Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Jum'at, 10 Juli 2026 - 15:52 WIB
loading...
Awalnya, Qarun adalah orang yang saleh dan dijuluki Al-Munawwir karena suaranya bagus saat membaca kitab Taurat , tetapi setelah diberi harta berlimpah ia menjadi munafik dan serakah, hingga akhirnya Allah tenggelamkan ke bumi. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah Qarun ini dalam Al-Quran dapat ditemukan pada surat Al-Qashash ayat 76-83. Kisah yang banyak memberi pelajaran tentang harta dan kekayaan.
Dikisahkan bahwa Qarun adalah saudagar paling tajir di era Nabi Musa alaihissalam. Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu mengatakan Qarun anak paman Nabi Musa. Jadi sepupu. Nasabnya, menurut Ibnu Juraij, Qarun ibnu Yas-hub ibnu Qahis. Sedangkan nasab Nabi Musa, dalah Ibnu Imran ibnu Qahis.
Pada awalnya, Qarun adalah orang yang saleh. Ia berjuluk Al-Munawwir karena suaranya yang bagus saat membaca kitab Taurat . Begitu mendapatkan harta kekayaan yang banyak ia menjadi musuh Allah lagi munafik. Keserakahan dirinyalah yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan karena hartanya yang terlalu banyak. Kisah Qarun dalam Al-Quran berakhir tragis, karena ia beserta seluruh hartanya tersebut ditenggelamkan oleh Allah SWT akibat kesombongan.
Jauh sebelum kekayaan Qarun melimpah ruah, sebenarnya ia hanyalah seorang lelaki miskin yang tidak mampu menafkahi keluarganya. Bosan dengan keadaan tersebut, lalu Qarun meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar Allah SWT memberikan harta benda yang banyak.
Nabi Musa menyetujuinya tanpa ragu karena dia tahu bahwa Qarun adalah seorang yang sangat saleh dan pengikut ajaran Ibrahim yang sangat baik. Allah pun mengabulkan doa nabi Musa. Akhirnya, Qarun kemudian memiliki ribuan gudang harta yang penuh berisikan emas dan perak.
Baca juga: Bahaya Harta : Ketika Kekayaan Membuat Manusia Lalai dan Durhaka
Dikisahkan bahwa setiap keluar rumah ia selalu berpakaian mewah didampingi oleh 600 orang pelayan terdiri atas 300 laki-laki dan 300 lagi pelayan perempuan. Bukan hanya itu, ia juga dikelilingi oleh 4.000 pengawal dan diiringi 4.000 binatang ternak yang sehat, plus 60 ekor unta yang membawa kunci-kunci gudang kekayaannya.
Qarun yang kaya berubah. Ia melupakan tujuan kekayaannya untuk beribadah. Ia malah ingkar terhadap segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Menurutnya, semua harta adalah buah dari kerja kerasnya, bukan anugerah Allah SWT.
Kedurhakaan Qarun kian menjadi-jadi manakala ia menghamburkan hartanya untuk kepentingan duniawi semata. Ia banyak mempergunakan hartanya dalam kesesatan, kezaliman, dan permusuhan, sehingga membuatnya menjadi orang yang sombong, mabuk dan terlena dengan itu semua. Ia juga mendurhakai Allah dan memilih untuk menyembah Sobek, dewa berkepala buaya serta dewa-dewa lainnya.
”Dan (juga) Qarun, Fir‘aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).”
Suatu hari, nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan Zakat. Nabi Musa lalu mengutus salah seorang pengikutnya untuk mengambil zakat dari Qarun. Begitu sampai, Qarun langsung marah dan tidak mau memberikan sedikit pun dari kekayaannya. Karena menurut Qarun, kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapa pun, tidak ada kaitan dengan Allah, atau dewa mana pun.
Qarun sangat tidak suka dinasihati dan diminta untuk berzakat oleh nabi Musa. Karena itu, ia berusaha merusak dan menghancurkan citra Nabi Musa. Suatu ketika, ia pernah menyewa seorang perempuan untuk menuduh Nabi Musa telah melakukan hal yang tidak senonoh. Mendengar hal itu, Nabi Musa sangat sedih dan terpukul, beliau lalu salat dua rakaat dan meluruskan segala tuduhan termasuk mengingatkan si perempuan.
Kedurhakaan Qarun mencapai puncaknya ketika ia merasa lebih baik dan lebih terhormat dari seluruh manusia, termasuk Nabi Musa as. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan nasihat kebenaran dari siapapun. Bahkan, ia tidak merasa butuh dengan apa pun, termasuk ampunan dan ancaman Allah SWT. Baginya, seluruh harta miliknya sudah cukup untuk melakukan segala hal.
Akibat kesombongan Qarun tersebut, ia kemudian diazab oleh Allah SWT dengan cara ditenggelamkan ke dalam perut bumi beserta seluruh harta yang selama ini dibanggakannya.
Baca juga: Kapan Harta Menjadi Tercela? Ini Sikap yang Menyebabkannya
Dikisahkan bahwa Qarun adalah saudagar paling tajir di era Nabi Musa alaihissalam. Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu mengatakan Qarun anak paman Nabi Musa. Jadi sepupu. Nasabnya, menurut Ibnu Juraij, Qarun ibnu Yas-hub ibnu Qahis. Sedangkan nasab Nabi Musa, dalah Ibnu Imran ibnu Qahis.
Pada awalnya, Qarun adalah orang yang saleh. Ia berjuluk Al-Munawwir karena suaranya yang bagus saat membaca kitab Taurat . Begitu mendapatkan harta kekayaan yang banyak ia menjadi musuh Allah lagi munafik. Keserakahan dirinyalah yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan karena hartanya yang terlalu banyak. Kisah Qarun dalam Al-Quran berakhir tragis, karena ia beserta seluruh hartanya tersebut ditenggelamkan oleh Allah SWT akibat kesombongan.
Jauh sebelum kekayaan Qarun melimpah ruah, sebenarnya ia hanyalah seorang lelaki miskin yang tidak mampu menafkahi keluarganya. Bosan dengan keadaan tersebut, lalu Qarun meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar Allah SWT memberikan harta benda yang banyak.
Nabi Musa menyetujuinya tanpa ragu karena dia tahu bahwa Qarun adalah seorang yang sangat saleh dan pengikut ajaran Ibrahim yang sangat baik. Allah pun mengabulkan doa nabi Musa. Akhirnya, Qarun kemudian memiliki ribuan gudang harta yang penuh berisikan emas dan perak.
Baca juga: Bahaya Harta : Ketika Kekayaan Membuat Manusia Lalai dan Durhaka
Dikisahkan bahwa setiap keluar rumah ia selalu berpakaian mewah didampingi oleh 600 orang pelayan terdiri atas 300 laki-laki dan 300 lagi pelayan perempuan. Bukan hanya itu, ia juga dikelilingi oleh 4.000 pengawal dan diiringi 4.000 binatang ternak yang sehat, plus 60 ekor unta yang membawa kunci-kunci gudang kekayaannya.
Qarun yang kaya berubah. Ia melupakan tujuan kekayaannya untuk beribadah. Ia malah ingkar terhadap segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Menurutnya, semua harta adalah buah dari kerja kerasnya, bukan anugerah Allah SWT.
Kedurhakaan Qarun kian menjadi-jadi manakala ia menghamburkan hartanya untuk kepentingan duniawi semata. Ia banyak mempergunakan hartanya dalam kesesatan, kezaliman, dan permusuhan, sehingga membuatnya menjadi orang yang sombong, mabuk dan terlena dengan itu semua. Ia juga mendurhakai Allah dan memilih untuk menyembah Sobek, dewa berkepala buaya serta dewa-dewa lainnya.
Durhaka dan Berkhianat
Tak hanya durhaka pada Allah, dia pun kemudian mengkhianati nabi Musa. Al-Quran menyejajarkan pengkhianatan Qarun dengan penolakan Firaun, Ramses II, atas ajaran tauhid yang dibawa Musa. Ini disebut dalam surah al-Ankabut ayat 39:وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ
”Dan (juga) Qarun, Fir‘aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).”
Suatu hari, nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan Zakat. Nabi Musa lalu mengutus salah seorang pengikutnya untuk mengambil zakat dari Qarun. Begitu sampai, Qarun langsung marah dan tidak mau memberikan sedikit pun dari kekayaannya. Karena menurut Qarun, kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapa pun, tidak ada kaitan dengan Allah, atau dewa mana pun.
Qarun sangat tidak suka dinasihati dan diminta untuk berzakat oleh nabi Musa. Karena itu, ia berusaha merusak dan menghancurkan citra Nabi Musa. Suatu ketika, ia pernah menyewa seorang perempuan untuk menuduh Nabi Musa telah melakukan hal yang tidak senonoh. Mendengar hal itu, Nabi Musa sangat sedih dan terpukul, beliau lalu salat dua rakaat dan meluruskan segala tuduhan termasuk mengingatkan si perempuan.
Kedurhakaan Qarun mencapai puncaknya ketika ia merasa lebih baik dan lebih terhormat dari seluruh manusia, termasuk Nabi Musa as. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan nasihat kebenaran dari siapapun. Bahkan, ia tidak merasa butuh dengan apa pun, termasuk ampunan dan ancaman Allah SWT. Baginya, seluruh harta miliknya sudah cukup untuk melakukan segala hal.
Akibat kesombongan Qarun tersebut, ia kemudian diazab oleh Allah SWT dengan cara ditenggelamkan ke dalam perut bumi beserta seluruh harta yang selama ini dibanggakannya.
Baca juga: Kapan Harta Menjadi Tercela? Ini Sikap yang Menyebabkannya
(wid)
Lihat Juga :