Kisah Sahabat Nabi : Iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri Bersama Rasulullah SAW
Rabu, 11 Maret 2026 - 16:50 WIB
loading...
Kisah sahabat Nabi SAW Said Al-Kudri yang melakukan iktikaf bersama Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam ini menarik untuk disimak. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah sahabat Nabi SAW Sa'id Al-Kudri yang melakukan iktikaf bersama Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam ini menarik untuk disimak. Bagaimana kisahnya?
Seperti diketahui, salah satu tujuan dilaksanakannya iktikaf adalah ingin mendapatkan lailatul qadar , sebuah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.
Sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy rhadiyallahu ‘anhu pernah bercerita: “Kami (para sahabat) pernah melakukan iktikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu dilakukan pada 10 malam pertengahan bulan Ramadan, saat masuk waktu pagi pada tanggal 20 Ramadan (hari terakhir kami beriktikaf), beliau berkhotbah”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“Aku bermimpi melihat kapan terjadinya malam lailatul qadar, kemudian aku dibuat lupa
(namun) carilah malam tersebut pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, pada malam ganjilnya
Baca juga: Menyambut Kedatangan Lailatul Qadar dengan Iktikaf Sesuai Sunnah Rasulullah
(salah satu tanda yang ku lihat dalam mimpi tersebut) aku akan bersujud diatas air dan tanah (becek)
(siapa yang hendak pulang), karena telah beriktikaf bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (sejak 10 hari yang lalu), maka kembalilah ketempat iktikaf kalian”
Abu Sa’id berkatalagi : “Maka kamipun kembali ketempat i’tikaf, (saat itu) kami melihat ke langit, tidak ada sedikitpun awan, walaupun hanya tipis. Lalu datanglah awan yang membawa hujan, sampai air bertetesan dari atap masjid -ketika itu atap terbuat dari pelepah kurma- Lalu shalatpun didirikan, dan akupun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud pada air dan tanah (becek). Sampai-sampai aku melihat sisa-sisa tanah berada didahi beliau” (HR. Al-Bukhari no 2016 dan Muslim no 1167)
Inilah kisah iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan pada cerita tersebut ada sebuah pesan bahwa, salah satu tujuan iktikaf adalah untuk mendapatkan malam lailatul qadar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar, karena dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni” (HR. Al-Bukhari no 1901)
Dan dalam ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan” (QS. Al-Qadar : 3)
Baca juga: Siap-siap Iktikaf, Begini Tata Cara dan Syaratnya
Seperti diketahui, salah satu tujuan dilaksanakannya iktikaf adalah ingin mendapatkan lailatul qadar , sebuah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.
Sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy rhadiyallahu ‘anhu pernah bercerita: “Kami (para sahabat) pernah melakukan iktikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu dilakukan pada 10 malam pertengahan bulan Ramadan, saat masuk waktu pagi pada tanggal 20 Ramadan (hari terakhir kami beriktikaf), beliau berkhotbah”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ، ثُمَّ أُنْسِيتُهَا -أَوْ نُسِّيتُهَا-
“Aku bermimpi melihat kapan terjadinya malam lailatul qadar, kemudian aku dibuat lupa
فَالْتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الوَتْرِ
(namun) carilah malam tersebut pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, pada malam ganjilnya
Baca juga: Menyambut Kedatangan Lailatul Qadar dengan Iktikaf Sesuai Sunnah Rasulullah
وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ
(salah satu tanda yang ku lihat dalam mimpi tersebut) aku akan bersujud diatas air dan tanah (becek)
فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلْيَرْجِعْ
(siapa yang hendak pulang), karena telah beriktikaf bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (sejak 10 hari yang lalu), maka kembalilah ketempat iktikaf kalian”
Abu Sa’id berkatalagi : “Maka kamipun kembali ketempat i’tikaf, (saat itu) kami melihat ke langit, tidak ada sedikitpun awan, walaupun hanya tipis. Lalu datanglah awan yang membawa hujan, sampai air bertetesan dari atap masjid -ketika itu atap terbuat dari pelepah kurma- Lalu shalatpun didirikan, dan akupun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud pada air dan tanah (becek). Sampai-sampai aku melihat sisa-sisa tanah berada didahi beliau” (HR. Al-Bukhari no 2016 dan Muslim no 1167)
Inilah kisah iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan pada cerita tersebut ada sebuah pesan bahwa, salah satu tujuan iktikaf adalah untuk mendapatkan malam lailatul qadar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar, karena dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni” (HR. Al-Bukhari no 1901)
Dan dalam ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan” (QS. Al-Qadar : 3)
Baca juga: Siap-siap Iktikaf, Begini Tata Cara dan Syaratnya
(wid)
Lihat Juga :