. (Baca juga:Kasus Khalid tentang Laila, Membaca Sikap Umar dengan Khalifah Abu Bakar)

Muhammad Husain Haekal dalam "Umar bin Khattab" menceritakan sudah lebih dari sebulan Khalid tak dapat mengalahkan pasukan Romawi, bahkan tidak menghadapinya. Ini menjadi kesempatan bagi Umar untuk memecat Khalid dari pimpinan militer dan menyerahkannya kepada Abu Ubaidah. “Itulah yang dilakukan Umar,” tulis Haekal. (Baca juga: Kontroversi Khalid bin Walid dan Betis Indah Si Cantik Laila)

Keesokan harinya sesudah Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat, Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Ubaidah memberitahukan tentang meninggalnya Khalifah, kemudian surat tentang pemecatan Khalid dan pengangkatan Abu Ubaidah menggantikannya sebagai panglima dan Khalid sebagai komandan batalion yang tadinya dipegang Abu Ubaidah. (Baca juga: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat)

Untuk menyampaikan berita wafatnya Abu Bakar, Umar mengutus Yarfa' pembantunya, sedangkan mengenai pemecatan Khalid dan pengangkatan Abu Ubaidah yang diutusnya Mahmiyat bin Zanim dan Syaddad bin Aus.

Dalam surat pengangkatannya ia berpesan kepada Abu Ubaidah dengan mengatakan: "Jangan menjerumuskan pasukan Muslimin karena mengharapkan rampasan perang. Janganlah menempatkan mereka di suatu tempat sebelum Anda merahasiakan kekuatannya dari mereka dan mengetahui bagaimana kedatangannya.” (Baca juga: Kasus Kawin Lagi, Begini Marahnya Khalifah Abu Bakar kepada Khalid bin Walid)

“Janganlah mengirim satuan kecuali dalam rombongan besar. Janganlah menjerumuskan pasukan Muslimin ke dalam malapetaka! Allah telah menguji Anda dengan saya dan mengujiku dengan Anda. Tutuplah matamu dari kesenangan dunia dan lupakan. Janganlah Anda sampai binasa seperti yang terjadi dengan yang sebelummu, dan Anda sudah melihat sendiri kehancuran mereka!"



Bagaimana Umar berani mempertaruhkan diri dengan memecat Khalid padahal pimpinan angkatan bersenjata Muslimin di Syam di tangan Khalid dan angkatan ini dalam situasi yang sangat genting? (Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut)

Haekal menjelaskan kala itu pasukan muslim tidak sedang berhadap-hadapan dengan pasukan Romawi. Begitulah keadaan mereka sebelum keberangkatan Khalid bin Walid dari Irak ke Syam. Setelah Khalid berada di tengah-tengah mereka keadaan pun tetap demikian. Kedua pihak menunggu kesempatan keluar dari situasi- yang begitu mencekam untuk menyerbu musuh.

Melihat perkembangan perang yang sedang berlangsung itu, sudah tentu segala pertimbangan ini besar sekali artinya. (Baca juga: Meletusnya Perang Yamamah, Khalid Bin Walid dan Para Syuhada yang Bertumbangan)

Menurut Haekal, jika pemecatan Khalid ditunda sampai perang selesai keadaan akan membahayakan politiknya dan akan merusak strateginya. Tak terlihat jalan lain dalam perang itu: berkesudahan dengan kekalahan pasukan Muslimin, atau dengan kemenangan. Kalau Muslimin kalah, pemecatan Khalid tak ada arti apa-apa atas kekalahan itu.

Kebalikannya, kalau menang dan Khalid sebagai panglimanya, Umar tidak akan memecat seorang panglima yang sedang dalam puncak kejayaannya. Kalau ini juga yang dilakukannya, berarti ia mengambil suatu tindakan yang sangat mengerikan. (Baca juga: Khalid bin Walid, Peristiwa Yamamah, dan Detik-Detik Menentukan dalam Sejarah Islam)

Umar cenderung tidak akan membiarkan Khalid sebagai panglima tertinggi di Syam atau di tempat lain. Oleh karenanya ia cepat-cepat mengeluarkan perintah pemecatannya. “Apa boleh buat, Khalid tak dapat mewujudkan apa yang dipercayakan Abu Bakar kepadanya,” ujar Haekal.



Kalau sesudah itu pasukan Muslimin menang, Umar tidak salah. Ia hanya melakukan apa yang diyakininya bahwa dia benar. Dalam hal ini Khalid dalam posisi yang tidak dirugikan oleh orang yang memerintahkan pemecatannya.
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
وَمَنۡ يَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَالِدًا فِيۡهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيۡمًا
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.

(QS. An-Nisa:93)
cover bottom ayah
preload video