Kisah Lelaki Miskin dan Hadiah Anggurnya untuk Rasulullah SAW
Jum'at, 05 September 2025 - 15:40 WIB
loading...
Kisah seorang lelaki miskin dari desa yang bersemangat membawa semangkuk penuh buah anggur yang hendak dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau sangat mengpresiasinya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah ini tentang mulianya akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Allah Ta'ala pun memuji beliau karena akhlak dan adabnya yang begitu agung.
'Wa innaKa la'alaa khuluqin 'azhiiim' (dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. Begitulah Allah mengabadikannya dalam Surah Al-Qalam ayat 4.
Berikut kisahnya:
Suatu hari datanglah seorang lelaki miskin dari desa membawa semangkuk penuh buah anggur yang hendak dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam . Lelaki miskin ini begitu bersemangat memberikan hadiah untuk Rasulullah.
Dia menyimpan anggur itu dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, terimalah hadiah kecil ini dariku."
Rasulullah SAW mengambil mangkuk itu dan mulai memakannya.
Beliau memakan buah pertama dan tersenyum. Kemudian buah kedua, beliau tersenyum. Melihat senyum Rasulullah , lelaki miskin itu nyaris terbang kegirangan dibuatnya. Betapa bahagianya dia melihat anggur yang dibawanya dimakan oleh Rasulullah.
Para sahabat pun ikut menyaksikan hal tersebut. Sudah menjadi kebiasaan beliau SAW selalu membagi hadiah yang beliau terima kepada sahabat-sahabatnya. Namun, Rasulullah terus memakan sebutir demi sebutir seraya tetap tersenyum. Hingga akhirnya mangkuk itu pun kosong, tidak ada sebutir anggur pun tersisa. Ketika itu sahabat heran. Sementara lelaki miskin tampak girang sejadi-jadinya lalu pamit kepada Rasulullah .
Setelah itu, salah seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa Anda tidak mengajak kami (menyantap anggur) itu bersamamu?
Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tersenyum dan berkata: "Tidakkah kalian lihat betapa bahagianya ia dengan mangkuk (anggur) itu? Ketahuilah ketika aku memakannya, anggur itu terasa asam. Maka aku khawatir apabila aku membaginya kepada kalian, maka kalian akan menampakkan reaksi sesuatu yang akan merusak kebahagiaannya".
Baca juga: Meneladani Akhlak dan Keseharian Rasulullah SAW
Subhanallah, begitulah kemuliaan akhlak Rasulullah yang membuat para sahabat takjub. Sekilas terlihat hanya peristiwa biasa, namun kisah ini mengandung hikmah dan pelajaran berharga.
Dalam Tafsir as-Sa'di, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (pakar tafsir abad 14 Hijriyah) mengatakan, akhlak Rasulullah adalah seperti yang dikatakan Aisyah RA, "Kaana khuluquhul Qur'an," (akhlak beliau adalah Al-Qur'an). Beliau melakukan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an seperti pada ayat-ayat berikut. "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS Al A'raf: 199)
Allah Ta'ala juga menggambarkan Rasulullah dalam Al-Qur'an: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS At- Taubah: 128)
Oleh karena itu, Beliau SAW memiliki akhlak paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada satu pun akhlak mulia kecuali beliau menduduki peringkat tertinggi. Beliau SAW orangnya mudah, dekat dengan manusia, memenuhi undangan orang yang mengundangnya, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, memberi orang yang meminta-minta dan tidak mengecewakannya.
Apabila para sahabatnya menginginkan suatu perkara dari Beliau, maka Beliau menyetujui mereka serta mengikuti mereka jika tidak ada larangannya. Jika ingin melakukan suatu langkah, maka Beliau mengajak para sahabatnya bermusyawarah. Beliau menerima orang yang berbuat ihsan dan memaafkan orang yang bersalah. Tidaklah ada orang yang duduk dengan beliau kecuali bersikap dengan sikap yang sebaik-baiknya untuk beliau.
Beliau tidak pernah bermuka masam, tidak keras ucapannya, tidak menyembunyikan kegembiraannya, menjaga lisannya dari ucapan yang tidak berguna, tidak membalas orang yang bertindak kasar terhadap diri Beliau. Beliau tidak marah jika diri Beliau disakiti, tetapi marah jika syariat Allah Ta'aala dilanggar. Wallahu A'lam
Baca juga: Khotbah Jumat : Bertabur Keberkahan di Bulan Maulid Nabi SAW
'Wa innaKa la'alaa khuluqin 'azhiiim' (dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. Begitulah Allah mengabadikannya dalam Surah Al-Qalam ayat 4.
Berikut kisahnya:
Suatu hari datanglah seorang lelaki miskin dari desa membawa semangkuk penuh buah anggur yang hendak dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam . Lelaki miskin ini begitu bersemangat memberikan hadiah untuk Rasulullah.
Dia menyimpan anggur itu dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, terimalah hadiah kecil ini dariku."
Rasulullah SAW mengambil mangkuk itu dan mulai memakannya.
Beliau memakan buah pertama dan tersenyum. Kemudian buah kedua, beliau tersenyum. Melihat senyum Rasulullah , lelaki miskin itu nyaris terbang kegirangan dibuatnya. Betapa bahagianya dia melihat anggur yang dibawanya dimakan oleh Rasulullah.
Para sahabat pun ikut menyaksikan hal tersebut. Sudah menjadi kebiasaan beliau SAW selalu membagi hadiah yang beliau terima kepada sahabat-sahabatnya. Namun, Rasulullah terus memakan sebutir demi sebutir seraya tetap tersenyum. Hingga akhirnya mangkuk itu pun kosong, tidak ada sebutir anggur pun tersisa. Ketika itu sahabat heran. Sementara lelaki miskin tampak girang sejadi-jadinya lalu pamit kepada Rasulullah .
Setelah itu, salah seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa Anda tidak mengajak kami (menyantap anggur) itu bersamamu?
Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tersenyum dan berkata: "Tidakkah kalian lihat betapa bahagianya ia dengan mangkuk (anggur) itu? Ketahuilah ketika aku memakannya, anggur itu terasa asam. Maka aku khawatir apabila aku membaginya kepada kalian, maka kalian akan menampakkan reaksi sesuatu yang akan merusak kebahagiaannya".
Baca juga: Meneladani Akhlak dan Keseharian Rasulullah SAW
Subhanallah, begitulah kemuliaan akhlak Rasulullah yang membuat para sahabat takjub. Sekilas terlihat hanya peristiwa biasa, namun kisah ini mengandung hikmah dan pelajaran berharga.
Dalam Tafsir as-Sa'di, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (pakar tafsir abad 14 Hijriyah) mengatakan, akhlak Rasulullah adalah seperti yang dikatakan Aisyah RA, "Kaana khuluquhul Qur'an," (akhlak beliau adalah Al-Qur'an). Beliau melakukan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an seperti pada ayat-ayat berikut. "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS Al A'raf: 199)
Allah Ta'ala juga menggambarkan Rasulullah dalam Al-Qur'an: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS At- Taubah: 128)
Oleh karena itu, Beliau SAW memiliki akhlak paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada satu pun akhlak mulia kecuali beliau menduduki peringkat tertinggi. Beliau SAW orangnya mudah, dekat dengan manusia, memenuhi undangan orang yang mengundangnya, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, memberi orang yang meminta-minta dan tidak mengecewakannya.
Apabila para sahabatnya menginginkan suatu perkara dari Beliau, maka Beliau menyetujui mereka serta mengikuti mereka jika tidak ada larangannya. Jika ingin melakukan suatu langkah, maka Beliau mengajak para sahabatnya bermusyawarah. Beliau menerima orang yang berbuat ihsan dan memaafkan orang yang bersalah. Tidaklah ada orang yang duduk dengan beliau kecuali bersikap dengan sikap yang sebaik-baiknya untuk beliau.
Beliau tidak pernah bermuka masam, tidak keras ucapannya, tidak menyembunyikan kegembiraannya, menjaga lisannya dari ucapan yang tidak berguna, tidak membalas orang yang bertindak kasar terhadap diri Beliau. Beliau tidak marah jika diri Beliau disakiti, tetapi marah jika syariat Allah Ta'aala dilanggar. Wallahu A'lam
Baca juga: Khotbah Jumat : Bertabur Keberkahan di Bulan Maulid Nabi SAW
(wid)
Lihat Juga :