3 Tingkatan Sabar Menurut Islam, Simak Ulasannya di Sini!
Minggu, 26 Oktober 2025 - 17:39 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hakikat Sabar dalam Al-Qur'an, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Sabar dalam mentaati Allah dan menjauhi maksiat tingkatannya lebih tinggi dari sabar ketika menghadapi musibah. Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahullah:
Artinya: "Sabar dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan sabar menahan diri dari yang diharamkan oleh Allah adalah lebih utama dari sabar dalam menghadapi musibah." [Hidayah ila Bulugh an-Nihayah (1/881)]
Hal ini karena sabar dalam musibah sifatnya harus diterima. Seseorang yang sedang menghadapinya tidak punya pilihan kecuali harus bersabar. Jika ia mau bersabar maka akan diberikan pahala, jika tidak sabar ia tidak memperoleh apa-apa bahkan bisa jatuh ke dalam dosa.
Sedangkan sabar dalam taat dan menjauhi maksiat sifatnya pilihan, terkhusus jika itu dalam rupa ibadah sunnah. Seseorang bisa memilih bersabar melawan kantuk dan dinginnya malam untuk shalat malam, atau ia meninggalkannya.
Seseorang yang menangis dan sedih ketika tertimpa musibah masih termasuk bersabar jika hatinya tetap ridha kepada keputusan Allah dan berserah diri kepadaNya. Adapun dalil bersabar dalam musibah yaitu:
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah ayat 155)
Baca juga: Beragam Cara Allah Ta'ala Menegur Hamba-Nya, Simak di Sini Saja!
2. Sabar dalam Menjauhi Larangan Allah
Contohnya meninggalkan yang diharamkan Allah seperti judi, minum minuman keras, berzina dan semisalnya. Bahkan sabar meninggalkan hal yang dimakruhkan adalah dianjurkan.Sabar dalam mentaati Allah dan menjauhi maksiat tingkatannya lebih tinggi dari sabar ketika menghadapi musibah. Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahullah:
Artinya: "Sabar dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan sabar menahan diri dari yang diharamkan oleh Allah adalah lebih utama dari sabar dalam menghadapi musibah." [Hidayah ila Bulugh an-Nihayah (1/881)]
Hal ini karena sabar dalam musibah sifatnya harus diterima. Seseorang yang sedang menghadapinya tidak punya pilihan kecuali harus bersabar. Jika ia mau bersabar maka akan diberikan pahala, jika tidak sabar ia tidak memperoleh apa-apa bahkan bisa jatuh ke dalam dosa.
Sedangkan sabar dalam taat dan menjauhi maksiat sifatnya pilihan, terkhusus jika itu dalam rupa ibadah sunnah. Seseorang bisa memilih bersabar melawan kantuk dan dinginnya malam untuk shalat malam, atau ia meninggalkannya.
3. Sabar Menerima Musibah
Sabar dalam musibah hukumnya wajib. Ia tidak mengeluh dan tidak marah kepada takdir dan ketentuan Allah. Adapun tangisan, rasa sedih dan rasa sakit di dalam hati bukanlah ukuran seseorang sabar atau tidak sabar.Seseorang yang menangis dan sedih ketika tertimpa musibah masih termasuk bersabar jika hatinya tetap ridha kepada keputusan Allah dan berserah diri kepadaNya. Adapun dalil bersabar dalam musibah yaitu:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah ayat 155)
Baca juga: Beragam Cara Allah Ta'ala Menegur Hamba-Nya, Simak di Sini Saja!
(wid)
Lihat Juga :