Kisah Sahabat Nabi : Debat Sengit Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab Tentang Pembangkang Bayar Zakat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 16:52 WIB
loading...
Kisah Sahabat Nabi :...
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berbeda pendapat dengan Umar bi Khattab dan para sahabat lainnya tatkala dirinya tetap bersikeras memerangi mereka yang menolak membayar zakat. Foto ilustrasi/ist
A A A
Kisah dua sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam ini menarik untuk disimak. Kisah tentang perdebatan terhadap para pembangkang bayar zakat . Berikut kisahnya:

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berbeda pendapat dengan Umar bi Khattab dan para sahabat lainnya tatkala dirinya tetap bersikeras memerangi mereka yang menolak membayar zakat . "Demi Allah, orang yang keberatan menunaikan zakat kepadaku, yang dulu mereka lakukan kepada Rasulullah, akan kuperangi," ujar Abu Bakar.

Penolakan membayar zakat ini terjadi setelah Rasulullah SAW wafat. Kala itu, orang-orang Arab di luaran memberontak terhadap kekuasaan Madinah. Pemberontakan di Yaman makin berkobar meski Aswad, sang nabi palsu, sudah terbunuh. Musailamah dari Banu Hanifah dan Tulaihah dari Banu Asad kemudian mulai gencar pula mendakwakan diri sebagai nabi dan mengajak orang supaya mempercayai kenabian mereka.



Muhammad Husain Haikal dalam bukunya berjudl "As-Siddiq Abu Bakr" menceritakan tatkala Abu Bakar baru saja memangku jabatan Khalifah , sejumlah utusan dari berbagai daerah datang melaporkan berita yang lebih gawat lagi dari itu. Khalifah Abu Bakar belum mau bertindak sebelum dirinya memperoleh data yang lebih rinci mengenai pembangkangan tersebut.

Baca juga: Hukum Bayar Zakat Fitrah untuk Ibu Hamil dan Janinnya, Simak Penjelasannya di Sini!

Tak lama kemudian datang surat-surat dari para kuasa Nabi di berbagai daerah di Semenanjung itu tentang adanya pembangkangan yang sifatnya umum atau sendiri-sendiri.

Surat-surat itu juga menyebutkan orang-orang yang masih bertahan dengan keislamannya mulai diganggu para pembangkang. Bahkan di tempat-tempat sekitar Khalifah Abu Bakar api juga mulai berkobar. Hal ini perlu diatasi, yang sejak dibebaskannya Mekkah dan masuknya Ta'if ke dalam Islam belum pernah terjadi hal serupa itu.

Selain murtad, mereka yang masih bertahan dengan Islam tak mau membayar zakat kepada Abu Bakar.

Haekal mengatakan keengganan membayar zakat itu baik karena kikir dan kelihaian mereka seperti kelihaiannya dalam mencari dan menyimpan uang, dan pergi kian ke mari sampai mengorbankan hidupnya demi memperolehnya. Ada yang yang beranggapan bahwa pembayaran zakat sebagai upeti yang sudah tak berlaku lagi sesudah Rasulullah tiada. Zakat, menurut hemat mereka, boleh dibayarkan kepada siapa saja yang mereka pilih sendiri sebagai pemimpinnya di Madinah.

Mereka mogok tak mau membayar zakat dengan menyatakan bahwa dalam hal ini mereka tidak tunduk kepada Abu Bakar.

Demikian yang terjadi dengan kabilah-kabilah yang dekat dengan Madinah, terutama kabilah Abs dan Zubyan.

Apa kiranya yang harus dilakukan kaum Muslimin terhadap mereka? Pada saat kondisi runyam begitu, Khalifah Abu Bakar serba sulit. Soalnya, pada saat yang bersamaan, para pasukan muslim di bawah pimpinan Usamah berada di perbatasan Romawi. Tak ada lagi pasukan untuk mempertahankan Madinah.

Umar bin Khattab menyarankan kepada Khalifah Abu Bakar agar dilakukan rapat dengan menghadirkan para sahabat besar. Rapat tersebut guna meminta saran dalam memerangi mereka yang tak mau menunaikan zakat.

Umar bin Khattab dan beberapa orang sahabat berpendapat untuk tidak memerangi umat yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Umar, lebih baik meminta bantuan mereka dalam menghadapi musuh bersama. Sebagian besar yang hadir dalam rapat sependapat dengan Umar bin Khattab. Sedangkan yang menghendaki jalan kekerasan hanya sebagian kecil saja.

Perdebatan masalah ini lumayan sengit. Para sahabat saling berlawanan dan berkepanjangan. Abu Bakar terpaksa melibatkan diri mendukung golongan minoritas itu.

Khalifah Abu Bakar kekeuh mempertahankan pendiriannya itu. "Demi Allah, orang yang keberatan menunaikan zakat kepadaku, yang dulu mereka lakukan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, akan kuperangi," tandasnya.

Tanpa mengurangi penghargaannya atas apa yang dikatakan Abu Bakar itu, Umar khawatir sekali bahwa jalan kekerasan demikian akibatnya akan sangat berbahaya buat kaum muslimin.

"Bagaimana kita akan memerangi orang yang kata Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. 'Aku diperintah memerangi orang sampai mereka berkata: Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul-nya. Barang siapa berkata demikian darah dan hartanya terjamin, kecuali dengan alasan, dan masalahnya kembali kepada Allah,” ujar Umar menjawab pernyataan Khalifah Abu Bakar tak kalah kerasnya.

Tanpa ragu Abu Bakar langsung menjawab Umar: "Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan sholat dengan zakat. Zakat adalah harta.” Dikatakan: "kecuali dengan alasan."

Dalam menyimpulkan pembicaraan itu sumber-sumber menyebutkan bahwa Umar kemudian berkata: "Demi Allah, tiada lain yang harus kukatakan, semoga Allah melapangkan dada Abu Bakar dalam berperang. Aku tahu dia benar."

Peristiwa ini mengingatkan kita pada apa yang pernah terjadi antara Rasulullah dengan delegasi Saqif yang datang dari Ta'if, bahwa mereka menyatakan bersedia masuk Islam dengan permintaan agar dibebaskan dari kewajiban salat. Waktu itu Nabi Muhammad SAW menolak permintaan mereka dengan mengatakan: "Tidak baik agama yang tidak disertai salat."

Barangkali itu juga yang dimaksudkan oleh Khalifah Abu Bakar ketika berkata: "Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan salat dengan zakat."

Kabilah-kabilah Abs dan Zubyan serta Banu Kinanah; Gatafan dan Fazarah yang bergabung dengan mereka mengirim beberapa orang. Mereka mengambil tempat tidak jauh dari Madinah. Orang-orang itu kemudian terbagi ke dalam dua kelompok: satu kelompok mengambil tempat di Abraq di bilangan Rabazah, dan yang lain di Zul-Qassah, tempat terdekat dari Madinah di jalan menuju ke Najd.

Para pemimpin kelompok-kelompok itu kemudian mengutus delegasi ke Madinah. Mereka menuju ke rumah orang-orang terkemuka dan meminta kepercayaan Khalifah Abu Bakar bahwa mereka akan menjalankan salat tetapi tidak akan memberikan zakat.

Jawab Abu Bakar seperti yang sudah kita lihat: "Demi Allah, orang yang keberatan menunaikan zakat kepadaku, akan kuperangi."

Baca juga: Golongan Wanita yang Wajib Bayar Fidyah Puasa Ramadan
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Doa Umar bin Khattab...
Doa Umar bin Khattab agar Bisa Meninggal di Tanah Suci
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Mentadaburi Al Quran...
Mentadaburi Al Quran Lebih Utama dari Berdoa, Begini Penjelasannya
Kisah Khalifah Umar...
Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
Khotbah Jumat : Ciri-ciri...
Khotbah Jumat : Ciri-ciri Orang Sukses pada Bulan Ramadan
Rekomendasi
Lebih Dulu Zigot atau...
Lebih Dulu Zigot atau Embrio? Perspektif Al-Quran dan Sains Modern
5 Fakta Menarik Danau...
5 Fakta Menarik Danau Chippewa di AS, Ada Pulau Terapung yang Bisa Bergerak
Terumbu Karang Mediterania...
Terumbu Karang Mediterania Terbesar di Kroasia Terancam oleh Pemanasan Global
Artikel Terkini
Rahasia Keutamaan Puasa...
Rahasia Keutamaan Puasa Asyura, Ibadah Sunnah yang Sangat Dianjurkan Rasulullah SAW
Khotbah Jumat Pertama...
Khotbah Jumat Pertama Muharram : Ada Apa dengan Hari Asyura?
Kisah Tobat Nabi Adam...
Kisah Tobat Nabi Adam Diterima Allah pada 10 Muharram, Setelah 300 Tahun Memohon Ampunan
Ini Amalan Terbaik bagi...
Ini Amalan Terbaik bagi Wanita Haid dan Nifas di Bulan Muharram
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Di Hari Asyura, Nabi Idris AS Diangkat ke Langit
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Sakral bagi Syiah? Jejak Berdarah Tragedi Karbala
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved