Keutamaan Berhijrah di Jalan Allah dan Meninggalkan Maksiat

loading...
Keutamaan Berhijrah di Jalan Allah dan Meninggalkan Maksiat
Hijrah dalam rangka meninggalkan kemungkaran menuju ketaatan kepada Allah memiliki keutamaan besar. Foto/SINDOnews
Kata hijrah (berpindah) sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau mengucapkan "Inni Muhajirun Ila Robbi" (saya berhijrah kepada Allah). Kemudian di zaman Nabi صلى الله عليه وسلم, hijrah mulai populer saat Sayyidina Ustman bin Affan radhiallahu'anhu diizinkan oleh Nabi untuk hijrah (berpindah) ke Habasyah.

Ketika Nabi Ibrahim berhijrah dari Hiraan ke Syam diabadikan dalam ayat yang berbunyi: "Wa qaala inni muhajirun ila Robbi innahu huwal 'aziizul hakiim". Yang artinya: "Dan berkata Ibrahim, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-'Ankabut Ayat 26). [Baca Juga: Hijrah, Pilar Peradaban Modern (1)]

Ulama besar ahli fiqih dan hadis kelahiran Uzbekistan, Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H) dalam Kitab Tanbihul Ghafilin mengungkapkan keutamaan hijrah di jalan Allah. Hijrah dalam rangka meninggalkan kemungkaran menuju ketaatan memiliki keutamaan besar. Salah satu keutamaannya dijelaskan dalam Al-Qur'an:

وَ مَنۡ یُّہَاجِرۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یَجِدۡ فِی الۡاَرۡضِ مُرٰغَمًا کَثِیۡرًا وَّ سَعَۃً ؕ وَ مَنۡ یَّخۡرُجۡ مِنۡۢ بَیۡتِہٖ مُہَاجِرًا اِلَی اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ یُدۡرِکۡہُ الۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ اَجۡرُہٗ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمً



"Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nisaa' [4]: 100) (Baca juga :Gelar-gelar bagi Perempuan yang Menjaga Kemaluannya)

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sendiri melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Maka siapa yang di daerahnya penuh maksiat lalu hijrah (keluar) untuk mencari keridhaan Allah maka ia telah mengikuti jejak Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. (Baca Juga: Hidayah Hijrah, Anugerah Terindah Dari Allah)

Imam Abu Laits menukil salah satu sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: "Tiap-tiap muslim yang keluar dari rumahnya berhijrah menuju taat dan keridhoaan Allah dan Rasul-Nya, lalu meletakkan kakinya di atas kendaraannya walau baru berjalan selangkah kemudian mati, maka Allah akan memberi pahala orang-orang yang berhijrah. Dan tiap-tiap orang muslim keluar dari rumahnya untuk berperang jihad fisabilillah, mendadak terinjak oleh kendaraannya atau tergigit oleh binatang berbisa sebelum perang atau mati bagaimanapun keadaannya, maka ia mati syahid. Dan tiap orang muslim yang keluar dari rumahnya menuju ke Baitillahil Haram (berbuat haji) kemudian mati sebelum sampai, maka Allah akan mewajibkan baginya surga."



Imam Abu Laitsberkata: "Dan siapa tidak hijrah dari daerahnya sedang ia sanggup menunaikan ibadah kepada Allah maka tidak apa-apa asalkan ia membenci maksiat yang terjadi di sekitarnya, maka ia dimaafkan." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Cukup bagi seorang yang melihat mungkar dan ia tidak dapat mengubahnya, asalkan Allah mengetahui dalam hatinya bahwa ia tidak suka pada kemungkaran itu."
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَالَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُمۡ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُوۡنَ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju kebinasaan, dengan cara yang tidak mereka ketahui.

(QS. Al-A’raf:182)
cover bottom ayah
preload video