10 Muharram dan Kematian Firaun: Akhir Sang Raja yang Mengaku Tuhan
Rabu, 24 Juni 2026 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Rakyat akhirnya ditindas oleh Firaun, yang sudah mulai menganggap dirinya tidak pernah bersalah.
Ketika Musa, sesudah menerima wahyu, menyatakan kepada Fir'aun, bahwa tuhan satu-satunya yang benar dan paling berkuasa ialah Allah Pencipta seluruh alam, maka Fir'aun dengan bangganya menjawab: "Aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya tuhan selain diriku." ( QS 28 :38).
Kini telah ditemukan mumi Firaun dalam kondisi mulutnya menganga. Tentang Firaun yang mana yang ditemukan itu, Ali Akbar dalam buku berjudul "Arkeologi Al-Qur'an" (2020) menguraikan, para peneliti sejauh ini telah mengerucutkan kesimpulan pada dua nama, yakni Firaun Ramses II dan anaknya, Firaun Merneptah.
Menurutnya, yang pertama memerintah hingga tahun 1212 SM. Mumi atau jasadnya telah diteliti banyak ahli, termasuk Dr Maurice Bucaille, seorang ahli bedah asal Prancis, pada 1975-1976.
Firaun manapun yang dimaksud, menurut Ali, pada intinya Nabi Musa as diperkirakan hidup sekitar tahun 1212 SM. Ia sendiri berkeyakinan, Firaun yang memelihara dan membesarkan Nabi Musa diistananya ialah Ramses II.
Muhammad Imaduddin Abdulrahim (1931-2008) dalam buku "Kuliah Tauhid" yang diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB (1980) memaparkan pada hakikatnya Firaun bukan tidak percaya akan adanya Allah Maha Pencipta langit dan bumi. Ia hanya terjangkit penyakit yang sengaja ditularkan oleh iblis, yaitu sombong atau bangga akan keturunan.
Firaun sebenarnya percaya akan adanya Allah Maha Pencipta, tapi di samping itu ia ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang (ilah) bagi negeri dan rakyat Mesir.
Oleh karena itu, konsep Tauhid yang ditawarkan Musa demi menegakkan kembali hak asasi manusia bagi kaum Yahudi ini telah dicemoohkan Firaun dan ditolaknya mentah-mentah.
Baca juga: Kisah Bulan Muharram : Nabi Yunus AS 40 Hari di Perut Ikan, dan Pelajaran tentang Kesabaran
Ketika Musa, sesudah menerima wahyu, menyatakan kepada Fir'aun, bahwa tuhan satu-satunya yang benar dan paling berkuasa ialah Allah Pencipta seluruh alam, maka Fir'aun dengan bangganya menjawab: "Aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya tuhan selain diriku." ( QS 28 :38).
Kini telah ditemukan mumi Firaun dalam kondisi mulutnya menganga. Tentang Firaun yang mana yang ditemukan itu, Ali Akbar dalam buku berjudul "Arkeologi Al-Qur'an" (2020) menguraikan, para peneliti sejauh ini telah mengerucutkan kesimpulan pada dua nama, yakni Firaun Ramses II dan anaknya, Firaun Merneptah.
Menurutnya, yang pertama memerintah hingga tahun 1212 SM. Mumi atau jasadnya telah diteliti banyak ahli, termasuk Dr Maurice Bucaille, seorang ahli bedah asal Prancis, pada 1975-1976.
Firaun manapun yang dimaksud, menurut Ali, pada intinya Nabi Musa as diperkirakan hidup sekitar tahun 1212 SM. Ia sendiri berkeyakinan, Firaun yang memelihara dan membesarkan Nabi Musa diistananya ialah Ramses II.
Muhammad Imaduddin Abdulrahim (1931-2008) dalam buku "Kuliah Tauhid" yang diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB (1980) memaparkan pada hakikatnya Firaun bukan tidak percaya akan adanya Allah Maha Pencipta langit dan bumi. Ia hanya terjangkit penyakit yang sengaja ditularkan oleh iblis, yaitu sombong atau bangga akan keturunan.
Firaun sebenarnya percaya akan adanya Allah Maha Pencipta, tapi di samping itu ia ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang (ilah) bagi negeri dan rakyat Mesir.
Oleh karena itu, konsep Tauhid yang ditawarkan Musa demi menegakkan kembali hak asasi manusia bagi kaum Yahudi ini telah dicemoohkan Firaun dan ditolaknya mentah-mentah.
Baca juga: Kisah Bulan Muharram : Nabi Yunus AS 40 Hari di Perut Ikan, dan Pelajaran tentang Kesabaran
(wid)
Lihat Juga :