Wajah Islam di Piala Dunia: Ketika Timnas Maroko Berdakwah Lewat Akhlak
Kamis, 02 Juli 2026 - 11:15 WIB
loading...
Para pemain bola Timnas Maroko selalu mendatangi ibunya yang berada di tribun usai mereka memenangkan pertandingan, termasuk saat bertanding di Piala Dunia 2026 ini. Foto istimewa
A
A
A
Banyak yang berpendapat bahwa sepak bola seharusnya tidak dikaitkan dengan agama. Namun, ada satu hal yang sulit dipungkiri dari penampilan Timnas Maroko di Piala Dunia 2026 . Bukan semata soal kemenangan di lapangan, melainkan bagaimana para pemainnya memperlihatkan nilai-nilai Islam di hadapan jutaan pasang mata di seluruh dunia.
Ulama muda Al-Azhar, Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari, pernah mengingatkan bahwa setiap Muslim sejatinya adalah representasi agamanya. "Setiap dari kita adalah gambaran yang mengilustrasikan agama yang mulia ini di mata dunia. Maka setiap dari kita harus memperhatikan bagaimana manusia melihat agama ini melalui dirinya" ungkap Syekh Usamah.
Pesan tersebut terasa nyata dalam perjalanan T imnas Maroko . Sadar ataupun tidak, para pemain Atlas Lions menjadi wajah Islam yang disaksikan dunia. Bukan melalui pidato atau ceramah, melainkan melalui akhlak, sikap, dan perilaku mereka.
Salah satu pemandangan yang paling menyita perhatian publik dunia adalah kedekatan para pemain Maroko dengan orang tua mereka, terutama sang ibu. Seusai pertandingan, sejumlah pemain tampak memeluk, mencium, bahkan mengajak ibu mereka merayakan kemenangan di tengah lapangan.
Baca juga: Maroko Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, Ternyata Negeri Ini Melahirkan 6 Tarekat Besar Dunia
Pemandangan tersebut menjadi sorotan media internasional. Seorang komentator bola asal Jerman bahkan menyebut momen itu sebagai sesuatu yang mulai langka ditemukan di masyarakat Barat.
Ia menilai ikatan keluarga di banyak negara Eropa semakin memudar. Menurutnya, para pemain Maroko justru menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki peran besar dalam kesuksesan mereka. Ia bahkan berharap suatu hari nanti pemain-pemain negaranya juga dapat memperlihatkan penghormatan kepada ayah dan ibu sebagaimana dilakukan para pemain Maroko.
Salah seorang pemain bahkan mengatakan, "Jika Anda bersama Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin." ungkapan ini berseliweran di jagat medsos, beberapa hari ini.
Ucapan tersebut bukan sekadar kalimat motivasi. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan seorang mukmin bahwa kemenangan maupun kekalahan berada dalam ketentuan Allah SWT setelah manusia berusaha sebaik-baiknya.
Sikap seperti ini menjadi sesuatu yang menarik di tengah budaya modern yang sering kali mengagungkan kemampuan diri sendiri. Tidak sedikit orang baru mengingat Tuhan ketika mengalami kegagalan, tetapi melupakan-Nya saat memperoleh keberhasilan.
Padahal Al-Qur'an telah menggambarkan karakter manusia seperti itu dalam beberapa ayat, di antaranya Surah Yunus ayat 12, Ar-Rum ayat 33, Fussilat ayat 51, dan Al-Ma'arij ayat 21.
Karena itu, ketika para pemain Maroko secara terbuka mengaitkan keberhasilan mereka dengan pertolongan Allah dalam wawancara yang disaksikan jutaan orang, sesungguhnya mereka sedang memperlihatkan salah satu wajah Islam kepada dunia.
Salah satu sosok yang kerap menjadi perhatian adalah Hakim Ziyech. Pemain yang pernah membela Chelsea tersebut dikenal tetap mempertahankan identitas keislamannya meski berkarier di lingkungan yang mayoritas non-Muslim.
Ziyech juga dikenal memiliki kedekatan yang sangat erat dengan sang ibu. Ketika dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Belanda musim 2017/2018, ia memilih menghadirkan ibunya ke atas panggung sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan doa yang selalu menyertainya.
Tak hanya Ziyech, nama-nama seperti Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, Yassine Bounou, Zakaria Aboukhlal, Sofiane Boufal, hingga Azzedine Ounahi juga menjadi sorotan karena akhlak dan kesederhanaan mereka di luar lapangan.
Perjalanan Timnas Maroko di Piala Dunia akhirnya tidak hanya dikenang karena prestasi sepak bolanya. Lebih dari itu, mereka berhasil memperlihatkan bahwa Islam dapat dikenalkan melalui perilaku yang santun, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.
Di tengah sorotan dunia, para pemain Maroko seolah membuktikan bahwa dakwah tidak selalu disampaikan melalui mimbar. Akhlak yang baik dan keteladanan justru sering kali menjadi bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapa pun.
Baca juga: Sujud Syukur Tidak Boleh Sembarangan, Ini Syarat dan Tata Caranya Menurut Ulama
Ulama muda Al-Azhar, Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari, pernah mengingatkan bahwa setiap Muslim sejatinya adalah representasi agamanya. "Setiap dari kita adalah gambaran yang mengilustrasikan agama yang mulia ini di mata dunia. Maka setiap dari kita harus memperhatikan bagaimana manusia melihat agama ini melalui dirinya" ungkap Syekh Usamah.
Pesan tersebut terasa nyata dalam perjalanan T imnas Maroko . Sadar ataupun tidak, para pemain Atlas Lions menjadi wajah Islam yang disaksikan dunia. Bukan melalui pidato atau ceramah, melainkan melalui akhlak, sikap, dan perilaku mereka.
Salah satu pemandangan yang paling menyita perhatian publik dunia adalah kedekatan para pemain Maroko dengan orang tua mereka, terutama sang ibu. Seusai pertandingan, sejumlah pemain tampak memeluk, mencium, bahkan mengajak ibu mereka merayakan kemenangan di tengah lapangan.
Baca juga: Maroko Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, Ternyata Negeri Ini Melahirkan 6 Tarekat Besar Dunia
Pemandangan tersebut menjadi sorotan media internasional. Seorang komentator bola asal Jerman bahkan menyebut momen itu sebagai sesuatu yang mulai langka ditemukan di masyarakat Barat.
Ia menilai ikatan keluarga di banyak negara Eropa semakin memudar. Menurutnya, para pemain Maroko justru menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki peran besar dalam kesuksesan mereka. Ia bahkan berharap suatu hari nanti pemain-pemain negaranya juga dapat memperlihatkan penghormatan kepada ayah dan ibu sebagaimana dilakukan para pemain Maroko.
Optimisme kepada Allah
Nilai lain yang mencuri perhatian adalah keyakinan para pemain Maroko kepada Allah SWT. Dalam berbagai wawancara, mereka tidak ragu menyebut bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata hasil kerja keras manusia, tetapi juga pertolongan Allah.Salah seorang pemain bahkan mengatakan, "Jika Anda bersama Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin." ungkapan ini berseliweran di jagat medsos, beberapa hari ini.
Ucapan tersebut bukan sekadar kalimat motivasi. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan seorang mukmin bahwa kemenangan maupun kekalahan berada dalam ketentuan Allah SWT setelah manusia berusaha sebaik-baiknya.
Sikap seperti ini menjadi sesuatu yang menarik di tengah budaya modern yang sering kali mengagungkan kemampuan diri sendiri. Tidak sedikit orang baru mengingat Tuhan ketika mengalami kegagalan, tetapi melupakan-Nya saat memperoleh keberhasilan.
Padahal Al-Qur'an telah menggambarkan karakter manusia seperti itu dalam beberapa ayat, di antaranya Surah Yunus ayat 12, Ar-Rum ayat 33, Fussilat ayat 51, dan Al-Ma'arij ayat 21.
Karena itu, ketika para pemain Maroko secara terbuka mengaitkan keberhasilan mereka dengan pertolongan Allah dalam wawancara yang disaksikan jutaan orang, sesungguhnya mereka sedang memperlihatkan salah satu wajah Islam kepada dunia.
Berdakwah Melalui Akhlak
Citra Islam juga tampak melalui kehidupan pribadi sejumlah pemain Maroko. Banyak di antara mereka dikenal sebagai Muslim yang taat menjalankan ibadah, menjaga hubungan dengan keluarga, serta memiliki kepedulian sosial.Salah satu sosok yang kerap menjadi perhatian adalah Hakim Ziyech. Pemain yang pernah membela Chelsea tersebut dikenal tetap mempertahankan identitas keislamannya meski berkarier di lingkungan yang mayoritas non-Muslim.
Ziyech juga dikenal memiliki kedekatan yang sangat erat dengan sang ibu. Ketika dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Belanda musim 2017/2018, ia memilih menghadirkan ibunya ke atas panggung sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan doa yang selalu menyertainya.
Tak hanya Ziyech, nama-nama seperti Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, Yassine Bounou, Zakaria Aboukhlal, Sofiane Boufal, hingga Azzedine Ounahi juga menjadi sorotan karena akhlak dan kesederhanaan mereka di luar lapangan.
Perjalanan Timnas Maroko di Piala Dunia akhirnya tidak hanya dikenang karena prestasi sepak bolanya. Lebih dari itu, mereka berhasil memperlihatkan bahwa Islam dapat dikenalkan melalui perilaku yang santun, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.
Di tengah sorotan dunia, para pemain Maroko seolah membuktikan bahwa dakwah tidak selalu disampaikan melalui mimbar. Akhlak yang baik dan keteladanan justru sering kali menjadi bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapa pun.
Baca juga: Sujud Syukur Tidak Boleh Sembarangan, Ini Syarat dan Tata Caranya Menurut Ulama
(wid)
Lihat Juga :